Kiat-Kiat Komunikasi Menyatukan 2 Hati

Salah satu keterampilan yang wajib dimiliki oleh pasangan suami isteri agar mampu menciptakan keluarga harmonis adalah komunikasi. Hal ini sangat penting. Komunikasi yang baik dapat menghilangkan kesalahpahaman, memunculkan kesepahaman, penerimaan, pemakluman dan perdamaian.

Keluargaku pun masih terus belajar tentang cara berkomunikasi yang baik. Makanya penjelasan Ustazah Dedeh Wahidah dalam video di channel MMC ini https://www.youtube.com/watch?v=zq0zPzTeDFs, menjadi salah satu wawasan untuk itu.

Ustazah Dede menjabarkan beberapa kiat menjalin komunikasi yang baik dalam keluarga. Pertama, landasan komunikasi sebagai menyebarkan kebaikan. Dasar semua perbuatan adalah niat atau maksud dari berbuat. Penting sekali bagi kita sebagai muslim untuk memperhatikan hal ini.

Niat baik yang kuat tertanam akan melahirkan cabang-cabang kebaikan lainnya. Soal bertutur kata Allah swt berfirman:

"Siapakah yang lebih baik perkataannya daripada orang yang menyeru kepada Allah, mengerjakan amal yang saleh, dan berkata: "Sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang menyerah diri?" (QS. Al Fussilat ayat 33)

Dari ayat itu kita bisa mengambil pelajaran bahwa perkataan yang paling baik disisi Allah swt adalah perkataan yang mengajak pada ketaatan. Islamlah kebaikan itu. Jadi sedari awal kita perlu menyadari dan memasang niat untuk hanya berkata yang baik-baik sesuai Islam pada siapapun termasuk pasangan kita.

Pentingnya berkata yang baik, sampai-sampai Rasulullah saw bersabda bahwa jika kita tidak bisa berkata baik lebih baik diam. Kemudian di ayat al Qur’an lainnya Allah swt juga mencela perkataan buruk seperti ghibah (gosip), fitnah, ejekan dan lain sebagainya.

Kedua, bagaimana memahamkan orang lain terhadap apa yang kita maksudkan. Nah selanjutnya soal teknik penyampaian. Terkadang kita berbicara pada orang lain, kita bermaksud menyampaikan A, namun yang sampai ke lawan bicara adalah B.

“Nak, awas jangan main jauh-jauh nanti ada orang gila”. Sering ibu-ibu berkata seperti itu pada anaknya. Maksudnya agar anak mainnya di sekitar saja, jangan hilang dari pandangan ibu. Tapi bisa jadi yang ditangkap anak, “wih takut ada orang gila”. Atau terkadang anak malah mengabaikan karena kalimat panjang kita yang tidak begitu dimengerti olehnya atau kalimat itu segera dilupakannya.

Baca Juga: Cara Keluarga Ini Menghadapi Badai Keuangan

Terhadap pasangan, seringnya perempuan main isyarat atau pakai kiasan. Sudah umum kita ketahui perempuan suka begitu, karena perasaannya yang dominan ketimbang akalnya. Ditanya mau makan apa bilangnya terserah. Atau dengan muka masam melakukan sesuatu, padahal itu artinya berharap suami ikut membantu.

Atau ketika isteri berbicara saat sedang marah, akhirnya kalimat yang keluar berupa kalimat kasar yang jauh dari maksud sebenarnya. Dalam hal ini Ustazah Dedeh menyarankan, pilihlah kalimat-kalimat yang tepat untuk menyampaikan maskud kita, agar apa yang ada di kepala kita sama dengan apa yang sampai kepada lawan bicara. Artinya agar hal itu mudah dilakukan, hindari berbicara saat sedang marah.

Ketiga, jauhi prasangka buruk, biasakan selalu berprasangka baik. Kita sama-sama mengaku ya bahwa poin satu ini cukup sulit untuk dijalankan. Barangkali tak ada satupun manusia yang tak pernah su’uzhan. Sebab sifat-sifat kemanusiaan kita membuat potensi su’uzhan itu cukup besar untuk dilakukan.

Namun kita harus ingat bahwa Allah swt melarang untuk su’uzhan. Allah swt berfirman: “Artinya: "Hai orang-orang yang beriman, jauhilah kebanyakan prasangka, karena sebagian dari prasangka itu dosa. (QS. Al Hujurat: 12)

Prasangka yang dilarang dalam ayat tersebut tentulah prasangka buruk. Kita pun menyadari, komunikasi yang dibangun atas dasar prasangka tak akan baik hasilnya. Akhirnya yang muncul adalah justifikasi yang disampaikan dengan nada emosional.

Seperti contoh yang diberikan Ustazah Dedeh, tentang suami yang pulang telat, atau suami yang nggak makan masakan kita. Kalau sejak awal kita sudah berprasangka negatif pada suami, maka kalimat yang keluar, “Kok lama kali. Ketemu siapa di luar? Main perempuan ya?”

“Kok nggak dimakan, masakanku nggak enak ya. Udah nggak suka lagi dengan masakanku?”

Kalau sudah begitu bisa ditebak kelanjutannya gimana, berantem.

Baca Juga: Jangan Lupa Menghargai Pasanganmu

Maka kita harus berupaya menghilangkan prasangka buruk yang hendak hinggap di benak kita. Segera lakukan tabayyun (meneliti kebenaran) sebagaimana perintah Allah swt dalam al Qur’an surat al Hujurat ayat 6, ketika ada gejala-gejala peristiwa yang menimbulkan prasangka. Berpikir benar adalah menyesuaikan informasi dengan faktanya.

Keempat, kalau dia salah, sampaikan kesalahan bukan menyalahkan. Ciri menyalahkan adalah dengan pangkal kalimat, “pokoknya...”.

“Pokoknya kamu salah.”

“Kamu sih suka gitu.”

“Kamu sih suka buat aku kesal”.

Sikap menyalahkan malah bisa buat kita lupa menyebutkan salahnya apa. Akhirnya orang yang ditegur tak terima dengan ucapan kita. Sebab dia tak tahu dimana letak kesalahannya.

Ustazah Dedeh memisalkan suami yang sedang merasa tidak senang ketika isteri bawa seorang temannya ke rumah. Lalu si suami hanya merengut atau membanting pintu tanpa. Harusnya setelah si teman pulang sampaikan salah isteri telah membawa teman yang tidak disukainya. Sampaikan pula alasan tidak suka dengan cara baik-baik.

Kelima, dorongan berkomunikasi dalam rangka menyelesaiakan masalah. Suami isteri harus bergaul dengan ma’ruf (baik) sebagaimana yang diperintahkan Allah swt dalam al Qur’an surat an nisa ayat 19. Kebaikan tersebut salah satunya ditunjukkan dengan komunikasi yang sehat.

Yakni berkomunikasi untuk memecahkan masalah-masalah yang dihadapi bersama. In sya allah hal ini akan menimbulkan rasa nyaman antar keduanya.

Keenam, jauhi sikap arogan/ sombong. Diantara sikap yang menunjukkan arogan, yakni suami yang sedang diajak bicara oleh isterinya fokus memandang ke layar hpnya. Atau isteri menghadapi suami yang sedang bicara sambil bersih-bersih sesuatu.

Baca Juga: Berani Membuka Pintu Rezeki

Komunikasi yang baik adalah menatap ke arah lawan bicara. Kalau pandangan ke arah lain menunjukkan sikap meremehkan lawan bicara. Atau memotong pembicaraan lawan bicara, hanya mau didengarkan, tak mau mendengarkan. Sikap demikian merupakan ciri arogan. Meskipun kita yang benar, dia yang salah, tetap saja itu tak boleh dilakukan.

Allah swt meminta kita dalam al Qur’an surat al Furqan ayat 63, untuk bersikap rendah hati. Termasuk kepada pasangan, sikap rendah hati bisa melancarkan komunikasi dan memberi kenyamanan antar keduanya.

Ketujuh, berkomunikasi dengan pasangan harus penuh perasaan dan rasa empati. Kita harus mendudukkan posisi pasangan pada posisi kita. Kalau kita tak suka mendengar kalimat kasar diucapkan pada kita misalnya, harusnya kita tak sampaikan kalimat seperti itu pada pasangan.

Kita tak ajak dia bicara saat sedang letih. Sebab kita pun merasakan tidak enak diajak bicara saat sedang capek. Itulah empati, mencoba merasakan perasaan sebagaimana perasaan orang lain. Sehingga kita tidak berbuat pada pasangan, hal-hal yang tidak kita sukai.

Kedelapan, jangan menggeneralisir. Ini juga sering kita lakukan ya. Sekali orang lain salah, rasanya dalam semua hal dia pasti salah. Padahal bisa jadi dalam satu hal dia salah, tapi ternyata dalam hal ini dia benar. Kita harus menghindari sikap seperti ini, dengan menyadari bahwa manusia tak selalu baik. Manusia juga tak selalu salah. Sehingga kita selalu bisa mendengar ucapan dari orang yang pernah salah.

Terakhir, dalam berkomukasi kita berdoa pada Allah swt. Lagi-lagi Ustazah Dedeh mengingatkan pada Allah swt. Allah swt maha membolak-balik hati manusia. Saat kita ingin pasangan membuka hati untuk ucapan kita, harusnya kita memohon bantuan Allah swt untuk melembutkan hati suami.

Terima kasih untuk Ustazah Dedeh atas kiat-kiat yang diberikan. Semoga bisa dijalankan, hingga terjalin komunikasi dua hati yang harmonis.

Baca Juga: Tips Menjaga Buku Dari Peminjam Nakal

2 komentar:

  1. Aku bersyukur hubungan komunikasi ku Ama suami dari sejak pacaran selalu terbuka. Aku juga tipe yg blak2an sih mba. Kalo aku ga suka, ya aku bilang masalahnya di mana. Ga akan ada kata TERSERAH, dan pake kode. A big no buatku. Dan aku tekanin ke suami, aku ga suka segala macam kode, JD kalo dia ada ngerasa ga suka ATO ga enak, ya bilang langsung aja :).

    Itu kami terapin Ampe skr.

    Krn memang komunikasi hrs jelas. Kalo yg 1 takut2 utk menyampaikan, yg 1 lagi suka ga mendengar, kacau sih bakalan. Anak2 juga aku latih utk terbiasa kasih pendapat sendiri. Jgn cuma ngikut. Biar mereka juga berani dlm speak up.

    BalasHapus
    Balasan
    1. alhamdulillah komunikasi keluarga lancar ya mbak..

      Hapus