Melindungi Anak dari Kekerasan, Butuh Aksi Nyata

 

https://www.ajnn.net/

Secara fitrah, orangtua pasti menyayangi anaknya. Tak ada satupun orangtua yang senang anaknya tersakiti. Jangankan manusia, hewan saja tak rela anaknya diganggu pihak lain. Tak mungkin orangtua tega menyakiti anaknya. 

Tetapi ada hal-hal yang menyebabkan manusia lupa fitrahnya. Yakni saat ia menghadapi masalah rumit tak terpecahkan. Saat akal manusia sedang tak berjalan dengan normal karena ketegangan-ketegangan pikiran, saat itu dia akan berbuat edan. Anak yang awalnya disayang pun bisa ditendang.

Begitulah yang terjadi di masa pandemi ini. Pandemi Covid-19 telah menciptakan ketegangan global. Merosotnya perekonomian akibat kebijakan penanganan pandemi yang amburadul oleh pemerintah, telah membuat banyak orangtua kehilangan fitrahnya. Alhasil, angka kekerasan fisik dan mental pada anak pun meningkat.

Seperti yang terjadi di Kota Medan. Berdasarkan data aplikasi Sistem Informasi Perempuan dan Anak (Simfoni PPA) milik Pemerintah Provinsi Sumatera Utara (Pemprovsu), hingga 4 Februari 2021 terdapat 154 anak menjadi korban kekerasan di Kota Medan. Sementara di Kabupaten Langkat ada 97 kasus dan di Padang Sidempuan ada 96 kasus kekerasan anak. 

Secara nasional Simfoni PPA dari Kementerian Pemberdayaan Perempuan pada periode 1 Januari-9 Juni 2021 mencatat terjadi 3.314 kasus kekerasan terhadap anak dengan korban sebanyak 3.683 orang (news.metro24jam.com, 22/07/2021).

Baca Juga: Child Free, Menyalahi Tujuan Pernikahan

Ketua Badan Pengurus Yayasan Pusaka Indonesia (YPI) OK Syahputra Harianda meyakini bahwa kekerasan pada anak terjadi di rumah, dilakukan oleh orang-orang terdekat. Disinyalir kekerasan akan terus bertambah seiring makin menurunnya secara drastis perekonomian keluarga. 

Banyak penanggung nafkah keluarga hari ini yang kena PHK. Daya beli masyarakat pun menurun dan angka kemiskinan meningkat. Hak-hak anak untuk mendapatkan pendidikan, gizi yang cukup, kesehatan dan lain-lain pun terabaikan. Anak justru mengalami kekerasan, eksploitasi dan perlakukan salah lainnya. Parahnya ancaman pada anak bukan hanya terjadi di rumah, tetapi anak juga menghadapi ancaman tertular virus Covid-19 saat keluar rumah.


Keselamatan Anak Tanggung Jawab Negara

Keluarga adalah pihak yang paling dekat dengan anak. Tentu tak salah jika orangtua dianggap bertanggungjawab menjamin kenyamanan, keamanan dan keselamatan anak. Seperti himbauan Pak OK kepada para orang tua agar lebih memperhatikan anak-anak mereka. 

Orangtua dituntut harus memiliki rasa tanggung jawab besar dalam mendidik anak. Mendampingi anak secara maksimal, terlebih dalam kondisi pembelajaran online seperti saat ini. Memberi kasih sayang yang cukup dan perhatian, hingga anak dapat menggunakan waktunya untuk kegiatan bermanfaat, bukan malah disibukkan bermain dengan gawai.

Namun orangtua yang amanah tak muncul dengan sendirinya. Dua hal yang paling mempengaruhi pembentukan orangtua yang baik adalah sistem pendidikan dan sistem ekonomi. 

Baca Juga: Alangkah Lucunya Negeri Ini (Jadul Movie)

Pendidikan menjadi sarana memahamkan mereka tentang tanggung jawab sebagai orangtua. Pendidikan mengajarkan apa yang boleh dan tak boleh dilakukan orangtua terhadap anaknya. Sementara ekonomi mendukung orangtua dalam memenuhi kesejahteraan keluarga.

