![]() |
| dok. pribadi |
Seorang teman bercerita tentang teman bermain anak balitanya. Bocah lelaki berusia 5 tahun itu melakukan tindakan yang tidak pantas terhadap teman perempuannya.
Mengerikan, tentu saja.
Ibu beranak dua ini kemudian teringat masa kecilnya sekitar 30 tahun lalu. Ia juga dulu sering bermain bersama anak laki-laki. Namun, menurut pengalamannya, perilaku seperti itu tidak pernah terjadi.
Kini, orangtua menghadapi tantangan yang berbeda. Anak-anak dapat terpapar berbagai informasi dari lingkungan maupun dunia digital sejak usia sangat dini. Karena itu, perlindungan anak tidak cukup hanya dengan memastikan mereka bermain di tempat yang aman.
Orangtua juga perlu memperhatikan apa yang dilihat, didengar, dan dipelajari anak.
Anak adalah Peniru Ulung
Ketika anak menunjukkan perilaku yang tidak sesuai dengan usianya, orangtua tidak seharusnya hanya memarahinya. Yang lebih penting adalah mencari tahu dari mana anak memperoleh pengetahuan atau perilaku tersebut.
Anak bisa saja meniru apa yang dilihat dari lingkungan sekitar. Bisa pula memperoleh informasi dari televisi, internet, media sosial, permainan digital, atau perangkat yang digunakan tanpa pendampingan.
Dunia digital memang memberikan banyak manfaat. Namun, di sisi lain, anak juga dapat berhadapan dengan konten yang belum sesuai dengan usia mereka.
Survei KPAI pada masa pandemi menemukan bahwa 22% anak yang mengakses internet dalam survei tersebut mengaku pernah melihat tayangan atau iklan tidak sopan. Data ini menunjukkan bahwa pendampingan orangtua dalam penggunaan internet memang tidak bisa dianggap sepele.
KPAI juga pernah menyoroti berbagai persoalan perlindungan anak di ruang digital, termasuk paparan konten negatif dan risiko kejahatan siber.
Pengawasan Orangtua Tetap Penting
Saya teringat teman yang lain. Ibu ini cukup perhatian terhadap anak-anaknya. Ia berusaha mengutamakan pengasuhan dan tidak membiarkan anak menggunakan gawai tanpa batas.
Ketika menghadiri kajian Islam atau majelis ilmu, anak-anaknya sering ikut serta. Mereka pun memiliki kesempatan bermain dan bersosialisasi dengan anak-anak lainnya dalam lingkungan yang menurut orangtuanya lebih terarah.
Namun, suatu hari ketika keluarga besar berkumpul, anak-anak bermain bersama sepupu-sepupunya. Saat hendak pergi ke toilet, sang ibu melihat mereka berkumpul di bagian belakang rumah.
Ternyata mereka sedang melihat sesuatu dari sebuah ponsel yang tidak sesuai untuk usia mereka.
Betapa terkejutnya sang ibu.
Peristiwa seperti ini menunjukkan bahwa pengawasan tidak boleh berhenti hanya karena anak berada bersama keluarga atau teman sebaya. Anak-anak memiliki rasa ingin tahu yang besar. Jika tidak dibimbing, rasa ingin tahu itu bisa membawa mereka kepada sesuatu yang belum mampu mereka pahami.
Jangan Hanya Menyalahkan Anak
Ketika anak melakukan sesuatu yang tidak pantas, kita perlu berhati-hati dalam menyikapinya.
Anak tetap harus diberi batasan dan diajarkan bahwa perilaku tersebut salah. Namun, anak juga perlu dipahami sebagai pribadi yang sedang belajar dan berkembang.
Jangan sampai orang dewasa langsung memberikan cap buruk kepada anak, padahal tugas kita adalah mencari tahu sumber perilakunya, memberikan pendidikan yang benar, serta memastikan ia tidak kembali terpapar hal yang sama.
Di sinilah peran orangtua menjadi sangat penting.
Baca Juga: Melindungi Anak dari Kekerasan, Butuh Aksi Nyata
Anak Membutuhkan Lingkungan yang Sehat
Tumbuh kembang anak tidak hanya dipengaruhi oleh keluarga. Lingkungan pergaulan, pendidikan, media, dan kebijakan yang mengatur ruang digital juga memiliki pengaruh.
Orangtua memang memiliki tanggung jawab besar. Tetapi mereka juga membutuhkan dukungan lingkungan dan negara.
Orangtua yang bekerja sepanjang hari, misalnya, menghadapi tantangan berbeda dalam mengawasi aktivitas anak. Karena itu, persoalan pengasuhan tidak bisa dibebankan kepada keluarga semata.
Negara juga memiliki tanggung jawab dalam menyediakan sistem pendidikan yang baik, lingkungan digital yang lebih aman bagi anak, serta perlindungan yang kuat terhadap anak.
Dunia Digital Membutuhkan Pengawasan
Kita tidak mungkin menghindarkan anak dari teknologi sepanjang hidupnya.
Karena itu, yang diperlukan bukan sekadar melarang anak menggunakan gadget, tetapi juga memberikan pendidikan dan pendampingan.
Orangtua perlu mengetahui apa yang ditonton anak, aplikasi apa yang digunakan, dengan siapa anak berinteraksi, serta bagaimana menjelaskan kepada anak tentang batasan tubuh, privasi, dan perilaku yang pantas.
Anak juga perlu diajarkan bahwa apabila melihat sesuatu yang membuatnya bingung atau tidak nyaman, ia harus berani bercerita kepada orang dewasa yang dipercaya.
Pendidikan Moral Tidak Bisa Diabaikan
Menurut saya, persoalan ini pada akhirnya bukan hanya persoalan teknologi.
Ada persoalan pendidikan, keluarga, lingkungan, dan nilai yang menjadi pedoman kehidupan.
Ketika anak tumbuh dalam lingkungan yang membiarkan berbagai perilaku tidak pantas dianggap biasa, sementara pendidikan moral semakin lemah, tentu orangtua akan semakin berat dalam membimbing mereka.
Karena itu, kita membutuhkan perbaikan bukan hanya pada teknologi dan aturan, tetapi juga pada cara pandang manusia terhadap kehidupan.
Kita perlu menyadari bahwa anak bukan sekadar pengguna teknologi, tetapi amanah yang harus dijaga.
Islam Mengajarkan Perlindungan dan Pendidikan Anak
Bila kita membutuhkan aturan hidup yang mengajarkan moral dan menjaga kehormatan manusia, Islam memiliki seperangkat aturan yang mengatur kehidupan secara menyeluruh.
Islam mengajarkan keluarga untuk mendidik anak, menjaga pergaulan, menjaga kehormatan, serta membangun lingkungan yang baik.
Pendidikan tidak hanya bertujuan membuat anak pintar secara akademis, tetapi juga membentuk kepribadian dan akhlak.
Karena itu, perlindungan anak tidak cukup hanya dengan memasang aplikasi pengawasan di gadget atau melarang anak bermain di luar rumah.
Anak membutuhkan orangtua yang hadir, pendidikan yang benar, lingkungan yang baik, dan masyarakat yang peduli.
Semoga kita tidak terlambat menyadari bahwa menjaga anak bukan hanya tugas ibu dan ayah. Ia adalah tanggung jawab kita bersama.
Dan sebagai seorang Muslim, sudah semestinya kita kembali mempelajari bagaimana Islam mengatur pendidikan, keluarga, pergaulan, media, dan kehidupan masyarakat agar anak-anak kita tumbuh dalam lingkungan yang lebih baik.


0 Comments
Post a Comment