Kita tentu mengetahui bahwa ISIS merupakan kelompok bersenjata yang melakukan berbagai tindakan kekerasan dan telah mendapatkan kecaman luas. Karena itu, tindakan kekerasan yang dilakukan kelompok tersebut tentu tidak layak dibenarkan.
Namun, ada hal yang menurut saya menarik untuk dipikirkan ketika isu ISIS dikaitkan dengan kegiatan keislaman di kampus dan sekolah.
Akhir-akhir ini muncul pemberitaan mengenai mahasiswa atau kaum terpelajar yang disebut rentan terpengaruh kelompok ekstrem. Pertanyaannya, bagaimana seharusnya kita memahami fenomena tersebut?
Apakah setiap mahasiswa yang aktif mengikuti kajian Islam harus dicurigai memiliki keterkaitan dengan kelompok ekstrem?
Tentu tidak.
Mahasiswa adalah kelompok yang beragam. Ada yang mengikuti organisasi, ada yang aktif dalam kegiatan sosial, ada yang mengikuti kajian agama, dan ada pula yang tidak mengikuti kegiatan keagamaan sama sekali.
Karena itu, menurut saya, penting membedakan antara belajar Islam secara umum, aktivitas dakwah, dan keterlibatan dengan kelompok yang melakukan kekerasan.
Jangan sampai ketiganya dianggap sebagai sesuatu yang sama.
Dakwah Islam di Kampus dan Sekolah
Jauh sebelum isu ISIS ramai diberitakan, kegiatan dakwah Islam telah berkembang di berbagai lingkungan pendidikan.
Kajian Islam, kegiatan keagamaan, dan aktivitas para aktivis dakwah telah menjadi bagian dari kehidupan sebagian mahasiswa dan pelajar.
Banyak kegiatan tersebut justru mendorong peserta untuk memperbaiki ibadah dan akhlak. Ada muslimah yang kemudian mulai memperbaiki cara berpakaian sesuai pemahaman agamanya. Ada pula anak muda yang semakin peduli terhadap pendidikan, keluarga, dan berbagai persoalan sosial.
Dalam menghadapi pergaulan bebas dan berbagai tantangan kehidupan remaja, pendidikan agama juga dapat menjadi salah satu bekal penting agar mereka memiliki prinsip dalam menjalani kehidupan.
Karena itu, kegiatan keislaman di lingkungan pendidikan semestinya tidak otomatis dicurigai hanya karena mengajarkan Islam.
Yang perlu dilakukan adalah membedakan dengan jelas antara ajaran Islam, kegiatan dakwah yang damai, dan kelompok yang mengajarkan atau melakukan kekerasan.
Jangan Sampai Isu Ekstremisme Membuat Orang Takut Belajar Islam
Di sinilah saya merasa perlu memberikan catatan.
Jika pemberitaan mengenai ISIS dan ekstremisme dilakukan tanpa memberikan batas yang jelas, masyarakat bisa saja menjadi khawatir terhadap kegiatan keislaman secara umum.
Mahasiswa yang ingin mengikuti kajian bisa dicurigai. Orang tua bisa menjadi takut mengizinkan anaknya mengikuti kegiatan keagamaan. Bahkan, aktivitas dakwah yang sebenarnya berlangsung secara terbuka dapat ikut terkena dampaknya.
Baca Juga: 3 Hal Ganjil di Tengah Gencarnya Program KB
Padahal, mengajarkan Al-Qur'an, mempelajari hadis, memperbaiki akhlak, dan mendiskusikan persoalan umat bukanlah sesuatu yang identik dengan kekerasan.
Masyarakat justru perlu mendapatkan edukasi yang jelas mengenai perbedaan antara dakwah Islam dan ekstremisme kekerasan.
Kritik Boleh, Tetapi Jangan Menyamakan
Saya tidak keberatan jika pemerintah melakukan pencegahan terhadap kelompok yang terbukti mengajarkan kekerasan atau melakukan tindakan yang membahayakan masyarakat.
Itu merupakan bagian dari upaya menjaga keamanan.
Namun, kritik perlu diarahkan kepada tindakan dan pemikiran yang memang bermasalah, bukan kepada identitas keagamaan seseorang atau kegiatan belajar Islam secara umum.
Demikian pula ketika ada situs atau komunitas yang dicurigai memiliki kaitan dengan ekstremisme. Semestinya masyarakat diberikan penjelasan yang terang mengenai apa yang menjadi dasar penilaian tersebut.
Jangan sampai label seperti "radikal" digunakan secara terlalu luas sehingga masyarakat kesulitan membedakan mana ancaman kekerasan dan mana perbedaan pemikiran dalam memahami agama.
Islam Tidak Identik dengan Kekerasan
Bagi seorang Muslim, mempelajari Islam merupakan bagian dari kewajiban untuk memahami agamanya.
Karena itu, menurut saya, isu ekstremisme seharusnya tidak membuat kaum muda berhenti belajar agama.
Justru mereka perlu mendapatkan pendidikan Islam yang baik, mendalam, dan bertanggung jawab agar mampu memahami agamanya dengan benar serta memiliki kemampuan membedakan antara ajaran agama, pendapat individu, dan tindakan kelompok tertentu.
Baca Juga: Pakai Islam Saja: Solusi Islam untuk Melindungi Perempuan dan Anak
Pada akhirnya, persoalan ISIS memang perlu disikapi secara serius. Kekerasan tidak boleh dibenarkan. Namun, upaya mencegah ekstremisme juga harus dilakukan secara proporsional dan tidak membuat masyarakat takut terhadap Islam atau aktivitas dakwah secara umum.
Jangan sampai karena ingin mencegah satu masalah, kita justru membuat generasi muda menjauh dari pendidikan agama.
Bagi saya, solusi yang lebih baik adalah membangun generasi yang berilmu, berakhlak, kritis, dan memahami agamanya dengan baik.
Dengan begitu, mereka tidak mudah menerima begitu saja berbagai propaganda, baik propaganda kelompok kekerasan maupun informasi yang menyesatkan tentang Islam.


0 Comments
Post a Comment