Badki, Perempuan Yang Terpaksa Jatuh Ke Lembah Prostitusi Demi Keluarga

 

https://jatim.idntimes.com/

India menjadi salah satu negara paling tidak ramah pada perempuan. Sebuah film berjudul Laaga Chunari Mein Daag yang dibintangi aktris bollywood ternama Rani Mukherji, menggambarkan rentannya perempuan kehilangan kehormatan disana.

Diceritakan tokoh utama bernama Badki merupakan anak pertama dari dua bersaudara. Ayahnya telah pensiun dari pekerjaannya dan ibunya membantu ekonomi keluarga dengan menjahit. Mereka tinggal di rumah warisan, terletak di dekat sungai gangga.

Makin hari ekonomi mereka makin menurun. Ditambah lagi adik dari ayah Badki mempersoalkan kepemilikan rumah warisan tersebut. Dia minta bagian dari rumah itu.

Sempat ada sedikit harapan saat sebuah tim pembuat film bermaksud menyewa rumah keluarga Badki untuk syuting film. Bahkan uang muka sudah diserahkan ke ibu Badki. Namun ketika uang muka tersebut sudah terpakai untuk keperluan harian, syuting dibatalkan. Keluarga Badki harus membayar utang.

Inilah puncak keterpurukan ekonomi keluarga Badki. Lalu ayah Badki meluapkan amarah atas sengsara itu pada Badki sebagai anak sulung. “Andai saja anak pertamaku adalah laki – laki”.

Sindiran ayah Badki menjadi dorongan kuat baginya untuk berjuang memperbaiki ekonomi keluarga. Kebetulan Badki memiliki nomor telepon salah satu kru film yang pernah ingin menyewa rumah keluarganya untuk syuting.

Baca Juga: Kala Perempuan Cerdas Dan Ambisius Bercita-Cita

Badki pun memutuskan pergi ke kota. Ia menumpang sementara di rumah kru fim itu sambil mencari kerja. Namun karena Badki berpendidikan rendah, sangat sulit baginya mendapatkan pekerjaan.

Selama tinggal di rumah kru film itu, Badki memperoleh seorang teman lelaki. Kepada teman lelakinya itu kemudian ia meminta bantuan dicarikan pekerjaan. Saat berada di ruang kerja temannya itu, Badki bertemu bos temannya.

Ini awal dari hancurnya kehormatan Badki. Bos itu menawarkannya sebuah pekerjaan dengan syarat Badki mau tidur bersamanya. Tadinya Badki menolak. Dia bertekad hendak pulang. Tapi ucapan ibunya di telepon saat dihubungi mengurungkan niatnya. Keluarganya benar – benar berharap Badki bisa memberi uang pada mereka.

Ini momen yang sangat menyedihkan. Saat Badki dengan berat hati memutuskan menerima tawaran si bos. Malangnya setelah kehormatannya hancur, ia ditipu si bos. Pekerjaan yang dijanjikan tak ada. Justru Badki diminta untuk melayani nafsu bejat si bos seterusnya dengan sejumlah bayaran.

Badki sangat marah. Sangat membenci si bos. Dia tak menerima tawaran itu. Namun dia merasa sudah terlanjur basah. Tawaran si bos adalah ide yang membuka peluang membantu ekonomi keluarganya.

Badki bisa saja mencari pekerjaan yang sederhana dengan honor kecil. Dia bisa bertahan hidup dan mengumpulkan uang tanpa harus kehilangan kehormatannya.

Tapi keluarga mendesaknya untuk segera menghasilkan uang dalam jumlah banyak. Badki merasa keadaan menjepit dirinya. Pikirannya buntu, tak bisa berpikir lain selain mewujudkan keinginan orangtua. Alhasil dia menggeluti profesi sebagai pelacur.

Baca Juga: Peran Ibu Mengakhiri Penjajahan (Resensi Buku)

***

Tak jauh berbeda dengan India. Cerita hidup perempuan yang menjual diri karena terpaksa juga ada di berbagai negeri termasuk negeri kita. Ntah dijual orangtua. Ntah ditipu oleh teman yang awalnya menjanjikan pekerjaan, namun ternyata menggiringnya ke lembah prostitusi.

Benar pendapat yang mengatakan, bahwa kita tak boleh menghakimi PSK. Sebab kita tak tahu seperti apa pahitnya perjalanan hidup yang ia tempuh hingga jatuh ke lubang hina.

Namun larangan menyalahkan mereka bukan berarti harus menghormati profesinya mereka, lantas membiarkan prostitusi tetap ada. Tak layak ada pro kontra dikalangan masyarakat tentang prostitusi. Bagaimanapun prilaku perzinaan tidak dibenarkan oleh Allah swt.

***

Pelaku prostitusi tak sepenuhnya salah. Namun tetap ada satu pihak yang punya peran besar untuk bertanggung jawab atas hal ini. Komisioner Komnas HAM Dianto Bachriadi saat mengomentari perihal penutupan prostiusi Dolly pernah berkomentar bahwa pihak yang bertanggung jawab untuk pelanggaran HAM itu adalah negara.

