Tuesday, June 21, 2016

Mengapa Prostitusi Bukan Solusi untuk Mengatasi Masalah Sosial?


Ilustrasi prostitusi bukan solusi untuk mengatasi masalah sosial

Prostitusi sering kali dipandang sebagai persoalan moral semata. Padahal, jika kita melihat lebih dalam, keberadaannya berkaitan dengan banyak persoalan sosial: kemiskinan, lemahnya ketahanan keluarga, pergaulan bebas, eksploitasi manusia, hingga lemahnya perlindungan terhadap perempuan dan anak.

Karena itu, ketika muncul gagasan untuk melegalkan atau melokalisasi prostitusi dengan alasan mengurangi dampak buruknya, kita perlu bertanya: benarkah lokalisasi merupakan solusi?

Menurut saya, bukan.

Prostitusi Bukan Sekadar Persoalan Ekonomi

Salah satu alasan yang sering digunakan untuk membenarkan prostitusi adalah faktor ekonomi. Seseorang dianggap memilih pekerjaan tersebut karena membutuhkan penghasilan.

Memang, persoalan ekonomi tidak boleh diabaikan. Pemerintah perlu menyediakan lapangan pekerjaan, pendidikan yang layak, dan jaminan sosial agar masyarakat memiliki pilihan hidup yang lebih baik.

Namun, menjadikan kebutuhan ekonomi sebagai alasan untuk membiarkan praktik prostitusi juga bukan penyelesaian yang mendasar.

Jika seseorang berada dalam kondisi sulit, yang seharusnya diperbaiki adalah kondisi yang membuatnya terpaksa mengambil pilihan tersebut, bukan sekadar menyediakan tempat agar praktiknya dapat berlangsung secara lebih teratur.

Ketika Tubuh Manusia Menjadi Komoditas

Persoalan yang lebih mendasar adalah ketika tubuh manusia diperlakukan sebagai barang yang dapat diperjualbelikan.

Manusia memiliki kehormatan dan martabat. Karena itu, hubungan antara laki-laki dan perempuan tidak semestinya dibangun hanya berdasarkan transaksi ekonomi.

Islam menempatkan hubungan seksual dalam kerangka pernikahan. Pernikahan bukan hanya mengatur hubungan antara laki-laki dan perempuan, tetapi juga memberikan tanggung jawab, perlindungan, serta hak dan kewajiban bagi masing-masing pihak.

Dengan kerangka tersebut, Islam berusaha menjaga agar kebutuhan biologis manusia tidak berkembang menjadi eksploitasi terhadap manusia lainnya.

Baca Juga: Gara-Gara Gaul Tanpa Batas

Lokalisasi Tidak Menghilangkan Akar Masalah

Ada anggapan bahwa jika prostitusi ditempatkan di kawasan tertentu dan diawasi, maka masalah sosial akan menjadi lebih mudah dikendalikan.

Namun, pengaturan tempat tidak otomatis menyelesaikan penyebabnya.

Kemiskinan tetap ada. Pergaulan bebas tetap menjadi persoalan. Eksploitasi tetap mungkin terjadi. Permintaan terhadap prostitusi juga tidak hilang hanya karena aktivitas tersebut ditempatkan di kawasan tertentu.

Bahkan, jika masyarakat mulai menganggap prostitusi sebagai sesuatu yang biasa dan dapat diterima, persoalan moral dan sosial yang lebih luas justru perlu diperhatikan.

Karena itu, penyelesaian masalah tidak cukup hanya dengan pendekatan administratif.

Baca Juga: Perlindungan Islam Bagi Perempuan

Perlindungan Perempuan dan Anak Harus Menjadi Prioritas

Dalam persoalan prostitusi, kelompok yang rentan harus mendapatkan perhatian khusus.

Perempuan yang masuk ke dalam dunia prostitusi tidak selalu berada dalam kondisi yang benar-benar bebas memilih. Ada yang menghadapi tekanan ekonomi, kekerasan, manipulasi, penipuan, maupun eksploitasi.

Demikian pula anak-anak harus mendapatkan perlindungan secara mutlak dari segala bentuk eksploitasi seksual.

Maka, kebijakan pemerintah seharusnya diarahkan untuk mencegah eksploitasi dan memberikan jalan keluar, bukan hanya mengatur bagaimana aktivitas tersebut berlangsung.

Pendidikan, lapangan pekerjaan, perlindungan keluarga, pemberantasan perdagangan manusia, serta penegakan hukum terhadap pelaku eksploitasi merupakan bagian penting dari penyelesaian masalah.

Islam Memandang Persoalan Secara Menyeluruh

Islam tidak hanya berbicara tentang larangan terhadap perbuatan tertentu. Islam juga mengatur berbagai faktor yang dapat mencegah masyarakat terjerumus ke dalam kerusakan.

Keluarga diperkuat. Kehormatan manusia dijaga. Pergaulan antara laki-laki dan perempuan diatur. Orang yang membutuhkan bantuan ekonomi diperhatikan. Eksploitasi dan kezaliman terhadap manusia dilarang.

Artinya, persoalan prostitusi tidak seharusnya dilihat secara terpisah dari sistem kehidupan secara keseluruhan.

Jika kita hanya berusaha mengendalikan akibat tanpa memperbaiki penyebabnya, masalah yang sama akan terus muncul dalam bentuk yang berbeda.

Bukan Lokalisasi, tetapi Penyelesaian yang Mendasar

Prostitusi bukanlah persoalan yang selesai hanya karena aktivitasnya dipindahkan ke suatu tempat.

Yang perlu dilakukan adalah membangun masyarakat yang mampu memenuhi kebutuhan hidup secara layak, memperkuat keluarga, memberikan pendidikan moral dan agama, melindungi perempuan dan anak, serta menindak tegas pihak yang melakukan eksploitasi dan perdagangan manusia.

Dari perspektif Islam, penyelesaian persoalan sosial harus berangkat dari pandangan bahwa manusia memiliki kehormatan yang wajib dijaga.

Karena itu, lokalisasi prostitusi bukan solusi yang menyelesaikan akar persoalan. Yang dibutuhkan adalah perubahan yang lebih mendasar: membangun kehidupan masyarakat yang melindungi manusia, bukan menjadikan manusia sebagai komoditas.

Islam memiliki seperangkat nilai dan aturan yang bertujuan menjaga agama, jiwa, akal, keturunan, serta harta manusia. Prinsip-prinsip inilah yang semestinya menjadi bagian dari pembahasan ketika kita mencari solusi terhadap berbagai persoalan sosial.

0 Comments

Post a Comment