18 Juli 2020

4 Daya Tarik Madinah

Beberapa waktu yang lalu saya mengikuti kajian online yang disampaikan oleh Da’iyah muda Ustadzah Wardah Abeedah. Kajiannya bisa disimak disini https://www.youtube.com/watch?v=f9rkJac7Usw.
Dalam pemaparannya beliau menyebutkan tentang keutamaan kota Madinah. Keutamaannya menjadi daya tarik bagi kaum muslimin. Keutamaannya itulah penyebab munculnya para  muslimah tangguh nan soleha. Keutamaan Kota Madinah melahirkan para muslimah istimewa yang menghiasi sejarah peradaban Islam nan gemilang. Sebenarnya banyak da’i da’iyah yang menyebutkan tentang keutamaan Madinah. Apa yang disampaikan Ustadzah Wardah adalah diantaranya.

1. Tonggak berdirinya Negara Islam
Berbagai buku Sirah Rasulullah saw menceritakan kehidupan sang nabi di Madinah. Beliau hijrah ke Madinah sekitar tahun ke-13 kenabian. Hal itu terjadi setelah sekelompok orang Madinah berbondong-bondong menemui beliau untuk berjanji setia.

Sejak menginjakkan kaki ke Madinah, Rasulullah saw mulai melakukan aktivitas berciri kenegaraan. Beliau membangun masjid sebagai tempat ibadah. Tak hanya sebagai tempat ibadah, masjid yang sekarang dinamakan masjid Nabawi itu dipakai beliau sebagai pusat kajian Islam. Menerima tamu kenegaraan. Mengadakan rapat pemerintahan yang salah satunya adalah mengatur strategi perang.

Bukan sebatas kota, layaklah Madinah saat itu dianggap sebagai negara. Negara kecil itu menjadi awal berubahnya wajah peradaban dunia. Sebelumnya peradaban besar yang terkenal adalah Romawi dan Persia. Perlahan Negara Islam Madinah meluaskan sayapnya.
Selanjutnya, kekhilafahan sebagai pemerintahan penerus negara Islam Rasulullah saw semakin meluas. 

Khilafah Islamiyah menjadi peradaban baru yang diperhitungkan. Pernah menggeser kedigdayaan dua peradaban besar Romawi dan Persia. Sayangnya kini peradaban Islam telah runtuh. Pastinya, peradaban Islam dirindukan kembali keberadaannya.

2. Madinah penuh berkah
Rasulullah saw berdoa untuk keberkahan Madinah:
اللَّهُمَّ إِنَّ إِبْرَاهِيمَ كَانَ عَبْدَكَ وَخَلِيلَكَ دَعَا لِأَهْلِ مَكَّةَ بِالْبَرَكَةِ وَأَنَا مُحَمَّدٌ عَبْدُكَ وَرَسُولُكَ أَدْعُوكَ اللَّهُمَّ بَارِكْ لَنَا فِي ثَمَرِنَا، وَبَارِكْ لَنَا فِي مَدِينَتِنَا، وَبَارِكْ لَنَا فِي صَاعِنَا، وَبَارِكْ لَنَا فِي مُدِّنَا
Ya Allâh! Berilah kepada kami keberkahan pada buah-buahan kami, kota Madinah kami! Limpahkanlah keberkahan untuk kami pada setiap sha’ dan mud kami dapatkan. [HR. Muslim]

Masya allah, tanah Madinah telah diberkahi Allah swt karena doa RasulNya. Makanya beruntung bagi sesiapa yang sudah menginjakkan kakinya di Madinah. Karena hingga sekarang pun, makanan disana misalnya masih berlaku keberkahannya. Salat di Masjid Nabawi juga pahalanya 500 kali salat di masjid biasa. Semoga saya dan keluarga saya dan juga para pembaca diberi Allah kesempatan untuk datang ke kota Mekkah dan Madinah. Aamiin.

3. Dimenangkan dan membersihkan manusia
Usatdzah Wardah membacakan hadist yang artinya, “Aku diperintahkan hijrah ke suatu kampung yang akan memakan (mengalahkan) perkampungan lainnya, ia disebut Yastrib, dan ia adalah Madinah. Akan membersihkan manusia sebagaimana tungku api membersihkan kotoran besi.”

Masya allah, Madinah dengan penerapan Islam disana telah menjadi ‘mesin pembentuk produk berkualitas’. Manusia yang berada di dalamnya menjadi orang-orang bertakwa, kecuali yang tetap teguh pada kekafiran dan kemunafikannya.

Pantaslah dari Madinah dikenal para muslimah hebat. Sebut saja Nusaibah binti Ka’ab, mujahidah yang menjadi salah satu tameng Rasulullah saw di perang Uhud. Ummu Sulaim calon tetangga Rasulullah saw di surga. Rufaidah sang dokter yang diperintahkan Rasulullah saw mengelola rumah sakit lapangan. Asy-syifa binti Abdullah, seorang qadhi pasar yang juga salah satu guru Ummul Mukminin Aisya ra. Dan masih banyak lagi yang lainnya.

Selain itu, meluasnya wilayah negara Islam menjadi bukti bahwa Allah swt memenangkan Madinah atas wilayah-wilayah lainnya.

4. Penduduk Madinah Memiliki Keutamaan
Penduduk Madinah secara mayoritas cenderung lebih mudah menerima dakwah dibanding penduduk Mekkah kala Islam baru datang. Di awal hijrah, ketika Rasulullah saw mempersaudarakan kaum anshar (sebutan bagi pendudukan Madinah) dan muhajirin (sebutan bagi penduduk Mekkah yang hijrah).

Ketundukan kaum Anshor pada kebenaran Islam diwujudkan dengan rasa persaudaraan yang kuat terhadap saudaranya kaum Muhajirin. Anshor siap berbagi harta miliknya pada saudaranya yang hijrah meninggalkan harta benda di kota asalnya.

Diantara kisahnya adalah seperti yang terjadi pada Abdurahman bin Auf. Sa’ad Radhiyallahu anhu berkata kepada ‘Abdurrahmân Radhiyallahu anhu : “Aku adalah kaum Anshâr yang paling banyak harta. Aku akan membagi hartaku setengah untukmu. Pilihlah di antara istriku yang kau inginkan, (dan) aku akan menceraikannya untukmu. Jika selesai masa ‘iddahnya, engkau bisa menikahinya”.

Wow tawaran menarik bagi Abdurahman bin Auf dong ya. Tapi Abdurahman juga bukan orang sembarangan. Beliau orang baik, nggak mau menyusahkan saudaranya. Beliau lalu berkata, “Aku tidak membutuhkan hal itu. Adakah pasar (di sekitar sini) tempat berjual-beli?”

Tidak ada komentar:

Posting Komentar