India menjadi salah satu negara yang menghadapi berbagai persoalan terkait perlindungan dan kehidupan perempuan. Sebuah film berjudul Laaga Chunari Mein Daag menggambarkan bagaimana tekanan ekonomi dan keadaan sosial dapat membuat seorang perempuan berada dalam situasi yang sangat sulit.
Diceritakan tokoh utama bernama Badki, anak pertama dari dua bersaudara. Ayahnya telah pensiun dari pekerjaan, sementara ibunya membantu ekonomi keluarga dengan menjahit. Mereka tinggal di sebuah rumah warisan yang terletak di dekat Sungai Gangga.
Makin hari kondisi ekonomi keluarga mereka makin menurun. Ditambah lagi, adik dari ayah Badki mempersoalkan kepemilikan rumah warisan tersebut dan meminta bagian dari rumah itu.
Sempat ada sedikit harapan ketika sebuah tim pembuat film bermaksud menyewa rumah keluarga Badki untuk keperluan syuting. Uang muka bahkan sudah diberikan kepada ibunya. Namun, ketika uang tersebut telah digunakan untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari, syuting dibatalkan. Keluarga Badki pun harus menghadapi persoalan utang.
Inilah puncak keterpurukan ekonomi keluarga Badki.
Ayahnya meluapkan kekecewaan kepada Badki sebagai anak sulung.
“Andai saja anak pertamaku adalah laki-laki.”
Ucapan tersebut justru menjadi dorongan kuat bagi Badki untuk berusaha memperbaiki kondisi ekonomi keluarganya.
Kebetulan Badki masih memiliki nomor telepon salah seorang kru film yang sebelumnya ingin menyewa rumah keluarganya. Ia pun memutuskan pergi ke kota untuk mencari pekerjaan.
Baca Juga: Kala Perempuan Cerdas dan Ambisius Bercita-Cita
Badki tinggal sementara di rumah kru film tersebut sambil mencari pekerjaan. Namun karena pendidikannya terbatas, tidak mudah baginya mendapatkan pekerjaan.
Selama berada di kota, Badki memperoleh seorang teman lelaki. Kepada temannya itu ia meminta bantuan untuk mencarikan pekerjaan. Dari sinilah Badki kemudian bertemu dengan seorang pengusaha yang menawarkan pekerjaan kepadanya dengan syarat yang tidak pantas.
Badki menolak tawaran tersebut dan berniat pulang. Namun ketika berbicara dengan ibunya melalui telepon, ia kembali teringat kondisi keluarganya yang sangat membutuhkan uang.
Dalam keadaan terdesak, Badki akhirnya mengambil keputusan yang kemudian mengubah kehidupannya. Ia masuk ke lingkungan prostitusi dan semakin sulit keluar dari lingkaran tersebut.
Badki sebenarnya bisa saja mencari pekerjaan sederhana dengan penghasilan kecil. Ia mungkin harus menjalani hidup yang lebih sulit, tetapi tetap memiliki kesempatan untuk memperoleh penghasilan tanpa masuk ke lingkungan prostitusi.
Namun tekanan ekonomi dan tuntutan untuk segera menghasilkan banyak uang membuat pilihan itu terasa semakin sempit baginya.
Baca Juga: Peran Ibu Mengakhiri Penjajahan (Resensi Buku)
Jangan Menghakimi, tetapi Jangan Membiarkan Prostitusi
Kisah seperti Badki bukan hanya terjadi dalam film. Di berbagai tempat, ada perempuan yang masuk ke lingkungan prostitusi karena tekanan ekonomi, tipu daya, perdagangan manusia, atau keadaan hidup yang sulit.
Karena itu, kita perlu berhati-hati dalam menghakimi seseorang tanpa mengetahui perjalanan hidupnya.
Namun tidak menghakimi seseorang bukan berarti membenarkan prostitusi.
Prostitusi tetap merupakan persoalan yang harus diselesaikan. Masyarakat tidak seharusnya membiarkannya berkembang hanya dengan alasan bahwa orang yang terlibat di dalamnya sedang menghadapi kesulitan hidup.
Dalam pandangan Islam, perzinaan merupakan perbuatan yang dilarang. Karena itu, penyelesaiannya bukan sekadar menyalahkan orang yang berada di dalam lingkaran tersebut, tetapi juga mencegah faktor-faktor yang membuat seseorang mudah terjerumus.
Masalah Prostitusi Tidak Hanya di Hilir
Pelaku prostitusi tidak selalu dapat dilihat hanya dari satu sisi. Ada yang memilih karena dorongan ekonomi, ada yang menjadi korban penipuan, bahkan ada yang masuk karena eksploitasi dan perdagangan manusia.
Karena itu, penanganannya tidak cukup hanya dengan menertibkan tempat prostitusi. Masalah di bagian hulu juga harus diperhatikan.
Negara memiliki peran penting dalam menciptakan kondisi yang memungkinkan masyarakat memperoleh pekerjaan dan kehidupan yang layak. Ketika kebutuhan dasar sulit dipenuhi dan kesempatan kerja terbatas, masyarakat yang berada dalam kondisi rentan akan semakin mudah dieksploitasi.
Masalah ekonomi juga tidak berdiri sendiri. Pendidikan, kehidupan sosial, media, kebijakan negara, dan penegakan hukum semuanya saling berkaitan.
Pendidikan yang baik dapat membentuk individu yang memiliki ilmu dan karakter. Lingkungan sosial yang sehat membantu masyarakat menjaga diri. Media yang bertanggung jawab tidak seharusnya menjadikan eksploitasi seksual sebagai tontonan. Sementara hukum yang tegas diperlukan untuk memberikan perlindungan kepada korban dan memberikan efek jera kepada pelaku eksploitasi.
Mengapa Islam Menawarkan Solusi yang Menyeluruh?
Saya memandang persoalan ini tidak cukup diselesaikan hanya dengan pendekatan ekonomi.
Akar persoalannya juga berkaitan dengan bagaimana manusia memandang kehidupan, bagaimana masyarakat mengatur hubungan antarindividu, bagaimana negara menjalankan tanggung jawabnya, dan bagaimana hukum diterapkan.
Saya tidak yakin sekularisme mampu memberikan penyelesaian yang menyeluruh karena sekularisme memisahkan agama dari pengaturan kehidupan publik.
Akibatnya, berbagai persoalan kehidupan lebih banyak diserahkan kepada aturan yang dibuat manusia.
Sementara Islam memandang kehidupan manusia sebagai satu kesatuan. Islam mengatur ibadah, akhlak, makanan dan minuman, pakaian, muamalah, keluarga, hingga aturan sosial dan hukum.
Dalam persoalan prostitusi, Islam tidak hanya berbicara tentang larangan zina. Islam juga mengajarkan penjagaan kehormatan, keluarga, pendidikan, pergaulan, serta tanggung jawab negara terhadap masyarakat.
Dengan demikian, pencegahan dilakukan dari berbagai sisi: membangun individu yang bertakwa, keluarga yang kuat, masyarakat yang menjaga kehormatan, sekaligus negara yang bertanggung jawab memenuhi kebutuhan rakyat dan menegakkan hukum.
Bagi saya, inilah pentingnya melihat persoalan prostitusi dari akar masalahnya, bukan sekadar sibuk menangani akibatnya.
Kehormatan manusia harus dijaga. Perempuan harus dilindungi dari eksploitasi. Keluarga harus diperkuat. Dan masyarakat harus memiliki sistem yang mencegah manusia jatuh ke dalam kehidupan yang merusak.
Wallahu a'lam bishawab.


0 Comments
Post a Comment