Dia Menghargaiku Bukan Dengan Pesta


“Mamak percaya Erwin itu anak baik. Tapi janganlah sampai nggak pesta. Orang aja semua pesta.”

“Asal dia bisa ngasih 15 juta aja, tulang yang nambahin.”

***

Pesta pernikahan menjadi semacam hal wajib di daerahku. Masyarakat sekitar bilang kalau pesta pernikahan jadi bentuk penghargaan lelaki pada calon istrinya. Semakin mewah pestanya, maka pria itu dianggap semakin menghargai calon istrinya. Apalagi bila gadisnya cantik, sarjana dan bersuku batak kayak diriku (itu penilaian keluargaku loh ya). Menurut orang sekitar pestanya harus lebih meriah.

Jadi mahar buat meminang gadis sih biasa saja. Tapi uang hangusnya atau biaya pestanya mahal. Setidaknya, minimal tiga puluh juta untuk biaya pesta harus disiapkan mempelai pria. Kalau memang uangnya ada ya nggak masalah. Kenyataannya, menyiapkan uang puluhan juta untuk menikah bagi rata – rata pria lajang itu berat. 

Sebab gaji mereka bekerja pas – pasan buat menjalani hidup. Kalaupun ada tabungan ya sedikit. Nggak sampai puluhan juta. Mengatasi persoalan tersebut, biasanya para pria akan minta ke orangtua atau orangtua sendiri yang merasa bertanggungjawab membiayai pesta pernikahan anak lelakinya.    

Siswa Coret-Coret Seragam, Cermin Buruknya Pendidikan



Sejumlah siswa SMA di Riau viral. Mereka melakukan aksi coret-coret seragam dengan gambar vulgar untuk merayakan kelulusan. (https://news.detik.com/, 04/05/2020)

Aksi buruk mereka disayangkan banyak pihak. Kecaman publik pun datang bertubi-tubi. Hingga beberapa waktu kemudian mereka melakukan klarifikasi di media sosial.

Melanggar Aturan Siapa?

Dalam video klarifikasinya, salah seorang dari siswa SMA itu mengakui kesalahan mereka. Secara sadar mereka mengaku telah melakukan perbuatan yang melanggar peraturan sekolah. Mengakui kesalahan adalah perbuatan yang patut diacungi jempol. Tapi kepada siapa kesalahan itu diakui? Atas dasar apa pengakuan itu diperbuat? Hal itu telah menunjukkan mindset mereka.

Para remaja itu adalah muslim. Artinya mereka adalah hamba Allah swt yang terikat dengan syariah Islam. Kesalahan mereka itu sesungguhnya melanggar aturan Allah swt. Mereka bukan sekedar melakukan perbuatan sia-sia dengan mencoret-coret pakaian. Tetapi mereka juga membuka aurat mereka. 

Tak hanya itu, berkumpulnya remaja putra dan putri disitu berarti adalah prilaku ikhtilat atau campur baur yang diharamkan Allah swt. Lantas mereka hanya merasa bersalah kepada pihak sekolah dan masyarakat? Itupun karena aksi mereka diprotes oleh publik.

Penyesalan paling utama seharusnya mereka tujukan pada Allah swt yang menciptakan mereka. Allah swt yang telah memberi nikmat hidup para mereka. Allah swt pula yang memberi nikmat bangku sekolah pada mereka, disaat hari ini pendidikan telah diprivatisasi hingga mahal dan tak terjangkau semua orang. Tapi meski klarifikasi mereka dilakukan dengan memakai pakaian tertutup, hal itu kontras dengan ucapan mereka. Tidak ada ucapan menyesal telah melanggar aturan Allah swt.

Sesungguhnya mereka bukan sekedar merugikan netizen, sekolah dan dinas pendidikan saja. Lebih dari itu, mereka telah merugikan diri mereka sendiri. Perbuatan mereka yang dilakukan di tengah wabah corona beresiko terjangkiti virus tersebut. Namun yang paling penting, pelanggaran yang mereka lakukan bermuatan maksiat, yang bernilai dosa dihadapan Allah swt. Kelak perbuatan mereka akan dihisab oleh Allah swt.

Cacat Pendidikan Sekuler

Lagi-lagi sistem pendidikan sekuler negeri ini menunjukkan kegagalannya. Darinya telah lahir lulusan-lulusan berprilaku buruk. Selama ini sejumlah cacatan prilaku buruk pun pernah dilakukan oleh pelajar. Melakukan tindak kekerasan baik pada teman ataupun guru, melakukan seks bebas dan terlibat narkoba terjadi pada pelajar.