Nyurhatin Para Suami Yang Abai Beri Nafkah

koleksi pribadi

Aku kecewa berat dengan para suami masa kini. Sekitar 60 persen rumah tangga yang ku kenal, suaminya kurang bertanggung jawab. Memberi nafkah adalah salah satu kewajiban suami pada keluarga. “Dan kewajiban ayah memberi makan dan pakaian kepada para ibu dengan cara yang ma’ruf” [al Baqarah / 2:233]

Jika kewajiban nafkah diabaikan, jatuhnya dosa. “Seseorang dikatakan berbuat dosa, ketika dia menyia-nyiakan orang yang wajib dia nafkahi.” (HR. Abu Daud No.1694, Ibnu Hibban No.4240 dan dishahihkan oleh Syuaib al-Arnauth).

Nafkah diwajibkan bagi suami dan ia berhak untuk ditaati serta dilayani. Aku pikir ajaran Islam sudah menempatkan peran suami istri sedemikian adilnya, sehingga kalau masing-masing menjalankannya, amanlah rumah tangga.

Namun zaman ini adalah zaman kerusakan. Diman Islam tak menjadi pedoman hidup individu, masyarakat dan negara. Saat ini peran para istri terlihat lebih dominan memenuhi nafkah keluarga dibanding para suami. Para istri telah berubah menjadi tulang punggung. Bukan lagi tulang rusuk. Sungguh berat beban para perempuan bersuamikan lelaki lemah tanggung jawab. Sudah mengurus anak, rumah, masih dibebani urusan ekonomi keluarga.

Masih mending beberapa dari para istri itu, suaminya bisa diajak kerjasama meski inisiatif ada pada istri. Jualan online misalnya. Ada pesanan, suami bersedia bersama istri antar pesanan pembeli.

Sebagian rumah tangga lainnya, malah asli suaminya lepas tanggung jawab nafkah. Ada yang diingatkan malah marah. Atau dia bekerja namun upahnya hanya cukup buat dirinya sendiri.

Sebenarnya si suami masih bisa berusaha mencari lebih agar pendapatannya cukup untuk semua anggota keluarga. Tapi dia malas. Dia merasa apa yang diberikannya harus cukup. Nggak peduli biaya hidup yang tinggi, biaya sekolah anak, biaya kontrakan rumah, listrik dan lain sebagainya. Dia sekedar bekerja tapi tak mau maksimal padahal masih mampu untuk dimaksimalkan.

Sampai-sampai ada istri yang terpaksa cari utang demi menutupi kebutuhan rumah tangga. Mestinya yang usaha cari utang juga kan suaminya. Tapi urusan beginian juga istri. Bikin orang lain tahu seberapa lemah kepemimpinan si suami.

Aku pikir beberapa faktor telah menjadi penyebab fenomena suami-suami lemah tanggung jawab;

1.    Pendidikan kepemimpinan gagal diberikan pada para lelaki.

Jarang sekali keluarga yang mampu menerapkan pendidikan kepemimpinan pada anak lelakinya. Alhasil terjadi seperti kasus ini, sebuah keluarga memiliki anak remaja. Ayahnya abai, ogah cari nafkah. Ibu lemah fisik, sakit-sakitan. Namun si anak nggak prihatin pada kondisi keluarga. Padahal kalau remaja itu punya kesadaran, dia bisa membantu orang tuanya dengan membuka jasa mencuci motor di depan rumah atau berjualan apa saja demi membantu keluarga. Tapi ya begitulah. Salah ayahnya juga sih, nggak mencontohkan menjadi pemimpin yang baik. Buah jatuh tak jauh dari pohonnya.

Sama halnya dengan pendidikan formal yang ada. Tak mampu membentuk pribadi kreatif, terampil dan berjiwa seorang pemimpin. Apalagi berharap dapat terbentuk pribadi islami yang berpola pikir dan berpola sikap islami secara utuh dari lembaga pendidikan kita, wah jauh.

Keluhan mengenai buruknya pendidikan kita diungkap salah satunya oleh host terkenal Deddy Corbuzier. Dia bilang sekolah bikin bodoh. Karena di sekolah diajarkan banyak pelajaran. Padahal nggak ada orang yang bisa menguasai semua bidang. Menurutnya cukup seseorang difokuskan mempelajari satu bidang yang paling dia kuasasi dan sukai, pasti dia sukses.

Dari ucapan Deddy dapat juga dikatakan, bahwa institusi pendidikan kita hari ini lebih mendidik anak untuk menguasai teori. Memaksakan anak untuk menghafal banyak pelajaran. Buat apa? Jawabnya, buat mengerjakan ujian nantinya. Lalu mendapatkan nilai dan juara.

Bagaimana aplikasinya, nol. Toh, teori yang mati-matian dipelajari oleh sang juara, setelah naik kelas dia lupakan. Setelah tamat sekolah hampir semua pelajaran dilupakan oleh siswa. Hanya tertinggal kemampuan membaca, menulis dan berhitung.

Sia-sia sekolah 12 tahuna, karena ketiga pelajaran itu sudah dikuasai sejak sekolah dasar. Berganti-ganti kurikulum berkali-kali, hasilnya tetap sama. Kalau tidak ada perubahan sistem, anak-anak muda sekarang yang suka menghabiskan waktu sia-sia adalah calon suami dan ayah yang buruk kedepannya. Aduh memprihatinkan sekali.

Yang sedikit lumayan adalah sekolah kejuruan, ada sedikit keterampilan yang dibawa hingga tamat. Itupun pada sebagian siswa dan menjadi modal buat jadi pekerja. Sangat sedikit manusia saat ini mampu berpikir luas, kreatif dan berkepribadian baik. Mereka bisa dikatakan produk gagal dari sistem pendidikan yang buruk ini. Mereka yang mau berpikir beda dari orang kebanyakan.

2.     Negara abai mengurusi rakyatnya

Andai sistem kehidupan kita pakai Islam yang tak diragukan kesempurnaannya, tetap saja akan ada orang-orang berperangai buruk. Meski jumlah mereka sedikit. Ada yang enggan berusaha menafkahi keluarga misalnya. Malas bekerja. Maunya senang-senang aja.

Tapi kalau hal itu terjadi dalam pemerintahan Islam, maka akan lebih mudah urusannya. Istri mengadu saja ke pengadilan. Gratis, nggak ada pungutan sama sekali seperti kalau kita mau berurusan dengan pihak keamanan dan pengadilan hari ini. Bilang ke hakim mengenai suami yang nggak menunaikan kewajibannya.

Maka hakim akan bertanya pada si suami, kenapa dia tidak menafkahi keluarganya. Kalau memang nggak punya keterampilan, maka dia akan diberi pelatihan gratis sampai dia memiliki kemampuan untuk bekerja.

Kalau dia punya keahlian tapi tak ada lowongan kerja maka akan disediakan lapangan pekerjaan. Kalau dia mau dagang nggak ada modal, maka baitul mal secara cuma-cuma akan memberikannya modal. Tak perlu pusing mikirin mengembalikan pinjaman modal apalagi pakek bunga, nggak bakal ada yang kayak gitu dalam Islam. Gratis tis tis.

Kalau seorang suami sebenarnya punya keahlian, ada lowongan kerja yang disediakan, namun dia yang memang enggan bekerja, maka ada sanksi tegas oleh Islam untuk membuatnya jera.

Dalam undang-undang hari ini memang ada aturan bahwa istri boleh menggugat suami dalam hal nafkah. Tapi kita paham sendiri lah ya gimana praktek hukum warisan belanda berbasis sekuler ini. Bukan solusi.

Dalam hal ekonomi, sistem ekonomi kapitalis hari ini membuat hidup rata-rata kita sulit. Kekayaan alam pengelolaannya diserahkan pada swasta atau asing. Yang untung ya mereka. Berbagai proyek infrastruktur yang menangani juga swasta atau asing. Modalnya dan buruhnya dari mereka. Lapangan kerja buat suami kita pun minim. Pelayanan publik seperti sekolah dan rumah sakit pun mahal. Segalanya serba mahal. Pendapatan suami yang harusnya cukup pun jadi nggak cukup.


Tulisan kali ini benar-benar curhat abis ya. Banyak kata-kata nggak bakunya. Habis kesal sih. Kesal pada sistem sekuler kapitalis yang sedang diterapkan saat ini. Kesal juga sama para lelaki. Harusnya mereka bangkit melawan pemikiran buruk yang mempengaruhi kualitas hidup mereka.

Bukan malah mengikuti arus yang ada lalu menjadi orang tak berguna. Kasihanilah keluarga anda. Malu pada Allah swt. Takutlah pada pertanggung jawaban kelak dihadapanNya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar