Cara Keluarga Ini Menghadapi Badai Keuangan

 

Ilustrasi: https://www.youtube.com/watch?v=FaD3QsnIjWo

Saya dapat cerita dari kajian Islam di Youtube, tentang seseorang yang dipanggil dengan Kang Sarif. Awalnya hidup Kang Sarif dan keluarga berjalan normal. Ia bekerja sebagai karyawan swasta sekaligus pengusaha. Isterinya pun ikut bekerja. Ekonomi keluarga terbilang stabil. Hingga suatu hari ada nasihat yang sampai kepada Kang Sarif. Haram terlibat riba. Timbul rasa takut dalam diri Kang Sarif kepada Allah swt. Lalu diputuskannya resign kerja. Berhenti pula melakoni bisnisnya.

Keputusan berani itu membuat keuangan keluarganya terguncang. Sebab ditambah lagi, bersamaan dengan itu sang isteri mengalami sakit sehingga harus resign pula dari pekerjaan. Keluarga Kang Sarif memulai kehidupan baru dengan keuangan minus, alias memiliki utang 3 milyar. Utang itu berkenaan dengan bisnisnya yang lalu. Sejumlah langkah praktis ia lakukan untuk bangkit. Mulai langkah filosofis hingga teknis. Secara filosofi beberapa hal ia lakukan.

Pertama, pembaharuan motivasi hidup keluarga. Sejak bertambah ilmu ia memahami bahwa tujuan penciptaan manusia oleh Allah swt adalah beribadah (QS. Adz Dzariyat: 59). Maka keluarga diajak untuk taat kepada Allah swt. Kebahagiaan tak sekedar diukur dengan pencapaian harta. Tetapi lebih dari itu, ridha Allah swt menjadi kunci kebahagiaan hakiki.

Kedua, memilih jalan hijrah, dalam arti berpindah dari kebiasaan buruk kepada kebiasaan baik. Keluarga diajak untuk hijrah anggota badan serta lisan. Kang Sarif percaya bahwa membiasakan diri berkata yang baik-baik, akan mendapatkan kebaikan pula dari Allah swt. Ucapan baik akan menjadi doa. Sebagai contoh, dalam menjalani usaha barunya dia hanya mau mengenal dua musim, yaitu ramai dan ramai sekali. Tidak boleh ada kata sepi pembeli.

Dalam berhijrah anggota badan, Kang Sarif berupaya menjauhkan diri dan keluarganya dari maksiat. Dia juga kerap menjaga sinergi antara perbuatan dan perkataannya agar sejalan dengan aturan Islam.

Ketiga, menambah ilmu baik pemahaman Islam maupun tentang bisnis bersama komunitas anti riba. Bersama komunitas tersebut Kang Sarif ikut berkontribusi dalam aktivitas amar ma’ruf nahi munkar. Mengajak yang lainnya agar mentaati Allah swt.

Menurut Kang Sarif, langkah perbaikan dalam filosofi menjadi pondasi penting dalam menjalani pilihan hidup yang baru, dimana jarang ada yang memilih jalan tersebut. Ibaratnya kita sedang melawan arus. Maka butuh nyali untuk memulai. Intinya perkuat keimanan dan ketaatan. Agar mampu melewati ujian dan dapat pertolongan Allah swt. Selain memperkuat pondasi, sejumlah teknik memperbaiki keuangan keluarga pun ia lakukan.

Pertama, mencatat sikluasi keuangan secara detail, dari pengeluaran yang besar hingga sekecil kecilnya. Bumbu masak dan jajan anak pun dicatat. Hal ini berguna untuk mengevaluasi setiap pengeluaran. Pengeluaran yang tidak penting bisa dieliminasi. Sehingga pengeluaran yang dilakukan benar-benar efisien. Cara ini bisa menjadi kontrol bagi langkah ke depan. Kalau dalam perusahaan cara seperti itu disebut Finansial Proyektion.

Kedua, hidup sesederhana mungkin. Proses menuju bangkit mau tak mau memang mesti dihadapi dengan penghematan. Kepada anaknya yang masih kecil pun Kang Sarif mengajarkan hidup hemat. Ia tak melulu menuruti anak yang pada umumnya suka jajan. Untuk mengatasi keinginan anak jajan, Kang Sarif mengajak anaknya berkomunikasi. Ia ajarkan bahwa boros itu saudara setan. Ia ceraitakan pula kesederhanaan hidup Rasulullah saw dan sahabat.

Sejenak anak mengerti dan menerima kondisi. Namun ketika keinginan jajan itu kembali, ia mengalihkan perhatian anak dengan mengajaknya bermain. Kalau anak bermain dengan teman-temannya, maka anak akan terpengaruh temannya yang jajan. Maka ayah menjadi teman anaknya untuk bermain.

Ketiga, membiasakan sedekah. Islam mengajarkan untuk bersedekah dalam keadaan lapang maupun sempit. Allah swt menjanjikan imbalan berlipat ganda baik dalam bentuk pahala maupun kelapangan rezeki, bagi mereka yang bersedekah. Maka Kang Sarif menerapkan pola satu satu satu. Satu rupiah pengeluaran, satu rupiah sedekah dan satu rupiah ditabung buat modal

Keempat, berazam untuk menghindari utang. Sedarurat apapun Kang Sarif sebisa mungkin tidak berutang. Dalam pandangannya, utang berarti membayar ketidakpastian dalam ketidakpastian. Utang pun bisa membuat terlena.

Kelima, gunakan akal untuk menemukan ide-ide peluang usaha. Lalu segera eksekusi ide yang diperoleh. Kini Kang Sarif menjalankan bisnis jual makanan bayi. Ide ini muncul dari kesenangan ia dan isterinya dengan anak-anak. Merasa ide bisnis ini bagus, mereka pun melakoninya. Perlahan penjualan makin lancar. Sedikit demi sedikit utang dampak terlibat riba yang lalu terbayar.

Masya allah, begitu indah kehidupan muslim yang taat. Mereka tak kenal kata putus asa, karena ada Allah tempat bergantung. Cara keluarga Kang Sarif menghadapi badai keuangan bisa menjadi inspirasi bagi kita di masa pandemi ini. Pesannya, isilah waktu di masa pandemi dengan aktivitas yang bernilai di hadapan Allah swt. Beribadah, menjaga hubungan baik dengan keluarga, mencari rezeki yang halal dan memperbanyak amal salih lainnya.

 

 

2 comments:

  1. Terharu bacanya. Beberapa yg dilakuin itu inspirasi ku banget untuk bisa meniru yg dilakuin kang Syarif. Kayak hijrah lisan. Aku sadar kdg msh suka menggerutu, marah, dan ga sengaja mungkin mengeluarkan kata2 kasar. Harus bisa menahan diri untuk ga begitu lagi. Aku percaya kok, kalo kita semata menggantungkan diri kepada Allah, yakin pasti Dia ga akan melupakan hambanya.

    ReplyDelete
    Replies
    1. masya allah.. the power of hijrah luar biasa ya mbak..

      Delete