3 Januari 2021

Masya Allah, Ghazy Matang Pada Waktunya

dok. pribadi


Sejak tiga bulan terakhir aku mengikuti sebuah kelas online premium. Pelaksananya atas nama Islamic Bisnis Online School (IBOS). Ceritanya pengen belajar fikih muamalah maliyah dari pakarnya. Kelas yang membahas fikih berkaitan dengan interaksi seputar harta ini diasuh oleh Ustaz Siddiq Al Jawi dan Ustaz Dwi Condro Triono. Semester berikutnya ada tambahan kelas yang diasuh Ustaz Yuana Ryan Tresna. Keren ya kelasnya. Bagi yang tertarik dan butuh infonya lebih lanjut japri aja ya.

Eh tapi bukan itu inti tulisannya. Mengenai materi kelas online via zoom ini, tak perlu diragukan lagi. Alhamdulillah mencerahkan. Menambah ilmu. Tapi ada sisi menarik di luar itu yang pengen aku bagi.

Diantara puluhan peserta IBOS di kelas ini, ada yang mencuri perhatianku. Dia bernama Ghazy. Wajah lelaki ini kelihatan sangat muda. Lebih terkesan wajah anak tanggung. Pra baligh.

Dia serius menyimak materi. Jarang absen kayaknya. Bahkan sesekali bertanya. Salah satu pertanyaannya yang ku ingat mengenai hukum menjadikan perempuan sebagai model iklan dari bisnis yang kita miliki.

Dari suara dan gayanya memang meyakinkan, dia anak pra baligh.  Tapi aku kembali ragu. Karena mikirnya, “Masak sih ada anak – anak ikut kelas fikih. Kalau kelas motivasi mungkin saja. Bahasan fikih kan berat dan kurang menarik bagi remaja umumnya. Apalagi anak pra baligh. Apa mungkin lelaki ini pria dewasa berwajah awet muda?”

Untuk menghilangkan penasaranku, aku japri Ghazy untuk sekedar bertanya berapa umurnya. Ghazy membalas DM ku, “Usia Ghazy 12 tahun tante. Ini hp Ghazy nebeng bunda. Karena kata bunda Ghazy belum boleh punya hp.”

Masya allah, aku pun mendoakannya kelak bisa menjadi muslim cerdas yang bermanfaat bagi agama. Aku kirim salam kepada orang tuanya. Salam takzim pada keduanya. Jarang ya zaman sekarang melihat anak lelaki matang pada waktunya. Tentu hal itu tak luput dari kerja keras orang tua dalam mendidik Ghazy.

Aku tak tahu persis apakah Ghazy sudah baligh atau masih jelang baligh. Tapi Ghazy yang tampak dari diskusi di kelas, sedang memulai untuk bisnis dan perhatiannya pada masalah fikih menunjukkan bahwa dirinya bersiap – siap segera menjadi dewasa.

Ghazy jadi mengingatkan aku dengan sosok para pemuda di zaman kejayaan Islam. Teringat dengan Abdullah bin Umar dan Zaid bin Sabit yang ngotot ingin ikut berjihad padahal belum cukup umur. Teringat Muhammad al Fatih yang menjadi penakluk Konstantinopel di usia 20-an. Al Fatih menjadi sebaik – baik pemimpin pasukan di usia yang sangat muda. Masya allah, generasi didikan Islam memang menakjubkan ya.

***

Islam menempatkan lelaki sebagai pemimpin bagi kaum perempuan. Ketika lelaki baligh maka dia menjadi mukallaf atau muslim yang dibebani pelaksanaan hukum syara’. Berarti saat itu ia wajib menjalankan aturan – aturan dari Allah swt. Dari ibadah hingga muamalah.

Salah satunya hukum Islam tentang nafkah. Artinya sejak anak lelaki baligh sekitar usia 12 hingga 15 tahun, orang tua nggak wajib dong menafkahi anak lelakinya. Saat itu harusnya minimal anak lelaki mampu membiayai kebutuhan diri pribadi. Kalaupun ada bantuan dari orang tua, sifatnya nggak lagi wajib ya, tapi sedekah. Nah yang begini ini kan jarang di zaman sekarang.

Justru yang banyak terjadi, lelaki dewasa masih bergantung pada orang tua. Biaya pernikahan minta sama orang tua. Sudah memiliki isteri dan anak pun ada yang masih menyusahkan orang tua.

Harusnya anak lelaki menafkahi orang tuanya ketika orang tua sudah lemah. Eh dia malah terus menjadi beban orang tua. Jangankan berpikir tentang umat. Dia malah sedikit – sedikit punya masalah, curhat dan mewek ngadu ke orang tua.

Dia kurang maksimal dengan tanggung jawabnya sebagai kepala keluarga. Sampai – sampai isterinya terpaksa ikut bekerja, atau justru isteri menjadi sumber keuangan utama keluarga. Kan miris ya kalau begitu. Usia sudah lanjut tapi pemikirannya belum matang juga.

Hal ini jadi PR bagi orang tua muda zaman now. Mesti memutus mata rantai buruknya output pendidikan sekuler, dengan terus belajar jadi orang tua ideal. Aku juga sama, harus mempersiapkan diri jadi ibu dambaan Islam. Mumpung masih diberi waktu luang sama Allah swt, momongannya belum ada.

Sembari kita juga turut berperan memperjuangkan sistem kehidupan Islam, demi menciptakan lingkungan ideal bagi pendidikan anak – anak kelak. Semoga generasi kita ke depannya menjadi generasi tangguh, cerdas, salih dan bisa mengisi peradaban Islam yang baru. Aamiin.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar