6 Juli 2018

Catatan Idul Fitri 2018



Alhamdulillah syukur tiada terhingga, karena Allah swt masih berkenan mempertemukan saya dengan Ramadhan dan syawal tahun ini. Idul Fitri bertabur momen indah yang ingin dirasakan selalu. Utamanya berkumpul dengan keluarga serta silaturahmi dengan sanak saudara juga teman. Aktivitas yang jarang dilakukan di hari-hari selain idul fitri.

Setelah tahun lalu lebaran pertama di rumah orangtua saya. Kali ini lebaran pertama saya dan suami langsung menuju rumah mertua saya. Jarak antara tempat tinggal kami dan rumah mertua kurang lebih dua jam. Kami memilih salat ied di kampung.

Maka berangkatlah kami menuju kampung selepas salat subuh, sekitar pukul setengah enam. Jalanan begitu sepi hingga perjalanan kami begitu mulus. Melalui beberapa rel kereta api, saya sempat mengingatkan suami beberapa kali agar waspada.

Sebab beberapa hari sebelumnya dapat cerita dari mamak saya, bahwa ada satu keluarga yang melakukan perjalanan mudik di subuh hari tertabrak kereta api. Konon mereka membawa rasa rindu yang amat sangat pada keluarga, hingga motor mereka melesat cepat di jalanan. Alhasil takdir Allah swt menghendaki mereka menghembuskan nafas terakhir saat itu.

Alhamdulillah kami sampai kampung tepat waktu. Tiba di rumah langsung berwudhu dan pergi salat ied. Tak seperti khutbah salat ied tahun lalu, kali ini saya nggak ingat lagi isinya apa. Jadi nggak bisa dituliskan disini. Yang pasti saya masih ingat suasana syahdu di pagi hari idul fitri. Tak terasa air mata mengalir, mensyukuri nikmat Allah swt.

Selesai salat ied maaf-maafan, pembagian THR buat para keponakan dan makan bareng seperti biasa juga dilakukan. Wajah-wajah senyum ceria penuh gembira. Yang sempat berselisih, jadi baikan. Yang nggak teguran, kini saling sapa. Berharap hubungan baik antar keluarga langgeng sampai besok-besok.

Para ipar saya jarang main ke rumah orangtua saya. Bahkan kunjungan terjadi hanya sekali ketika melamar saya dulu. Hal itu terjadi karena jarak yang cukup menjadi penghalang untuk saling berkunjung. Nah di lebaran ini para ipar saya ketemu waktu yang pas untuk bareng-bareng silaturahmi ke rumah orangtua saya. Obrolan pun terjadi disertai dengan canda tawa yang diakhiri foto bareng.

Setahun belakangn saya nambah teman. Mereka yang memilih jalan hijrah hingga kita ngaji bareng. Di lebaran ini saya pun berkunjung ke rumah-rumah mereka. Mereka terlihat bahagia dengan kedatangan teman-teman hijrahnya. Kami ngobrol seputar pengalaman pulang kampung, suka duka membuat kue dan lain sebagainya. Semoga idul fitri bisa jadi titik balik bagi kita untuk menjadi orang baru yang kembali pada fitrah kebaikan Islam. Makin hari makin baik. Amin.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar