25 November 2020

Gadis Ini Diputusin Pacar Gegara Pakai Gamis, Gimana Nasibnya?

 

https://today.line.m


Seorang gadis curhat di media sosial. Dia diputusin pacarnya. Gegara keseringan pakai gamis. Si pacar ngaku malu ngajak si gadis jalan, kayak ibu – ibu katanya. Awalnya hanya ancaman putus. Tapi si gadis ngotot mempertahankan style pakaian yang disukainya. Alhasil vonis jatuh. Putus.

Eh ternyata si gadis nggak sedih loh. Dia bilang nggak masalah diputusin pacarnya. Dia lebih sayang dirinya daripada si cowok katanya. Si gadis merasa lebih nyaman pakai gamis ketimbang celana panjang seperti keinginan si pacar.

Legislasi Demokrasi Gol-kan Larangan Minol, Percaya?

 

https://antimiras.com/


Sudah maklum dikalangan umat Islam mengenai keharaman minuman memabukkan (kharm). Sebagaimana mengertinya umat tentang keharaman memakan babi, kewajiban salat dan perkara lain yang tegas semacam itu. Ketika minuman keras bebas dijual di pasaran, umat Islam yang peduli pada syariah pasti resah. Ditambah lagi efek buruk peredaran minuman keras (miras), sejak lama sudah dirasakan masyarakat. Tempat – tempat maksiat marak. Lalu terjadi berbagai tindak kriminalitas yang dipicu oleh miras.

24 November 2020

Parade Buku Demokrasi


Aksi Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan memang kerap menarik perhatian warga net. Tak terkecuali aksinya kali ini. Berpose duduk santai sambil membaca buku. Judul bukunya yang bikin ‘kegaduhan’, “How Democracies Die” (Bagaimana Demokrasi Mati).

Orang – orang yang berkepentingan dengan harta dan tahta membanggakan demokrasi. Mati – matian demokrasi berusaha dipertahankan. Padahal seperti yang disampaikan di buku karya Steven Levitsky dan Daniel Ziblatt ini, demokrasi berarti mati jika pelaksana sistem politik demokrasi melakukan empat hal. 

24 Oktober 2020

(Resensi Buku) Inspirasi Memperbaiki Cara Menggunakan Waktu

 

dok. pribadi


Judul buku               : Qimatuz Zaman ‘Indal ‘Ulama’

Judul Terjemahan     : Manajemen Waktu Para Ulama

Penulis                     : Syaikh Abdul Fatah

Penerbit                    : Maktab Al-Mathbu’at Al-Islamiyah

Penerjemah               : Abu Umar Basyir dkk.

Tahun terbit              : 2020

Cetakan                    : VI

Ketebalan                  : 212 hal

ISBN                         : 978-602-8975-33-9

Semboyan ‘hidup bagai air yang mengalir’, ‘menjalani hidup apa adanya’, menjadi umum dikenal dan dipraktekkan banyak orang zaman ini. Ini adalah zaman dimana banyak orang menjadi panjang angan-angan. Merasa masa muda berarti hidup masih panjang. Hidup harusnya dijalani dengan melakukan hal – hal menyenangkan. Sehingga hasilnya banyak orang menghambur – hamburkan harta paling berharga miliknya tanpa rasa sayang, hanya untuk santai. Harta itu bernama waktu.

21 Oktober 2020

Ngomongin Bisnis Ilegal Penjualan Sel Telur

 

https://m.merdeka.com/


Film India berjudul Gentleman (2020) mengingatkan saya kalau manusia adalah makhluk cerdas di antara makhluk Allah lainnya. Dengan akalnya manusia mampu mengembangkan sarana dan prasarana kehidupannya. Guna mempermudah ataupun mengatasi permasalahan kehidupan. Tapi satu pesan pentingnya, tanpa tuntunan agama, perkembangan ilmu dan teknologi bukan apa-apa. Tanpa pondasi agama, manusia hanya menjadikan kecanggihan sarana dan prasana kehidupan sekedar menikmati hidup di dunia. Tanpa didasari agama, kecerdasan manusia justru merusak sesama.

14 Oktober 2020

Antara Kecerdasan Dan Pilkada

 

sumber foto: wowbabel.com

Pilkada di tengah pandemi covid-19, masyarakat harus cerdas. Harus bisa memahami teknis pemilihan, independen dalam memilih dan partisipatif mengawasi proses pilkada. Demikian inti dari sosialisasi pengawasan oleh Ketua Pengawasan Kecamatan (Panwascam) Medan Kota, Adi Syahputra Purba, kepada masyarakat pertengahan september lalu.

Seruan kepada masyarakat untuk bersikap cerdas dalam menghadapi pilkada cukup menggelitik. Pasalnya pilihan pemerintah untuk tetap menyelenggarakan pilkada di tengah pandemi covid-19 justru dinilai banyak kalangan menjadi pilihan yang sangat tidak cerdas. Contohnya saja di wilayah tempat tinggal penulis, Kota Medan. Gerakan Nasional Pembela Fatwa Ulama (GNPF-Ulama) Sumatera Utara salah satu pihak yang mendesak penundaan Pilkada Kota Medan. (https://waspada.co.id/2020/09)

3 Oktober 2020

Cara Keluarga Ini Menghadapi Badai Keuangan

 

Ilustrasi: https://www.youtube.com/watch?v=FaD3QsnIjWo

Saya dapat cerita dari kajian Islam di Youtube, tentang seseorang yang dipanggil dengan Kang Sarif. Awalnya hidup Kang Sarif dan keluarga berjalan normal. Ia bekerja sebagai karyawan swasta sekaligus pengusaha. Isterinya pun ikut bekerja. Ekonomi keluarga terbilang stabil. Hingga suatu hari ada nasihat yang sampai kepada Kang Sarif. Haram terlibat riba. Timbul rasa takut dalam diri Kang Sarif kepada Allah swt. Lalu diputuskannya resign kerja. Berhenti pula melakoni bisnisnya.

Keputusan berani itu membuat keuangan keluarganya terguncang. Sebab ditambah lagi, bersamaan dengan itu sang isteri mengalami sakit sehingga harus resign pula dari pekerjaan. Keluarga Kang Sarif memulai kehidupan baru dengan keuangan minus, alias memiliki utang 3 milyar. Utang itu berkenaan dengan bisnisnya yang lalu. Sejumlah langkah praktis ia lakukan untuk bangkit. Mulai langkah filosofis hingga teknis. Secara filosofi beberapa hal ia lakukan.

21 September 2020

Kapitalisme Hancurkan Asa Anak Negeri


Dalam salah satu film india terlaris, 3 Idiots, terselip pesan yang mengingatkan kita akan watak kejam sistem kapitalis. Dalam film itu seorang rektor berpidato pada para mahasiswa baru di kampusnya, “Ingat, hidup ini perlombaan! Jika kau tak cekatan, kau akan kalah!”

Ucapan rektor itu mewakili benak kebanyakan orang yang dikuasai ide kapitalis. Kapitalisme mengajarkan tentang kebebasan berekonomi. Siapapun boleh saja bercita-cita tinggi. Boleh saja menghendaki pencapaian tinggi di dunia ini. Tapi itu semua harus diraih dengan kekuatanmu sendiri.

Bersainglah. Berlombalah. Bekerja keras-lah. Dapatkan kesempatan memperoleh pendidikan terbaik. Dengan kekuatan kecerdasanmu, atau dengan uangmu. Lakukan cara apapun. Agar diri berpeluang menjadi ahli atau setidaknya berstatus ahli. Hingga layak menduduki profesi dambaan hati.

31 Agustus 2020

Tren Poliandri Diungkap Pak Menteri

https://aceh.tribunnews.com/


Tren ASN melakukan poliandri yang diungkap Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi (Menteri PANRB), Tjahjo Kumolo cukup mengejutkanku. Tak berapa lama ingatanku kembali ke masa lalu. Beberapa tahun lalu temanku bercerita masalah keluarganya. Kakak iparnya yang seorang ASN diam diam menikah lagi dengan lelaki lain.

