Monday, July 31, 2023

Aksi Begal Marak Di Medan, Kenapa Ya?

Ilustrasi aksi begal dan kejahatan jalanan di Medan
TvOneNews.com

Salah satu tindak kriminalitas yang cukup meresahkan Kota Medan adalah begal.

Pemberitaan tentang aksi begal muncul dalam berbagai bentuk. Ada perampokan, korban yang mengalami kekerasan, hingga aksi yang menyasar masyarakat ketika sedang beraktivitas di jalan.

Tak heran jika kemudian banyak beredar imbauan di media sosial agar masyarakat lebih berhati-hati ketika keluar rumah, terutama pada malam hari. Khawatir menjadi korban aksi begal.

Pertanyaannya, mengapa kejahatan bisa begitu meresahkan?

Tokoh muslim nasional Ustaz Ismail Yusanto pernah menyampaikan setidaknya ada tiga faktor yang menurutnya dapat mendorong semakin maraknya kejahatan.

Pertama, Kriminalitas Dianggap Biasa

Menurut Ustaz Ismail Yusanto, salah satu persoalan yang perlu diperhatikan adalah munculnya suasana yang membuat kriminalitas seolah menjadi sesuatu yang biasa.

Ketika masyarakat kehilangan kepekaan terhadap dosa dan pelanggaran, batas antara benar dan salah bisa menjadi semakin kabur.

Dalam bahasa agama, furqan sebagai pembeda antara yang benar dan salah menjadi semakin lemah.

Ini tentu persoalan serius.

Sebab ketika seseorang tidak lagi memiliki rasa takut kepada Allah dan tidak melihat perbuatan kriminal sebagai sesuatu yang harus dijauhi, dorongan untuk melakukan kejahatan bisa semakin kuat.

Kedua, Hukum Harus Memberikan Efek Jera

Faktor berikutnya adalah penegakan hukum.

Hukum semestinya tidak hanya memberikan keadilan kepada korban, tetapi juga mampu mencegah orang lain melakukan kejahatan yang sama.

Dalam pandangan Islam, sanksi juga memiliki fungsi zawajir, yaitu mencegah manusia melakukan pelanggaran.

Kita tentu berharap hukum ditegakkan secara adil. Jangan sampai masyarakat kehilangan kepercayaan karena merasa hukum tidak berjalan sebagaimana mestinya.

Hukum juga harus berlaku tanpa membedakan latar belakang sosial dan ekonomi seseorang.

Dalam perspektif Islam, hukum bukan semata-mata hasil pertimbangan manusia, tetapi harus berpijak pada aturan Allah sebagai Pencipta manusia.

Ketiga, Pengaruh Lingkungan dan Tontonan

Faktor lainnya adalah pengaruh lingkungan.

Apa yang dilihat, didengar, dan dialami seseorang dapat memengaruhi cara berpikir dan perilakunya. Karena itu, lingkungan sosial dan media juga memiliki peran dalam membentuk pola pikir masyarakat.

Tontonan yang terus-menerus menampilkan kekerasan, dendam, kriminalitas, atau perilaku buruk tentu patut dikritisi.

Bukan berarti setiap orang yang melihat tontonan tersebut pasti akan melakukan kejahatan. Namun, menurut saya, media tetap memiliki tanggung jawab karena apa yang berulang kali ditampilkan dapat ikut membentuk persepsi dan kebiasaan.

Di era media sosial, tantangannya semakin besar. Konten dapat menyebar dengan cepat dan tidak semuanya memiliki nilai edukasi yang baik.

Pada akhirnya, tontonan bisa saja berubah menjadi tuntunan apabila tidak disikapi secara kritis.

Baca Juga: [Menegur Orang yang Tengah Berpacaran, Nyawa Remaja Ini Melayang]

Kejahatan Dipengaruhi Faktor dari Dalam dan Luar

Dari ketiga faktor tersebut, saya melihat bahwa perilaku manusia memang perlu diperhatikan dari dua sisi: faktor dari dalam diri dan faktor dari lingkungan.

Ada niat dari dalam diri, tetapi ada pula pengaruh dari luar.

Karena itu, pencegahan kejahatan tidak cukup hanya dengan menangkap pelaku setelah kejahatan terjadi. Kita juga perlu memperbaiki faktor-faktor yang dapat mendorong seseorang melakukan kejahatan.

Di sinilah saya melihat Islam memiliki konsep yang menyeluruh.

Dari sisi individu, Islam memberikan pendidikan yang berlandaskan keimanan. Anak tidak hanya diajarkan pengetahuan, tetapi juga dibentuk agar mengenal Allah, memahami halal dan haram, serta memiliki akhlak.

Dari sisi masyarakat, Islam mendorong terciptanya lingkungan yang saling mengingatkan dalam kebaikan dan mencegah kemungkaran.

Sementara dari sisi negara, keamanan rakyat merupakan tanggung jawab yang tidak boleh diabaikan.

Baca Juga: 

Jangan Menjadi Kampung Maksiat: Pentingnya Menjaga Lingkungan

Menutup Pintu Kejahatan dari Hulu

Islam tidak hanya berbicara tentang bagaimana menghukum pelaku setelah kejahatan terjadi.

Islam juga memberikan perhatian pada pencegahan.

Pendidikan Islam diarahkan untuk membentuk pribadi yang baik. Sistem ekonomi yang adil diharapkan mampu memenuhi kebutuhan masyarakat. Aturan sosial menjaga lingkungan tetap sehat. Media diarahkan agar tidak menjadi sarana penyebaran kerusakan. Dan hukum ditegakkan untuk memberikan perlindungan serta efek pencegahan.

Dengan pendekatan seperti itu, persoalan kejahatan tidak hanya dilihat dari hilir, tetapi juga dari hulunya.

Baca Juga: Anak Durhaka Didikan Sekulerisme

Saya meyakini bahwa penerapan Islam secara menyeluruh dapat menjadi jalan untuk membangun kehidupan yang lebih tertib, aman, dan bermartabat.

Sebab ketika individu memiliki keimanan, masyarakat memiliki kepedulian, dan negara sungguh-sungguh menjalankan tanggung jawabnya, berbagai pintu menuju kejahatan dapat lebih kuat dicegah.

Semoga Allah melindungi masyarakat kita dari kejahatan dan memberi kekuatan kepada para pemimpin untuk menegakkan keadilan serta menjaga keamanan rakyat.

Wallahu a'lam bishawab.

0 Comments

Post a Comment