Salah satu keterampilan yang wajib dimiliki
pasangan suami istri agar mampu menciptakan keluarga harmonis adalah komunikasi.
Hal ini sangat penting. Komunikasi yang baik dapat menghilangkan
kesalahpahaman, memunculkan kesepahaman, penerimaan, pemakluman, dan
perdamaian.
Keluargaku pun masih terus belajar tentang cara berkomunikasi yang baik. Makanya, penjelasan Ustazah Dedeh Wahidah dalam sebuah
video di channel MMC menjadi salah satu wawasan bagi kami untuk terus belajar
memperbaiki komunikasi dalam rumah tangga.
Ustazah Dedeh menjabarkan beberapa kiat
menjalin komunikasi yang baik dalam keluarga. Saya mencoba merangkumnya dan
menghubungkannya dengan kehidupan sehari-hari.
1. Luruskan niat untuk menyebarkan kebaikan
Dasar semua perbuatan adalah niat atau maksud
dari berbuat. Penting sekali bagi kita sebagai muslim untuk memperhatikan hal
ini.
Niat baik yang kuat tertanam akan melahirkan
cabang-cabang kebaikan lainnya. Begitu pula dalam berkomunikasi dengan
pasangan. Sedari awal kita perlu menyadari bahwa komunikasi bukan sekadar
menyampaikan apa yang ada di kepala, tetapi juga bagian dari usaha menyebarkan
kebaikan.
Allah SWT berfirman:
“Siapakah yang lebih baik perkataannya daripada
orang yang menyeru kepada Allah, mengerjakan amal yang saleh, dan berkata:
‘Sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang berserah diri?’”
(QS. Fussilat: 33)
Dari ayat tersebut kita bisa mengambil
pelajaran bahwa perkataan yang baik adalah perkataan yang mengajak kepada
kebaikan dan ketaatan.
Maka, sedari awal kita perlu memasang niat
untuk berkata yang baik-baik sesuai tuntunan Islam kepada siapa pun, termasuk
kepada pasangan.
Pentingnya berkata baik sampai-sampai
Rasulullah SAW mengingatkan bahwa siapa yang beriman kepada Allah dan hari
akhir hendaknya berkata baik atau diam.
Dalam Al-Qur'an pun terdapat larangan terhadap
berbagai bentuk perkataan buruk, seperti ghibah, fitnah, dan ejekan.
Jadi, sebelum bicara kepada pasangan, ada
baiknya kita bertanya kepada diri sendiri: Apa yang hendak saya sampaikan?
Untuk apa saya menyampaikannya? Apakah cara saya menyampaikannya akan membawa
kebaikan?
2. Sampaikan maksud dengan kalimat yang mudah
dipahami
Selanjutnya adalah soal teknik penyampaian.
Terkadang kita berbicara kepada orang lain
dengan maksud menyampaikan A, namun yang sampai kepada lawan bicara justru B.
“Nak, awas jangan main jauh-jauh, nanti ada
orang gila.”
Sering ibu-ibu berkata seperti itu kepada
anaknya. Maksudnya agar anak bermain di sekitar saja dan jangan sampai hilang
dari pandangan ibu.
Tapi bisa jadi yang ditangkap anak justru,
“Wih, takut ada orang gila.”
Atau terkadang anak malah mengabaikan karena
kalimat panjang kita tidak begitu dimengerti olehnya atau segera dilupakannya.
Dalam hubungan suami istri pun bisa terjadi hal
serupa.
Kadang salah satu pihak merasa sudah
menyampaikan sesuatu dengan jelas, tetapi pasangannya menangkap maksud yang
berbeda.
Bahkan, dalam keseharian, seseorang bisa saja
menggunakan isyarat atau kiasan ketika sebenarnya menginginkan sesuatu.
Ditanya mau makan apa, jawabnya, “Terserah.”
Atau dengan muka masam melakukan sesuatu,
padahal sebenarnya berharap suami ikut membantu.
Ketika sedang marah pun, kalimat yang keluar
terkadang berupa kata-kata kasar yang jauh dari maksud sebenarnya.
Dalam hal ini, kita perlu belajar memilih
kalimat yang tepat untuk menyampaikan maksud. Tujuannya agar apa yang ada di
kepala kita sedapat mungkin sama dengan apa yang sampai kepada lawan bicara.
Dan agar lebih mudah dilakukan, hindari
membicarakan persoalan penting ketika sedang dikuasai amarah.
3. Jauhi prasangka buruk dan biasakan tabayyun
Kita sama-sama mengaku ya bahwa poin ini cukup
sulit untuk dijalankan.
Barangkali tak ada satu pun manusia yang tak
pernah berprasangka. Sebab sifat kemanusiaan kita membuat potensi suuzan cukup
besar untuk dilakukan.
Namun kita harus ingat bahwa Allah SWT melarang
prasangka buruk.
Allah SWT berfirman:
“Jauhilah kebanyakan prasangka, sesungguhnya
sebagian prasangka itu dosa.”