Saya setuju dengan hal itu. Sebab sebagaimana kata Rocky Gerung, pemerintah menguasai seluruh perangkat negara yang memungkinkannya mengendalikan keadaan. Pemerintah bisa menciptakan lingkungan yang baik sehingga rakyatnya hidup dengan mengikuti arus kebaikan.

Demikian sebaliknya, saat pemerintah memberlakukan aturan yang buruk di tengah – tengah masyarakat, maka arus keburukan itu pun bisa menghanyutkan masyarakat ke dalam kehidupaan yang buruk.

Baca Juga: 5 Rubrik Favorit Di Channel Youtube MMC

Dianto berpendapat bahwa prostitusi Dolly berdiri akibat gagalnya pemerintah memberikan pekerjaan dan penghidupan yang layak untuk rakyat. (https://nasional.republika.co.id/Kamis 12/06/2014)

Begitulah adanya. Urusan memenuhi kebutuhan primer berupa sandang, papan, utamanya pangan tak bisa ditunda – tunda. Harus setiap harinya terpenuhi. Dalam kondisi sulitnya mendapat pekerjaan yang memadai untuk memenuhi kebutuhan hidup minimal tersebut, orang pun menjadi mudah jatuh ke dalam profesi buruk.

***

Makanya peran pemerintah untuk menjamin rakyat mendapat pekerjaan yang layak, sangat penting. Dianto menyebut hal ini sebagai masalah hulu. Percuma memberantas masalah di hilir jika masalah hulu tak diselesaikan.

Menyelesaikan masalah hulu berarti perbaikan terhadap sepaket sistem yang saling berkaitan dengan ekonomi, yakni pendidikan, politik, sosial, media dan sanksi. Sistem politik yang baik berperan menghasilkan pemimpin amanah. Sistem pendidikan berperan mewujudkan individu – individu yang baik di semua lini.

Sistem sosial dan sistem pengaturan media yang baik berperan meredam berbagai hasrat buruk dan mengarahkannya pada pemenuhan naluri yang sehat. Disempurnakan dengan sistem sanksi yang tegas hingga membuat orang jera berbuat buruk.

***

Saya pastikan sepaket sistem yang baik ini tak mampu diwujudkan oleh asas sekulerisme seperti asas kehidupan bermasyarakat dan bernegara negeri kita hari ini. Sekulerisme adalah ide dasar yang mengharuskan pemisahan agama dari kehidupan. Sehingga kepengurusan negara diatur menurut kehendak manusia.

Bila manusia mengatur urusan manusia lainnya sesuai kehendaknya, maka yang terjadi adalah egoisme. Tak heran penguasa hari ini nyaman dengan sistem politik demokrasi. Karena demokrasi memberi peluang mereka yang tak amanah itu untuk berkuasa.

Wajar sistem ekonomi kapitalisme terus dijalankan. Meski efeknya negara banyak utang dan terjadi pemiskinan secara sistemik yang diderita rakyat. Karena dengan kapitalisme penguasa dan para konglomerat bisa asyik saling bermitra meraih tujuan masing – masing.

Baca Juga: Suami Ridho Atas Wafatnya Rina Gunawan

Mereka tak perlu merasa bertanggung jawab menciptakan pemerataan kesejateraan rakyat. Karena kapitalisme memang membatasi peran negara sebatas regulator.

Penguasa yang berkuasa dengan aturan buatannya sendiri tak segan memberlakukan sistem sosial dan media yang liberal. Padahal liberalisme yang merangsang para lelaki untuk memenuhi hasrat seksualnya sembarangan.

Semua itu tak jadi persoalan bagi penguasa, selagi harta dan tahta tetap dalam genggaman. Bahkan banyak para pejabat yang kedapatan turut menikmati dunia prostitusi. Bukan memberantas prostitusi, justru menjadi bagian darinya.

Sistem sanksi pun mereka kendalikan agar bisa diperjual belikan. Tak penting baginya berbuat adil. Sebab isi otak mereka melulu kepentingan pribadi.

Perhatikan kehidupan bernegara kita hari ini. Faktanya memang begitu kan. Sebagaimana yang saya singgung secara umum di atas. Masih mau tetap hidup berasaskan sekulerisme?

Kalau saya sih ogah. Saya mengenal Islam sebagai pandangan hidup sempurna yang mengatur seluruh aspek hidup manusia, baik tentang ibadah, makanan/ minuman, pakaian, akhlak, muamalah dan sanksi.

Pengaturan hidup bernegara yang baik hanya bisa dilakukan oleh sistem Islam berasaskan akidah Islam. Sistem politik, ekonomi, pendidikan, sosial, media dan sanksi Islam akan mewujudkan kehidupan bernegara yang sehat. Dengan syariah Islam kehidupan kita akan terbebas dari prostitusi, kehormatan manusia bisa terjaga dan kesejahteraan dirasakan rakyat secara merata. Wallahu a’lam bishawab.

Baca Juga: Antara Pisang Ambon Dan Aturan Hidup

Tidak ada komentar:

Posting Komentar