Monday, August 02, 2021

9 Kiat Komunikasi Suami Istri agar Rumah Tangga Harmonis

Salah satu keterampilan yang wajib dimiliki pasangan suami istri agar mampu menciptakan keluarga harmonis adalah komunikasi. Hal ini sangat penting. Komunikasi yang baik dapat menghilangkan kesalahpahaman, memunculkan kesepahaman, penerimaan, pemakluman, dan perdamaian.

Keluargaku pun masih terus belajar tentang cara berkomunikasi yang baik. Makanya, penjelasan Ustazah Dedeh Wahidah dalam sebuah video di channel MMC menjadi salah satu wawasan bagi kami untuk terus belajar memperbaiki komunikasi dalam rumah tangga.

Ustazah Dedeh menjabarkan beberapa kiat menjalin komunikasi yang baik dalam keluarga. Saya mencoba merangkumnya dan menghubungkannya dengan kehidupan sehari-hari.


1. Luruskan niat untuk menyebarkan kebaikan

Dasar semua perbuatan adalah niat atau maksud dari berbuat. Penting sekali bagi kita sebagai muslim untuk memperhatikan hal ini.

Niat baik yang kuat tertanam akan melahirkan cabang-cabang kebaikan lainnya. Begitu pula dalam berkomunikasi dengan pasangan. Sedari awal kita perlu menyadari bahwa komunikasi bukan sekadar menyampaikan apa yang ada di kepala, tetapi juga bagian dari usaha menyebarkan kebaikan.

Allah SWT berfirman:

“Siapakah yang lebih baik perkataannya daripada orang yang menyeru kepada Allah, mengerjakan amal yang saleh, dan berkata: ‘Sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang berserah diri?’”

(QS. Fussilat: 33)

Dari ayat tersebut kita bisa mengambil pelajaran bahwa perkataan yang baik adalah perkataan yang mengajak kepada kebaikan dan ketaatan.

Maka, sedari awal kita perlu memasang niat untuk berkata yang baik-baik sesuai tuntunan Islam kepada siapa pun, termasuk kepada pasangan.

Pentingnya berkata baik sampai-sampai Rasulullah SAW mengingatkan bahwa siapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir hendaknya berkata baik atau diam.

Dalam Al-Qur'an pun terdapat larangan terhadap berbagai bentuk perkataan buruk, seperti ghibah, fitnah, dan ejekan.

Jadi, sebelum bicara kepada pasangan, ada baiknya kita bertanya kepada diri sendiri: Apa yang hendak saya sampaikan? Untuk apa saya menyampaikannya? Apakah cara saya menyampaikannya akan membawa kebaikan?


2. Sampaikan maksud dengan kalimat yang mudah dipahami

Selanjutnya adalah soal teknik penyampaian.

Terkadang kita berbicara kepada orang lain dengan maksud menyampaikan A, namun yang sampai kepada lawan bicara justru B.

“Nak, awas jangan main jauh-jauh, nanti ada orang gila.”

Sering ibu-ibu berkata seperti itu kepada anaknya. Maksudnya agar anak bermain di sekitar saja dan jangan sampai hilang dari pandangan ibu.

Tapi bisa jadi yang ditangkap anak justru, “Wih, takut ada orang gila.”

Atau terkadang anak malah mengabaikan karena kalimat panjang kita tidak begitu dimengerti olehnya atau segera dilupakannya.

Dalam hubungan suami istri pun bisa terjadi hal serupa.

Kadang salah satu pihak merasa sudah menyampaikan sesuatu dengan jelas, tetapi pasangannya menangkap maksud yang berbeda.

Bahkan, dalam keseharian, seseorang bisa saja menggunakan isyarat atau kiasan ketika sebenarnya menginginkan sesuatu.

Ditanya mau makan apa, jawabnya, “Terserah.”

Atau dengan muka masam melakukan sesuatu, padahal sebenarnya berharap suami ikut membantu.

Ketika sedang marah pun, kalimat yang keluar terkadang berupa kata-kata kasar yang jauh dari maksud sebenarnya.

Dalam hal ini, kita perlu belajar memilih kalimat yang tepat untuk menyampaikan maksud. Tujuannya agar apa yang ada di kepala kita sedapat mungkin sama dengan apa yang sampai kepada lawan bicara.

Dan agar lebih mudah dilakukan, hindari membicarakan persoalan penting ketika sedang dikuasai amarah.


3. Jauhi prasangka buruk dan biasakan tabayyun

Kita sama-sama mengaku ya bahwa poin ini cukup sulit untuk dijalankan.

Barangkali tak ada satu pun manusia yang tak pernah berprasangka. Sebab sifat kemanusiaan kita membuat potensi suuzan cukup besar untuk dilakukan.

Namun kita harus ingat bahwa Allah SWT melarang prasangka buruk.

Allah SWT berfirman:

“Jauhilah kebanyakan prasangka, sesungguhnya sebagian prasangka itu dosa.”

(QS. Al-Hujurat: 12)

Kita pun menyadari, komunikasi yang dibangun atas dasar prasangka tidak akan menghasilkan komunikasi yang baik. Akhirnya yang muncul adalah tuduhan atau justifikasi yang disampaikan dengan nada emosional.

Seperti contoh yang diberikan Ustazah Dedeh, tentang suami yang pulang terlambat atau suami yang tidak makan masakan kita.

Kalau sejak awal kita sudah berprasangka negatif kepada suami, maka kalimat yang keluar bisa saja:

“Kok lama kali? Ketemu siapa di luar? Main perempuan ya?”

Atau:

“Kok nggak dimakan? Masakanku nggak enak ya? Udah nggak suka lagi dengan masakanku?”

Kalau sudah begitu, bisa ditebak kelanjutannya gimana.

Berantem.

Maka kita harus berupaya menghilangkan prasangka buruk yang hendak hinggap di benak kita. Segera lakukan tabayyun, yaitu mencari kejelasan dan meneliti kebenaran informasi sebelum mengambil kesimpulan.

Allah SWT juga memerintahkan tabayyun dalam QS. Al-Hujurat ayat 6.

Berpikir benar berarti berusaha menyesuaikan informasi dengan fakta. Jangan sampai sesuatu yang sebenarnya sederhana justru menjadi besar hanya karena kesimpulan yang kita buat sendiri.


4. Sampaikan kesalahan, bukan menyalahkan

Kalau pasangan melakukan kesalahan, sampaikan kesalahannya. Jangan malah menyalahkan pribadinya.

Ciri menyalahkan biasanya dimulai dengan pangkal kalimat:

“Pokoknya kamu salah.”

“Kamu sih suka gitu.”

“Kamu sih suka buat aku kesal.”

Sikap menyalahkan justru bisa membuat kita lupa menyebutkan sebenarnya apa kesalahannya.

Akhirnya orang yang ditegur tidak terima dengan ucapan kita karena dia pun tidak tahu di mana letak kesalahannya.

Ustazah Dedeh memberikan contoh suami yang merasa tidak senang ketika istrinya membawa seorang teman ke rumah.

Kemudian si suami hanya merengut atau membanting pintu tanpa menjelaskan apa masalahnya.

Seharusnya, setelah temannya pulang, suami menyampaikan bahwa ia tidak nyaman dengan tindakan tersebut. Jelaskan pula alasannya dan sampaikan dengan cara yang baik.

Begitu pula sebaliknya.

Kalau pasangan salah, jelaskan perilakunya yang salah, bukan menyerang dirinya sebagai pribadi.

Ini memang membutuhkan latihan. Tapi kalau terus dibiasakan, komunikasi suami istri akan jauh lebih sehat.


5. Berkomunikasilah untuk menyelesaikan masalah

Dorongan berkomunikasi dengan pasangan seharusnya bukan untuk mencari siapa yang menang dan siapa yang kalah.

Komunikasi dalam rumah tangga seharusnya diarahkan untuk menyelesaikan masalah yang dihadapi bersama.

Suami istri diperintahkan untuk bergaul dengan cara yang makruf, sebagaimana Allah SWT berfirman dalam Al-Qur'an surat An-Nisa ayat 19.

Kebaikan tersebut salah satunya dapat ditunjukkan melalui komunikasi yang sehat.

Ketika ada masalah, bicarakan.

Ketika ada kesalahpahaman, luruskan.

Ketika ada kebutuhan yang belum terpenuhi, sampaikan.

Jangan malah saling diam, saling menunggu, atau berharap pasangan bisa membaca pikiran kita.

Insya Allah, komunikasi yang diarahkan untuk mencari solusi akan menumbuhkan rasa nyaman di antara suami dan istri.

Baca Juga: 5 Hal Menyebalkan Dari Pasangan Yang Masih Bisa Dimaklumi


6. Jauhi sikap arogan saat pasangan berbicara

Di antara sikap yang menunjukkan arogansi dalam komunikasi adalah ketika suami sedang diajak bicara oleh istrinya tetapi tetap fokus memandang layar HP.

Atau sebaliknya, ketika istri sedang diajak bicara suami tetapi malah sibuk melakukan pekerjaan lain dan tidak memberikan perhatian.

Komunikasi yang baik membutuhkan kesediaan untuk mendengarkan.

Ketika pasangan berbicara, berusahalah menatap ke arahnya dan memberikan perhatian. Pandangan yang terus-menerus dialihkan bisa membuat lawan bicara merasa tidak dihargai.

Termasuk memotong pembicaraan, hanya mau didengarkan tetapi tidak mau mendengarkan.

Sikap seperti itu tentu tidak baik.

Meskipun kita merasa benar dan pasangan yang salah, bukan berarti kita boleh meremehkannya.

Allah SWT memerintahkan kita untuk bersikap rendah hati, sebagaimana disebutkan dalam QS. Al-Furqan ayat 63.

Termasuk kepada pasangan, sikap rendah hati bisa melancarkan komunikasi dan memberikan kenyamanan bagi kedua belah pihak.


7. Berkomunikasilah dengan perasaan dan empati

Berkomunikasi dengan pasangan bukan hanya soal menyampaikan kalimat, tetapi juga memahami perasaan orang yang kita ajak bicara.

Kita harus mencoba mendudukkan posisi pasangan pada posisi kita.

Kalau kita tidak suka mendengar kalimat kasar diucapkan kepada kita, seharusnya kita pun tidak menyampaikan kalimat seperti itu kepada pasangan.

Kalau kita sedang letih dan tidak nyaman diajak bicara dengan nada tinggi, jangan pula kita mengajak pasangan berbicara dengan cara yang sama ketika dia sedang kelelahan.

Itulah empati.

Mencoba merasakan sesuatu sebagaimana perasaan orang lain.

Dengan empati, kita belajar untuk tidak melakukan kepada pasangan hal-hal yang sebenarnya tidak kita sukai jika dilakukan kepada diri kita.

Sederhana, tetapi praktiknya memang tidak selalu mudah. Hehe.


8. Jangan menggeneralisasi kesalahan pasangan

Ini juga sering kita lakukan ya.

Sekali orang lain salah, rasanya dalam semua hal dia pasti salah.

Padahal bisa jadi dalam satu hal dia memang salah, tetapi dalam hal lain ternyata dia benar.

Kita harus menghindari sikap seperti ini dengan menyadari bahwa manusia tidak selalu benar dan manusia juga tidak selalu salah.

Jangan karena pasangan pernah melakukan kesalahan, kemudian semua perkataannya dianggap salah.

Jangan pula satu kesalahan dijadikan alasan untuk membuka kembali semua kesalahan masa lalu.

Kalau setiap masalah selalu ditarik ke masalah-masalah sebelumnya, kapan selesainya?

Belajar melihat masalah secara proporsional akan membuat komunikasi suami istri jauh lebih sehat.


9. Sertakan doa dalam komunikasi dengan pasangan

Terakhir, dalam berkomunikasi kita jangan lupa berdoa kepada Allah SWT.

Lagi-lagi Ustazah Dedeh mengingatkan kita kepada Allah SWT.

Allah Maha Membolak-balikkan hati manusia.

Saat kita ingin pasangan membuka hati untuk menerima nasihat atau memahami ucapan kita, seharusnya kita tidak hanya mengandalkan kemampuan berbicara.

Kita juga memohon pertolongan Allah SWT agar hati pasangan dilembutkan dan komunikasi di antara kami dipenuhi kebaikan.

Sebab terkadang kita sudah merasa memilih kata-kata yang tepat, tetapi hati orang yang kita ajak bicara tetap sulit menerima.

Di situlah kita sadar bahwa kemampuan manusia terbatas.

Maka, berusaha memperbaiki cara berkomunikasi sekaligus memperbanyak doa adalah ikhtiar yang tidak boleh dipisahkan.


Belajar Menyatukan Dua Hati

Terima kasih untuk Ustazah Dedeh atas kiat-kiat yang diberikan.

Bagi saya, komunikasi dalam pernikahan memang bukan sesuatu yang selesai dipelajari sekali lalu langsung mahir.

Keluargaku pun masih terus belajar. Ada kalanya salah paham. Ada kalanya salah memilih kata. Ada kalanya emosi lebih dulu muncul daripada akal sehat.

Tapi bukankah menikah itu memang perjalanan dua manusia dengan latar belakang, kebiasaan, dan karakter yang berbeda?

Maka wajar jika proses belajar itu terus berlangsung.

Yang penting, jangan berhenti berusaha.

Belajar mendengarkan. Belajar memahami. Belajar menyampaikan maksud dengan baik. Belajar menghilangkan prasangka. Belajar mengakui kesalahan. Dan yang tidak kalah penting, belajar melibatkan Allah SWT dalam setiap persoalan rumah tangga.

Semoga kita semua mampu membangun komunikasi suami istri yang sehat, sehingga dua hati yang berbeda bisa terus belajar menyatu dalam kebaikan.

Aamiin.

 

2 Comments:

  1. Aku bersyukur hubungan komunikasi ku Ama suami dari sejak pacaran selalu terbuka. Aku juga tipe yg blak2an sih mba. Kalo aku ga suka, ya aku bilang masalahnya di mana. Ga akan ada kata TERSERAH, dan pake kode. A big no buatku. Dan aku tekanin ke suami, aku ga suka segala macam kode, JD kalo dia ada ngerasa ga suka ATO ga enak, ya bilang langsung aja :).

    Itu kami terapin Ampe skr.

    Krn memang komunikasi hrs jelas. Kalo yg 1 takut2 utk menyampaikan, yg 1 lagi suka ga mendengar, kacau sih bakalan. Anak2 juga aku latih utk terbiasa kasih pendapat sendiri. Jgn cuma ngikut. Biar mereka juga berani dlm speak up.

    ReplyDelete
    Replies
    1. alhamdulillah komunikasi keluarga lancar ya mbak..

      Delete