(QS. Al-Hujurat: 12)
Kita pun menyadari, komunikasi yang dibangun
atas dasar prasangka tidak akan menghasilkan komunikasi yang baik. Akhirnya
yang muncul adalah tuduhan atau justifikasi yang disampaikan dengan nada
emosional.
Seperti contoh yang diberikan Ustazah Dedeh,
tentang suami yang pulang terlambat atau suami yang tidak makan masakan kita.
Kalau sejak awal kita sudah berprasangka
negatif kepada suami, maka kalimat yang keluar bisa saja:
“Kok lama kali? Ketemu siapa di luar? Main
perempuan ya?”
Atau:
“Kok nggak dimakan? Masakanku nggak enak ya?
Udah nggak suka lagi dengan masakanku?”
Kalau sudah begitu, bisa ditebak kelanjutannya
gimana.
Berantem.
Maka kita harus berupaya menghilangkan
prasangka buruk yang hendak hinggap di benak kita. Segera lakukan tabayyun,
yaitu mencari kejelasan dan meneliti kebenaran informasi sebelum mengambil
kesimpulan.
Allah SWT juga memerintahkan tabayyun dalam QS.
Al-Hujurat ayat 6.
Berpikir benar berarti berusaha menyesuaikan
informasi dengan fakta. Jangan sampai sesuatu yang sebenarnya sederhana justru
menjadi besar hanya karena kesimpulan yang kita buat sendiri.
4. Sampaikan kesalahan, bukan menyalahkan
Kalau pasangan melakukan kesalahan, sampaikan
kesalahannya. Jangan malah menyalahkan pribadinya.
Ciri menyalahkan biasanya dimulai dengan
pangkal kalimat:
“Pokoknya kamu salah.”
“Kamu sih suka gitu.”
“Kamu sih suka buat aku kesal.”
Sikap menyalahkan justru bisa membuat kita lupa
menyebutkan sebenarnya apa kesalahannya.
Akhirnya orang yang ditegur tidak terima dengan
ucapan kita karena dia pun tidak tahu di mana letak kesalahannya.
Ustazah Dedeh memberikan contoh suami yang
merasa tidak senang ketika istrinya membawa seorang teman ke rumah.
Kemudian si suami hanya merengut atau
membanting pintu tanpa menjelaskan apa masalahnya.
Seharusnya, setelah temannya pulang, suami
menyampaikan bahwa ia tidak nyaman dengan tindakan tersebut. Jelaskan pula
alasannya dan sampaikan dengan cara yang baik.
Begitu pula sebaliknya.
Kalau pasangan salah, jelaskan perilakunya
yang salah, bukan menyerang dirinya sebagai pribadi.
Ini memang membutuhkan latihan. Tapi kalau
terus dibiasakan, komunikasi suami istri akan jauh lebih sehat.
5. Berkomunikasilah untuk menyelesaikan masalah
Dorongan berkomunikasi dengan pasangan
seharusnya bukan untuk mencari siapa yang menang dan siapa yang kalah.
Komunikasi dalam rumah tangga seharusnya
diarahkan untuk menyelesaikan masalah yang dihadapi bersama.
Suami istri diperintahkan untuk bergaul dengan
cara yang makruf, sebagaimana Allah SWT berfirman dalam Al-Qur'an surat An-Nisa
ayat 19.
Kebaikan tersebut salah satunya dapat
ditunjukkan melalui komunikasi yang sehat.
Ketika ada masalah, bicarakan.
Ketika ada kesalahpahaman, luruskan.
Ketika ada kebutuhan yang belum terpenuhi,
sampaikan.
Jangan malah saling diam, saling menunggu, atau
berharap pasangan bisa membaca pikiran kita.
Insya Allah, komunikasi yang diarahkan untuk
mencari solusi akan menumbuhkan rasa nyaman di antara suami dan istri.
Baca Juga: 5 Hal Menyebalkan Dari Pasangan Yang Masih Bisa Dimaklumi
6. Jauhi sikap arogan saat pasangan berbicara
Di antara sikap yang menunjukkan arogansi dalam
komunikasi adalah ketika suami sedang diajak bicara oleh istrinya tetapi tetap
fokus memandang layar HP.
Atau sebaliknya, ketika istri sedang diajak
bicara suami tetapi malah sibuk melakukan pekerjaan lain dan tidak memberikan
perhatian.
Komunikasi yang baik membutuhkan kesediaan
untuk mendengarkan.
Ketika pasangan berbicara, berusahalah menatap
ke arahnya dan memberikan perhatian. Pandangan yang terus-menerus dialihkan
bisa membuat lawan bicara merasa tidak dihargai.
Termasuk memotong pembicaraan, hanya mau
didengarkan tetapi tidak mau mendengarkan.
Sikap seperti itu tentu tidak baik.
Meskipun kita merasa benar dan pasangan yang
salah, bukan berarti kita boleh meremehkannya.
Allah SWT memerintahkan kita untuk bersikap
rendah hati, sebagaimana disebutkan dalam QS. Al-Furqan ayat 63.
Termasuk kepada pasangan, sikap rendah hati
bisa melancarkan komunikasi dan memberikan kenyamanan bagi kedua belah pihak.