Apakah sistem pendidikan dan sistem ekonomi telah berjalan maksimal dalam mewujudkan hal tersebut? Kita akui keduanya masih jauh dari harapan. Pendidikan formal cenderung mendorong peserta didik untuk menggapai cita-cita dalam hal karir pribadi. Makanya kebanyakan mereka yang siap menikah tak memiliki persiapan ilmu parenting. Mereka berpikir merawat dan mendidik anak bisa dilakukan secara alami menurut naluri sebagai orangtua.

Biasanya pula mereka akan mendidik anaknya sesuai pengalaman pendidikannya di masa lalu oleh orangtua mereka. Bagi mereka yang lebih baik dari itu, akan berupaya mendapatkan informasi dari kenalan dan dari berbagai sarana informasi yang ada agar menjadi orangtua yang lebih baik. Itupun dengan pandangan dasar bahwa anak adalah aset penopang orangtua di hari tua. Anak harus dirawat dan dididik utamanya agar sukses menghasilkan materi.

Artinya, kita hari ini dibiarkan berupaya memperkaya diri dengan ilmu-ilmu kehidupan tanpa disistemi oleh negara. Kalaupun ada perhatian dari pemerintah, hal itu sekadar anjuran-anjuran semata agar orangtua bisa menjalankan kewajibannya, tanpa ada wujud nyata dalam membimbing masyarakat membentuk keluarga yang baik.

Hal yang kontradiktif malah terjadi dalam bidang ekonomi. Di satu sisi orangtua terutama ibu, diminta maksimal memberi waktu dan perhatian terhadap anak-anak mereka. Namun di sisi yang lain pemerintah justru mengarusutamakan ide kesetaraan gender. Ide tersebut mendorong para perempuan agar tersibukkan berkarir di ruang publik. Hal ini masih diperparah dengan pengelolaan ekonomi yang kapitalistik, yang menciptakan kemiskinan sistemik seperti saat ini. 

Baca Juga: Anak Durhaka Didikan Sekulerisme

Puncaknya, ketika pandemi Covid-19 merebak, keadaan ekonomi masyarakat pun makin merosot. Kekurangpahaman peran sebagai orangtua ditambah stres menghadapi kesulitan ekonomi, akhirnya mempersulit orangtua untuk mengendalikan akal sehatnya. Alhasil, anak menjadi pelampiasan kemarahan para orangtua. 

Dapat dikatakan bahwa negara menjadi pihak yang paling bertanggungjawab menciptakan kesadaran orangtua dalam menjalani perannya. Masyarakat tak butuh sekadar seremonial peringatan Hari Anak Nasional (HAN) yang jatuh pada 23 Juli lalu. 

Rakyat tak butuh slogan-slogan atau anjuran-anjuran tanpa aksi nyata. Sistem politik demokrasi sekuler berikut sistem pendidikan dan ekonominya yang kapitalistik terbukti gagal menjaga ketahanan keluarga. 

Maka jangan ragu untuk beralih pada sistem Islam. Islam memiliki pandangan dasar terbaik tentang anak. Menurut Islam, anak adalah penyejuk mata dan aset menuju surga. Anak merupakan amanah Allah SWT untuk dirawat dan dididik menjadi hamba Allah SWT yang taat. Kelak amanah itu akan dipertanggungjawabkan di hadapan Allah SWT.

Sistem pendidikan Islam akan menyiapkan masyarakat menjadi orangtua bertanggung jawab.  Sistem ekonomi Islam akan mempermudah orangtua memberikan hak-hak anaknya sesuai Islam. Di bawah naungan negara yang diatur oleh Islam, anak akan terlindungi dari kekerasan. Ketahanan keluarga pun mudah tercapai. Wallahu a’lam bishshawab. []

Telah dimuat di TintaSiyasi.com: https://www.tintasiyasi.com/2021/08/melindungi-anak-dari-kekerasan-butuh.html

Baca Juga: 3 Hal Ganjil Di Tengah Gencarnya Program KB

2 komentar: