25 Juni 2018

Catatan Ramadhan 2018


Ini kali kedua saya buat catatan Ramadhan. Bagi saya yang mudah sekali lupa, tiap momen berharga cocok sekali untuk dicatat. Terutama Ramadhan, bulan paling istimewa bagi umat Islam. Alhamdulillah, jika Ramadhan tahun lalu suami saya sakit dan bolong puasa sekitar empat hari, kali ini sehat wal afiat sepanjang Ramadhan.

Diantara catatan istimewa itu...

Pertama
Kematian indah yang berkesan bagi saya. Sedih sekaligus terharu mendengar kabar wafatnya dua orang pencinta kebaikan dari dunia Islam di bulan Ramadhan. Yang satu bernama Ali Banat, seorang hartawan asal Australia. Satunya lagi relawan kesehatan asal Palestina yang membantu korban terluka pada aksi di Gaza, Razan Annajar.

Umumnya hartawan, hidup Ali Banat dijalani dengan kemewahan. Namun semua berubah tatkala ia divonis dokter terkena kanker.

Reaksi yang luar biasa darinya. Bukannya mengumpat takdir Allah swt, dia justru memandang penyakit itu sebagai hadiah. Hidupnya pun drastis berbeda dengan semula. Sejak itu ia dikenal sebagai muslim dermawan. Penyakit itu menyadarkannya, bahwa harta kalah berharga dari kebaikan. Amal baiklah yang kelak menjadi pembela dihadapan Allah swt.

Sementara Razan Annajar adalah seorang wanita muda pemberani dan baik hati, yang menjadi bagian tim medis pada aksi menolak klaim Yerusalem sebagai ibukota Israel. Tentara Israel laknatullah alaih telah menembak Razan hingga tewas.


Keduanya pejuang kebaikan dan mati dalam keadaan berbuat baik di bulan baik. Sedih, bahagia, terharu dan iri bercampur aduk. Akankah saya berkesempatan bertemu maut dalam kondisi dan waktu yang baik seperti mereka? Semoga


YouTube
Kedua

Saya malu, sebagai seorang pembelajar, membaca buku masih kumat kumatan. Kadang saat rasa ingin membaca buku muncul, banyak buku yang dibaca. Sebaliknya kalau rasa bosan muncul, dalam sebulan belum tentu menamatkan satu buku.

Harusnya kan mampu mengelola perasaan. Membaca adalah kebutuhan saya yang fakir ilmu ini. Maka harusnya mampu menghidupkan semangat membaca secara terus menerus.
Alhamdulillah, Ramadhan kali ini insya allah menjadi titik balik bagi aktivitas membaca saya. 

Di Ramadhan ini, waktu saya banyak yang luang untuk membaca buku. Ini kesempatan untuk kembali membentuk habbit membaca rutin.

Kedepannya, saya bertekad untuk rutin membaca. Targetnya dalam sebulan minimal menamatkan dua buah buku. Semoga istiqamah.

Ketiga

Sejak suami saya sakit pada bulan Ramadhan lalu, kami lebih perhatian dengan kesehatan makanan. Sama halnya dengan Ramadhan lalu, kali ini hampir keseluruhan menu sahur saya masak sendiri. Hanya tiga kali tidak masak. Pertama beli gado-gado, kedua beli pecal dan ketiga dibontoti makanan dari rumah mamak.

Sementara untuk berbuka, kami lebih sering makan buah, kurma serta minum susu saja tanpa nasi. Saat pengen kue atau kolak saya masak sendiri.

Keempat

Alhamdulillah, keyakinan saya soal rizki terjaga. Ya, saya sangat yakin jika berbagi takkan pernah menjadikan seseorang miskin. Saya merasakan sekali, terutama di bulan Ramadhan.

Semakin saya memberi, semakin Allah swt mengganti dengan jumlah berlipat. Masya Allah, janji Allah swt itu pasti. Allah swt sebaik-baik pembalas perbuatan kita.

Tsumma alhamdulillah, jauh lebih banyak kebutuhan saya yang terpenuhi pada Ramadhan ini. Lebih dari cukup, lebih dari yang diinginkan.

Allah swt adalah pemilik hakiki dari harta kita. Ia akan berikan pada siapapun yang Dia kehendaki. Jadi, jangan pernah takut berbagi ya sahabat.

Kelima

Diantara doaku, masih sama, minta diberi keturunan. Pada Ramadhan ini doa itupun kupanjatkan terutama di waktu-waktu mustajab. Sembari terus melakukan usaha yang utamanya hidup sehat dengan makanan sehat dan olahraga.

Di Ramadhan ini kami masih berdua. Tapi saya yakin Allah swt Maha Baik, jika memiliki keturunan adalah yang terbaik bagi kami menurut Allah swt, pada saatnya nanti kami akan diberi. Insya allah.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar