7 November 2019

Pendidikan Untuk Anak Zaman Now



Judul Buku  : Seri Parenting Ideologis Strategi Mendidik Anak Zaman Now, Berpikir Konsep, Metode, Uslub, dan Sarana
Penulis        : Yanti Tanjung
Penerbit      : Al Azhar Fresh Zone
Tahun Terbit: 2018
Cetakan      : Pertama
Tebal           : 248 halaman

Buku pendidikan anak menjadi salah satu buku yang paling diminati saat ini. Mengingat tantangan orang tua mendidik anak di zaman teknologi canggih cukup berat.

Sebagai penggiat home schooling, penulis merasa ikut bertanggung jawab untuk berbagi ilmu dan pengalaman beliau pada orang banyak. Maka lahirnya buku Seri Parenting Ideologis, yang mana buku Strategi Mendidik Anak Zaman Now ini menjadi seri ketiga melengkapi dua buku sebelumnya.

Hal paling menonjol di era digital saat ini adalah kecanggihan sarana komunikasi berbentuk HP, sosial media, dan internet. Kemajuan teknologi di bawah sistem politik kapitalisme ternyata tak hanya membawa manfaat semata melainkan juga mudharat.

Sebab kebebasan ala kapitalis liberal memunculkan konten – konten berbahaya seperti pornografi, games tak mendidik dan konten merusak lainnya.

Untuk itu menurut penulis, dalam mendidik anak orang tua harus serius. Diawali dari menentukan gambaran output pendidikan yang hendak diwujudkan. Sebagai muslim, selayaknya orang tua berkeinginan menyiapkan anak – anak sebagai generasi yang tangguh.

Cirinya yaitu, punya kepribadian Islam yang baik, menjadi ulama yang ilmuwan dan ilmuwan yang ulama, mampu menjadi pemimpin yang paham politik, hukum dan jihad, menjadi pewaris dakwah dan bagian dari peradaban Islam. Penjelasan mengenai poin – poin tersebut ada dalam buku.

Selanjutnya orangtua harus memahami mengenai fikrah (pemikiran), thariqah (metode), uslub (strategi dan teknis) dan sarana dalam mendidik. Mengenai fikrah dan thariqah menurut beliau harus bersumber sepenuhnya dari Islam.

Sebab Islam telah menjelaskan konsep dan metode mendidik anak yang bersifat baku. Uslub dan saranalah yang boleh berubah – ubah mengikuti perkembangan zaman. Dalam hal ini gadget mencakup dalam sarana. Artinya boleh dipakai, bisa juga tidak.

Penulis sependapat dengan psikolog, Ibu Elly Risman, bahwa tak seharusnya orangtua berpikir kaku tentang gadget. Khawatir hingga melarang anak menggunakan gadget sama sekali. Atau membebaskan anak pakai gadget dengan alasan mengikuti perkembangan zaman.
Yang tepat adalah orangtua harus melihat kondisi, kapan waktu yang tepat bagi anak menggunakan gadget sebagai sarana belajar. Orangtua harus cerdas memilihkan konten yang bermanfaat bagi anak.

Akidah, tsaqafah, fikih, sirah, tafsir dan lain-lain serta bahasa arab (hafalan qur’an dll) menjadi menu utama yang harus diberi pada ada sejak usia dini. Metode belajar dijalankan sesuai usia belajar anak yang dibagi menjadi tiga.

Usia 0-6 tahun yang disebut pendidikan usia dini. 7-10 tahun disebut sebagai pendidikan pra baligh. 10 sampai 14 tahun adalah jenjang pendidikan usia baligh.  Pendidikan usia dini sebaiknya sepenuhnya dalam bimbingan orangtua.

Namun bila dibutuhkan usia 4-6 tahun anak bisa diikutkan belajar di lingkungan luar, semacam play grup gitu kali ya. Jenjang pendidikan selanjutnya dilakukan orangtua dengan bantuan sekolah, tetap dipastikan sekolah tersebut berbasis akidah Islam.

Penekanan penulis lebih kepada aspek fikrah. Silahkan disesuaikan berbagai strategi, teknik dan sarana yang menunjang efektifitas belajar anak. Hingga penanaman Islam maksimal dilakukan pada anak. Contoh strategi dan teknik dalam bentuk penyusunan silabus pelajaran diberikan dalam buku ini.

Sesungguhnya dalam mendidik anak dan memilihkan sekolah bagi ananda tidak dilihat dari seberapa besar tantangan yang dihadapi sehingga dia survive terhadap keberagaman zaman, tapi dipandang dari sisi sejauh mana pendidikan yang kita berikan ke anak sesuai dengan konsep pendidikan Islam sehingga ananda memiliki kepribadian Islam yang tangguh. (Hal. 57)

Setelah anak baligh dan pribadi Islam dipandang telah cukup dimiliki anak, anak baru boleh belajar mengenai tsaqafah asing seperti demokrasi, kapitalisme dan lain – lain.

Buku ini kurang menjelaskan mengenai lika – liku tantangan orang tua menghadapi anak yang sejak kecil terlanjur mengenal gadget. Orangtua sendiri kan akrab ya dengan hp. Tentu tak bisa dihindari bagi anak mengenal gadget di usia dini.

Kalaupun ada bahasan seputar pengaruh gadget pada anak, itu ada di sub bab berjudul “Menghadapi Anak Yang Ngeyel”. Secara ringkas disebutkan, bila anak remaja anda bersikap keras kepala, susah diatur yang salah satu sebabnya karena ia ingin dibelikan gadget seperti temannya, maka bangunlah komunikasi menyenangkan dengan anak.

Ciptakan komunikasi rasa akidah dengan anak yang penuh dengan kesabaran. Jika anak tetap membangkang, katakan padanya, “Nak, jika tetap tidak mau menuruti nasehat bunda, jika kakak sudah tidak taat lagi pada Allah, saksikanlah bahwa bunda sudah menyampaikan hukum–hukum Allah pada kakak dan sudah menasehati kakak dalam agama, kelak jangan tuntut bunda di akhirat karena bunda tidak akan sanggup berhadapan dengan kakak di Yaumil Hisab.”  (Hal. 216).

Urusan mendidik anak adalah urusan yang kompleks. Maka diantara banyaknya referensi yang kita butuhkan dalam menunjang upaya pendidikan anak, buku ini bolehlah sebagai salah satu bacaan kita.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar