Hampir Diperkosa Adik Ipar, Hikmah Bagi Perempuan, Perhatikan 5 Hal ini

 

https://www.merdeka.com

Baru-baru ini ada berita, seorang perempuan di Kabupaten OKI hampir saja diperkosa oleh adik iparnya. Ceritanya perempuan itu sedang tidur di kamar tanpa busana. Pintu kamarnya terbuka. Lalu adik iparnya masuk dan hendak melampiaskan hasrat seksual padanya.

Rupanya mereka tinggal satu rumah. Syukurlah kejahatan itu tak sempat terjadi. Perempuan itu memberontak dan menjerit minta tolong. Pelaku keluar kamar dan perempuan itu mengunci kamarnya dengan terus berteriak minta tolong. Tak lama suaminya datang dan bersama anggota keluarga lainnya memutuskan untuk melaporkan kejadian itu ke polisi.   (https://linggaupos.sumeks.co/16/10/2021)

Zaman ini adalah zaman dimana pornografi dan pornoaksi merajalela. Hal itu seringkali menjadi pemicu munculnya niat buruk lelaki untuk melakukan pelecehan seksual dan pemerkosaan.

Hal itu bisa terjadi dimanapun, pada siapapun. Di ruang publik seperti tempat kerja, atau di rumah. Sedihnya, rumah sudah bukan lagi menjadi tempat yang aman bagi penghuninya.

Seringkali terdengar berita pelecehan seksual di ruang privat itu, dilakukan oleh orang-orang terdekat. Jangankan tetangga atau ipar, paman atau bahkan ayah kandung sekalipun ada yang tega menggagahi anaknya sendiri.

Baca Juga: Ekonomi Islam Itu Luar Biasa

Jadi kita sendirilah yang harus pintar menjaga keselamatan diri kita. Harus selalu waspada pada setiap kesempatan. Bagi muslim, sebaiknya terapkan upaya islami ini dalam keseharian.

Pertama, kenali mahram kita. Mengenal mahram (orang yang haram dinikahi) berguna agar kita bisa menempatkan diri dengan tepat. Mahram kita adalah yang disebutkan Allah swt dalam al Quran surat An nur ayat 31, yakni suami, ayah, mertua laki-laki, putera, putera tiri, saudara kandung laki-laki, ponakan laki-laki. Paman, adik kandung ayah atau ibu termasuk di dalamnya.

Kalau dengan mahram kita boleh berdua di rumah. Adik ipar itu disebut mahram kerabat, tidak boleh berduaan dengan kita di dalam rumah. Jadi setelah mengenal mahram kita, pastikan kita tidak sedang berdua dengan nonmahram kita.

Kedua, perhatikan tentang aurat kita. Hanya suami yang boleh melihat seluruh tubuh kita. Sementara mahram kita yang lain hanya boleh melihat bagian di tubuh kita tempat meletakkan perhiasan. Seperti leher, telinga, pergelangan tangan dan kaki. Jadi rambut boleh terlihat, lengan dan kaki hingga batas lutut.

Baca Juga: Ibu Ajarkan Anak Merokok

Kepada selain mahram kita, seperti ipar, sepupu dan pria asing lainnya, Islam mewajibkan muslimah menutup seluruh auratnya. Baik di dalam maupun luar rumah. Kalau di luar rumah, ada pakaian khusus yakni jilbab (gamis) yang harus dikenakan sesuai al Quran surat Al Ahzab ayat 59 beserta kerudung.

Ketiga, bangun suasana saling menghormati antar kerabat. Kalau saya sendiri, membatasi diri bergaul dengan ipar. Saya tidak pernah bersalaman dengan ipar. Menghindari berdua-dua-an baik di luar atau dalam satu ruangan dengan ipar, serta bicara seperlunya saja dengan mereka.

Akrab dengan pria asing termasuk mahram kerabat memang dilarang dalam Islam. Hikmahnya, akan terbangun sikap saling menghormati, ada rasa segan serta menutup peluang terjadi perselingkuhan.

Keempat, jangan terima tamu pria asing masuk ke rumah saat kita sendirian. Menerima tamu pria asing masuk ke rumah saat kita sendirian sama saja dengan berdua-duaan dengan pria asing. Di dalam rumah pula. Bahaya.

Baca Juga: 12 Lokasi Rawan Begal Di Medan

Jadi kalau kondisi seperti itu terjadi, baiknya ucapkan dari dalam rumah padanya, datang lain waktu saja saat suami kita sedang di rumah.

Kelima, tetap waspada dalam setiap kesempatan.

Berdua di rumah dengan mahram memang boleh. Tapi ini zaman edan, jadi meski tak boleh berprasangka buruk, demi keamanan sebaiknya hindari kondisi-kondisi yang memungkinkan terjadinya kejahatan.

Seperti berdua di rumah pada malam hari. Maksudnya berdua dengan mahram selain suami ya. Jika pun terpaksa harus berdua dengan anak tiri yang sudah dewasa misalnya, maka pakailah pakaian sesopan mungkin dan kunci kamar saat berada di dalamnya. Bila kondisinya siang hari, baiknya buka semua pintu lebar-lebar agar perasaan lebih nyaman.

Kalau kita terpaksa tinggal bersama kerabat atau nonmahram, maka untuk ini harus benar-benar dipastikan kita tidak sedang berdua dengannya di rumah. Selain itu, pintu kamar harus selalu di kunci.

Baca Juga: Jangan Hanya Jadi Ibu Otomatis

Memang, dalam Islam ada larangan masuk ke ruangan pribadi orang lain tanpa izin. Masuk ke kamar orangtua kita sekalipun harus tetap minta izin terlebih dahulu. Anak-anak boleh masuk ke kamar orangtua tanpa izin, kecuali pada tiga waktu yakni sebelum subuh, menjelang zuhur dan setelah isya.

Bahkan kalau ruangan pribadi orang lain terbuka, kita tidak boleh sengaja menatap ke dalamnya atau memasukkan kepala kita untuk melihat ke dalam. Tapi masyarakat hari ini banyak yang bodoh dengan aturan Islam.

Malah yang diajarkan oleh film dan sinetron, pintu rumah orang terbuka, calon tamu mengawasi seisi rumah. Bila salam calon tamu itu tak dijawab, dia nyelonong saja masuk ke dalam rumah. Ini bentuk ketidaksopanan dalam Islam.’

Jadi berhubung aturan Islam tak dimengerti oleh banyak orang termasuk barangkali orang-orang disekitar kita, maka baiknya memang kita sendiri yang mengamankan ruang pribadi kita.

Semoga kita selalu berada dalam lindungan Allah swt. Aamiin.

Baca Juga: Secantik Barbie

No comments:

Post a Comment