7. Berkomunikasilah dengan perasaan dan empati
Berkomunikasi dengan pasangan bukan hanya soal
menyampaikan kalimat, tetapi juga memahami perasaan orang yang kita ajak
bicara.
Kita harus mencoba mendudukkan posisi pasangan
pada posisi kita.
Kalau kita tidak suka mendengar kalimat kasar
diucapkan kepada kita, seharusnya kita pun tidak menyampaikan kalimat seperti
itu kepada pasangan.
Kalau kita sedang letih dan tidak nyaman diajak
bicara dengan nada tinggi, jangan pula kita mengajak pasangan berbicara dengan
cara yang sama ketika dia sedang kelelahan.
Itulah empati.
Mencoba merasakan sesuatu sebagaimana perasaan
orang lain.
Dengan empati, kita belajar untuk tidak
melakukan kepada pasangan hal-hal yang sebenarnya tidak kita sukai jika
dilakukan kepada diri kita.
Sederhana, tetapi praktiknya memang tidak
selalu mudah. Hehe.
8. Jangan menggeneralisasi kesalahan pasangan
Ini juga sering kita lakukan ya.
Sekali orang lain salah, rasanya dalam semua
hal dia pasti salah.
Padahal bisa jadi dalam satu hal dia memang
salah, tetapi dalam hal lain ternyata dia benar.
Kita harus menghindari sikap seperti ini dengan
menyadari bahwa manusia tidak selalu benar dan manusia juga tidak selalu salah.
Jangan karena pasangan pernah melakukan
kesalahan, kemudian semua perkataannya dianggap salah.
Jangan pula satu kesalahan dijadikan alasan
untuk membuka kembali semua kesalahan masa lalu.
Kalau setiap masalah selalu ditarik ke
masalah-masalah sebelumnya, kapan selesainya?
Belajar melihat masalah secara proporsional
akan membuat komunikasi suami istri jauh lebih sehat.
9. Sertakan doa dalam komunikasi dengan
pasangan
Terakhir, dalam berkomunikasi kita jangan lupa
berdoa kepada Allah SWT.
Lagi-lagi Ustazah Dedeh mengingatkan kita
kepada Allah SWT.
Allah Maha Membolak-balikkan hati manusia.
Saat kita ingin pasangan membuka hati untuk
menerima nasihat atau memahami ucapan kita, seharusnya kita tidak hanya
mengandalkan kemampuan berbicara.
Kita juga memohon pertolongan Allah SWT agar
hati pasangan dilembutkan dan komunikasi di antara kami dipenuhi kebaikan.
Sebab terkadang kita sudah merasa memilih
kata-kata yang tepat, tetapi hati orang yang kita ajak bicara tetap sulit
menerima.
Di situlah kita sadar bahwa kemampuan manusia
terbatas.
Maka, berusaha memperbaiki cara
berkomunikasi sekaligus memperbanyak doa adalah ikhtiar yang tidak boleh
dipisahkan.
Belajar Menyatukan Dua Hati
Terima kasih untuk Ustazah Dedeh atas kiat-kiat
yang diberikan.
Bagi saya, komunikasi dalam pernikahan memang
bukan sesuatu yang selesai dipelajari sekali lalu langsung mahir.
Keluargaku pun masih terus belajar. Ada kalanya salah paham. Ada kalanya salah memilih kata. Ada kalanya emosi lebih dulu muncul daripada akal sehat.
Tapi bukankah menikah itu memang perjalanan dua
manusia dengan latar belakang, kebiasaan, dan karakter yang berbeda?
Maka wajar jika proses belajar itu terus
berlangsung.
Yang penting, jangan berhenti berusaha.
Belajar mendengarkan. Belajar memahami. Belajar
menyampaikan maksud dengan baik. Belajar menghilangkan prasangka. Belajar
mengakui kesalahan. Dan yang tidak kalah penting, belajar melibatkan Allah SWT
dalam setiap persoalan rumah tangga.
Semoga kita semua mampu membangun komunikasi
suami istri yang sehat, sehingga dua hati yang berbeda bisa terus belajar
menyatu dalam kebaikan.
Aamiin.

Aku bersyukur hubungan komunikasi ku Ama suami dari sejak pacaran selalu terbuka. Aku juga tipe yg blak2an sih mba. Kalo aku ga suka, ya aku bilang masalahnya di mana. Ga akan ada kata TERSERAH, dan pake kode. A big no buatku. Dan aku tekanin ke suami, aku ga suka segala macam kode, JD kalo dia ada ngerasa ga suka ATO ga enak, ya bilang langsung aja :).
ReplyDeleteItu kami terapin Ampe skr.
Krn memang komunikasi hrs jelas. Kalo yg 1 takut2 utk menyampaikan, yg 1 lagi suka ga mendengar, kacau sih bakalan. Anak2 juga aku latih utk terbiasa kasih pendapat sendiri. Jgn cuma ngikut. Biar mereka juga berani dlm speak up.
alhamdulillah komunikasi keluarga lancar ya mbak..
Delete