26 Desember 2019

Berani Membuka Pintu Rezeki



Allah swt tak pernah ingkar janji. Jaminan rizki dariNya itu benar. Kuncinya dua. Yakin dan usaha. Satu pengalaman tentang datangnya rizki dari arah tak terduga terjadi pada kami. Di usia pertama pernikahan kami, kondisi keuangan keluarga belum stabil seperti sekarang. Suamiku bisnis bimbingan belajar kecil - kecilan. Hanya itu. Belum ada usaha tambahan. Waktu itu penghasilannya hanya cukup untuk kebutuhan sehari – hari dan menabung untuk sewa rumah.

Akhir semester genap adalah libur terpanjang bagi usaha suamiku. Sebab murid – murid bimbel kebanyakan adalah siswa kelas akhir, yang tengah persiapan UN. Sekitar bulan April UN dilaksanakan. UN berlangsung, jumlah murid bimbel pun menurun drastis. Tersisa sedikit murid dari kelas lain. Sebulan kemudian mereka pun ujian dan libur les pula. Bulan tujuh awal sekolah baru dimulai lagi.

Artinya, bisa dikatakan selama dua bulan lebih hampir – hampir tak ada penghasilan yang kami dapatkan. Hingga keuangan kami mulai seret. Tambah seret. Makin seret.

Masa liburan masih tersisa sebulan lebih waktu itu, uang di tangan tinggal dua puluh ribu. Ada beberapa pilihan bagi kami. Pertama, menghemat uang tersebut hingga masa libur usai. Makan nasi pakai garam misalnya. Karena beras masih ada. Tinggal beli garam. Kedua, berhutang. Tapi pilihan ini tidak disukai suamiku. Ketiga, menjadikan uang dua puluh ribu itu sebagai modal buka pintu rezeki.

Suamiku memilih alternatif ketiga. Dengan keyakinan bahwa setiap yang hidup pasti ada rezekinya. Siapa yang berusaha, Allah swt pasti menghargai usaha tersebut. Allah maha penyayang, akan memberi rezeki pada siapa yang kehendakiNya. Kami yakin Allah swt tidak akan meninggalkan kami.

Saat itu keahlian suamiku hanya mengajar. Maka suamiku memutuskan mencoba mencari murid privat. Padahal kalau ditimbang pakai akal, siapa sih yang mau les masa libur begitu? Ada sih satu dua orangtua yang memilih mengkursuskan anaknya di masa libur. Daripada main terus, ntar lupa dengan pelajaran, mending liburan diisi kursus. Kata mereka. Tapi orang – orang seperti itu langka.

Ya, tapi kalau nggak dicoba nggak bakal tahu hasilnya. Akhirnya suamiku nekat saja. Uang yang hanya dua puluh ribu di tangan itu dibuat cetak brosur cari anak les privat. Brosur difotocopy secukup uang tersebut. Di masa remedial menuju hari bagi raport, kami membagi brosur tersebut ke sekolah – sekolah swasta ternama di sekitar tempat tinggal kami.

Hari pertama selesai bagi brosur. Di rumah kami menunggu panggilan dari telepon. Ternyata belum ada yang menghubungi. Hari kedua membagi brosur lagi. Sore harinya ada dua telepon yang masuk menanyakan lebih lanjut tentang les. Salah satu dari telepon itu tertarik bertemu langsung dengan suamiku. Kami diundang ke rumahnya untuk pembicaraan lebih lanjut.

Di rumah besar itu suamiku bernegosiasi tentang les. Bapak tersebut punya anak kelas 5 SD dan ingin dileskan sebagai kegiatan liburan. Suamiku pasang tarif lima puluh ribu per pertemuan. Seminggu tiga kali pertemuan.

Alhamdulillah saat itu kami senang. Negosiasi berjalan lancar. Anak itu jadi les. Namun kami tercengang. Karena si bapak masuk sebentar ke dalam lalu kembali dengan amplop berisi uang. Diserahkan amplop itu ke suamiku dengan ucapan, “Om untuk lima pertemuan dulu ya.”

Dimana – mana, yang namanya les privat, guru dibayar belakangan. Sebab guru yang datang ke rumah murid. Lah kalau uang les dikasih di depan, bisa saja guru tak datang lagi. Penipu hari gini kan banyak.

Tapi itulah namanya rezeki. Allah swt maha membolak balik hati. Si bapak percaya dengan suamiku. Tsumma alhamdulillah. Kami pun tak jadi makan nasi pakai garam. Dan tak sempat berutang. 

Dari ceritaku, ku berpesan padamu kawan. Yakinlah akan janji rezeki dari Allah. Berusahalah dengan jalan yang halal untuk membuka pintu – pintu rezeki. Insya allah rezeki Allah akan datang dari pintu yang dikehendakiNya

2 komentar: