Belum lama aku menjenguk seorang teman yang sedang mengalami musibah. Anaknya wafat dalam kandungan di usia enam bulan. Anak ini sangat diharapkan kehadirannya, sebab kedua kakaknya sudah cukup besar. Keluarga ini begitu merindukan kembali hadirnya seorang bayi di rumah mereka.
Rasanya pasti sedih sekali menghadapi kenyataan bahwa si bayi kembali kepada Penciptanya sebelum sempat menatap dunia. Sebelum sempat disentuh ayah, ibu dan kakak-kakaknya. Sebelum sempat meramaikan rumah dan tumbuh besar bersama keluarganya.
Tapi alhamdulillah, temanku ini cukup kuat menghadapi musibah. Dia menyadari bahwa Allah SWT lebih mengetahui apa yang terbaik bagi hamba-Nya. Kesabaran dalam menghadapi musibah juga menjadi penguat bagi keluarga untuk terus melangkah.
Selain itu, keyakinan tentang kehidupan akhirat membuat mereka berharap suatu hari nanti dapat kembali berkumpul dengan anak yang mereka cintai. Semoga kesedihan mereka digantikan dengan ketenangan dan kekuatan.
Kehamilan dengan Tekanan Darah Tinggi
Menurut cerita temanku, selama kehamilan ia mengalami tekanan darah tinggi dan harus mengonsumsi obat sesuai anjuran dokter. Perkembangan plasentanya juga sejak awal dinilai tidak normal.
Plasentanya berukuran kecil sehingga perkembangan bayi di dalam kandungan mengalami masalah. Pada akhirnya, bayi tersebut meninggal dalam kandungan.
Ketika ditanya mengenai penyebab kondisi tersebut, dokter tidak dapat memastikan satu penyebab tertentu. Salah satu pertimbangan yang disampaikan adalah usia kehamilan yang sudah memasuki kelompok usia 35 tahun ke atas.
Dalam dunia medis, usia ibu memang merupakan salah satu faktor yang perlu diperhatikan dalam kehamilan. Namun, usia 35 tahun ke atas bukan berarti pasti mengalami komplikasi. Setiap kehamilan memiliki kondisi dan faktor risiko yang berbeda, sehingga pemeriksaan kehamilan tetap sangat penting.
Gangguan tekanan darah dalam kehamilan, termasuk preeklamsia, memang dapat meningkatkan risiko komplikasi bagi ibu dan bayi. Karena itu, pemantauan tekanan darah dan kondisi ibu serta janin selama kehamilan sangat penting.
Temanku kemudian memutuskan bersama suaminya untuk tidak merencanakan kehamilan lagi. Semoga Allah selalu memberikan kebahagiaan dan kesehatan kepada mereka. Aamiin.
Usia 35 Tahun, Masihkah Bisa Hamil Sehat?
Ucapan dokter tentang kehamilan di usia 35 tahun ke atas membuatku ikut berpikir.
Usiaku sendiri sudah melewati 35 tahun dan saat itu aku masih berharap bisa memiliki momongan.
Secara medis, kehamilan pada usia 35 tahun ke atas memang membutuhkan perhatian lebih terhadap berbagai faktor risiko. Tetapi bukan berarti setiap perempuan yang hamil pada usia tersebut pasti mengalami masalah.
Aku tetap ingin optimis.
Allah SWT Mahakuasa. Manusia boleh berusaha dan memperhitungkan berbagai kemungkinan, tetapi hasil akhirnya tetap berada dalam kehendak Allah.
Di sekitarku sendiri ada beberapa teman dan kenalan yang hamil di usia lebih dari 35 tahun. Alhamdulillah, mereka menjalani kehamilan dengan baik dan melahirkan anak-anak yang sehat.
Ada tetanggaku yang memiliki sembilan anak. Anak terakhirnya lahir ketika usianya 46 tahun.
Tetanggaku yang lain menikah di usia 36 tahun dan kemudian memiliki lima anak.
Baru-baru ini aku juga menjenguk seorang teman yang melahirkan anak keduanya. Saat ini usianya 37 tahun.
Pengalaman mereka membuatku semakin menyadari bahwa manusia hanya mampu memprediksi berdasarkan ilmu dan pengalaman yang dimilikinya. Allah-lah yang menentukan hasil akhirnya.
Tetap Berikhtiar dan Memeriksakan Kehamilan
Optimis tentu boleh. Tetapi optimis bukan berarti mengabaikan pemeriksaan medis.
Setiap kehamilan memiliki kondisi yang berbeda. Bahkan pada usia yang sama, faktor kesehatan setiap perempuan bisa berbeda pula.
Karena itu, perempuan yang merencanakan kehamilan sebaiknya mendiskusikan kondisi kesehatannya dengan tenaga kesehatan dan melakukan pemeriksaan kehamilan secara rutin.
Bagiku, ikhtiar medis dan tawakal kepada Allah bukanlah dua hal yang bertentangan. Justru keduanya bisa berjalan bersama.
Aku pernah mendengar pula kisah seorang perempuan yang tetap bisa hamil meskipun memiliki kondisi kesehatan yang sebelumnya membuat orang di sekitarnya pesimis. Ada pula seorang perempuan yang hamil ketika memiliki tumor jinak di rahimnya dan akhirnya bayinya dapat lahir dengan selamat melalui operasi.
Kisah-kisah tersebut tentu bukan berarti kita boleh mengabaikan nasihat dokter. Setiap kasus medis berbeda dan tidak bisa disamakan begitu saja.
Namun, kisah-kisah itu mengingatkanku bahwa manusia memang harus berusaha, sementara hasil akhirnya tetap menjadi ketetapan Allah SWT.
Mendekat kepada Allah dan Belajar dari Pengalaman Orang Lain
Pada akhirnya aku kembali teringat bahwa mendekatkan diri kepada Allah SWT dapat menjadi sumber kekuatan ketika menghadapi berbagai ujian kehidupan.
Sementara itu, silaturahmi juga membuat kita bisa belajar dari pengalaman orang lain.
Dari satu keluarga kita belajar tentang kesabaran. Dari keluarga lain kita belajar tentang ikhtiar. Dari pengalaman orang lain kita belajar untuk tetap berharap tanpa mengabaikan usaha.
Masya Allah.
Baca Juga: 3 Hal Ganjil di Tengah Gencarnya Program KB
Semoga setiap perempuan yang sedang menanti buah hati diberikan kesehatan, kekuatan dan ketenangan. Dan bagi mereka yang sedang menghadapi kehilangan, semoga Allah memberikan kesabaran serta menggantinya dengan kebaikan yang lebih besar.

0 Comments
Post a Comment