Abangnya sempat frustasi dan memutuskan bercerai. Harga diri pria itu tercabik-cabik. Kecewa bukan main. Padahal dia dan isterinya yang melakukan poliandri itu, sama-sama ASN. Hanya karena si istri mendapat kabar bakal dapat promosi jabatan, wibawa suaminya langsung turun di matanya. Berselingkuh hingga menikah siri pun dilakukannya.

17 Agustus 2020

Memaknai Nikmat Kemerdekaan


Kemerdekaan itu dari Allah SWT. Patut disyukuri. Dengan hati, ucapan dan laku diri.

Tapi ada yang ganjil di negeri ini. Merasa telah mengusir penjajah, tapi hukum pidananya masih dipakai.

Aku heran dengan negeri ini. Penjajah tak lagi menduduki negeri, tapi kekayaan alam kita masih bisa mereka kuasai.

Aku tak habis pikir dengan negeri ini. Katanya merdeka berarti lebih mudah hidup sejahtera. Tapi justru hidup makin sempit hari ini.

Aku geleng geleng kepala sama penduduk negeri ini. Katanya merdeka itu nikmat Allah SWT. Tapi ditawari syariah Islam kaffah malah ngeri.

Apakah cukup kemerdekaan ini hanya diisi dengan seremoni?

Apakah hiburan tak berarti seperti panjat pinang dan kawan kawannya tepat untuk memaknai kemerdekaan pemberian Ilahi?

Apakah kita mau terus menjadi bangsa yang mundur seperti ini?

Yang pejabatnya suka korupsi. Rakyatnya terus dibodohi.

Tidakkah kita ingin merdeka secara hakiki?

Merdeka dengan menghamba kepada Ilahi sepenuh hati.

Mensyukuri nikmat kemerdekaan dari Allah SWT dengan menerapkan hukum hukum Allah SWT secara total di negeri ini.

Tidakkah memaknai kemerdekaan yang seperti ini yang lebih berarti?

15 Agustus 2020

Kapitalisme Sumber Penyebab Kemiskinan

 

https://www.tobasatu.com/

Kemiskinan menjadi masalah klasik yang seolah ‘abadi’ di dunia termasuk di negeri kita. Tentu Kota Medan tak luput dari masalah tersebut. Catatan tahun 2019, pendudukan Kota Medan yang tergolong miskin sebesar 8,08% atau setara dengan 183,79 ribu jiwa. Jumlah tersebut dihitung berdasarkan standar garis kemiskinan yaitu Rp 532.000 per orang per bulan. (https://medanbisnisdaily.com)

Besar kemungkinan jumlah penduduk miskin Kota Medan tahun ini bertambah. Mengingat negeri kita sedang dilanda pandemi covid-19 yang memicu meningkatnya pengangguran.

Cara Ulama Mencintai, Tetap Rasional

 

https://www.hipwee.com/narasi/jatuh-cinta-dalam-diam/

Ulama juga manusia. Mereka sama dengan kita. Memiliki pikir dan rasa. Mereka bisa mencintai sama seperti kita. Hanya saja dengan kualitas ilmu yang mendalam serta ketaatan pada Allah swt, mereka bisa menempatkan rasa cinta sesuai tempatnya.

Salah satu kisah menarik datang dari seorang ulama. Petikan kisah hidupnya beberapa hari belakangan berseliweran di media sosial. Rupa-rupanya kisah singkatnya juga saya temukan di Buku Manajemen Waktu Para Ulama karya Syaikh Abdul Fattah. Dia adalah Syekh Abu Yusuf Al-Qadhi Al-Almu’i, murid dari Imam Abu Hanifah.

Syekh Abu Yusuf merupakan seorang yang cerdas dan mulia. Ia rajin duduk di majelis Imam Abu Hanifah. Secara rutin hal itu dilakukannya selama 17 tahun. Dalam catatan lain dikatakan ia melakukannya selama 29 tahun. Ia tak pernah salat zuhur kecuali bersama gurunya. Bahkan ia tak pernah luput membersamai gurunya untuk salat Idul Fitri dan Idul Adha, kecuali jika sakit.

Suatu saat putra Syekh Abu Yusuf meninggal dunia bersamaan dirinya sedang berada di majelis ilmu. Ayo tebak kira-kira apa yang dilakukannya?