![]() |
| https://m.merdeka.com/ |
Film India Gentleman (2020) mengingatkanku bahwa manusia adalah makhluk yang diberi akal oleh Allah SWT. Dengan akalnya, manusia mampu mengembangkan ilmu pengetahuan, teknologi, sarana dan prasarana untuk mempermudah kehidupan.
Namun ada satu hal penting: kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi tetap membutuhkan tuntunan moral dan agama.
Tanpa nilai yang menjadi pedoman, kecerdasan manusia bisa saja digunakan bukan untuk kemaslahatan, tetapi justru untuk mengeksploitasi manusia lainnya.
Ketika Keinginan Memiliki Anak Dieksploitasi
Dalam film Gentleman, dikisahkan seorang dokter yang terlibat dalam bisnis ilegal terkait sel telur.
Dalam cerita film tersebut, perempuan menjadi korban eksploitasi untuk mendapatkan sel telur yang kemudian dimanfaatkan dalam bisnis reproduksi.
Kisah tersebut memang merupakan bagian dari cerita film. Tetapi film ini membuatku berpikir tentang persoalan nyata yang lebih luas: ketika keinginan seseorang untuk memiliki anak bertemu dengan kepentingan bisnis, apakah segala cara kemudian boleh dilakukan?
Keinginan memiliki anak tentu merupakan sesuatu yang sangat manusiawi. Bagi pasangan yang sudah lama menanti kehadiran buah hati, berbagai upaya medis mungkin menjadi harapan.
Teknologi reproduksi juga telah berkembang sangat pesat. Salah satunya adalah program bayi tabung atau in vitro fertilization (IVF), yaitu proses pembuahan sel telur dan sperma di luar tubuh sebelum embrio dipindahkan ke rahim.
Persoalan menjadi lebih kompleks ketika proses tersebut melibatkan pihak ketiga, misalnya donor sperma atau donor sel telur.
Ketika Teknologi Bersinggungan dengan Persoalan Nasab
Bagi umat Islam, persoalan reproduksi tidak hanya berkaitan dengan aspek medis.
Ada pula persoalan nasab atau garis keturunan yang harus diperhatikan.
Dalam pandangan Islam yang menjadi dasar tulisan ini, keturunan memiliki hubungan erat dengan pernikahan. Karena itu, penggunaan donor sperma atau sel telur dari pihak di luar pasangan suami istri menjadi persoalan yang perlu dikaji secara serius dari sisi syariat.
Artinya, perkembangan teknologi reproduksi tidak cukup hanya dilihat dari pertanyaan:
“Apakah secara medis bisa dilakukan?”
Tetapi juga perlu ditanyakan:
“Apakah cara tersebut sesuai dengan nilai agama dan prinsip yang ingin kita jaga?”
Di sinilah menurutku agama memiliki peran penting dalam mengarahkan pemanfaatan ilmu pengetahuan.
Jangan Sampai Kesulitan Menjadi Celah Eksploitasi
Aku membayangkan bagaimana beratnya posisi pasangan yang sudah lama menginginkan anak.
Ketika berbagai usaha belum berhasil, kemudian muncul tawaran bahwa teknologi tertentu bisa menjadi solusi, tentu ada harapan besar di sana.
Harapan seperti inilah yang seharusnya tidak dimanfaatkan untuk mengeksploitasi seseorang.
Apalagi jika perempuan yang menjadi donor berada dalam kondisi membutuhkan uang dan tidak sepenuhnya memahami risiko medis maupun konsekuensi dari tindakan yang dijalaninya.
Karena itu, persoalan reproduksi berbantu tidak cukup dibicarakan dari sisi teknologi dan keuntungan ekonomi saja. Keselamatan, persetujuan, etika, dan martabat manusia juga harus diperhatikan.
Teknologi Harus Tetap Berpihak pada Manusia
Menurutku, persoalan sebenarnya bukan pada ilmu pengetahuan atau teknologinya.
Teknologi bisa menjadi sarana kebaikan ketika digunakan dengan benar.
Yang perlu diwaspadai adalah ketika kepentingan ekonomi membuat manusia melihat tubuh dan kebutuhan orang lain hanya sebagai komoditas.
Keinginan memiliki anak adalah persoalan yang sangat sensitif. Karena itu, jangan sampai penderitaan dan kerinduan seseorang justru menjadi peluang bagi pihak lain untuk mendapatkan keuntungan dengan cara yang merugikan.
Di sinilah pentingnya aturan yang melindungi masyarakat dan pengawasan terhadap praktik medis maupun bisnis reproduksi.
Islam Memberikan Panduan dalam Menghadapi Ujian
Islam mengajarkan manusia untuk berikhtiar sekaligus menerima ketetapan Allah SWT.
Pasangan yang belum dikaruniai anak tentu boleh berusaha mencari solusi yang dibenarkan. Menjaga kesehatan, berkonsultasi dengan tenaga kesehatan, dan mengikuti perkembangan pengobatan merupakan bagian dari ikhtiar.
Namun ketika sebuah usaha belum berhasil, seorang muslim juga diajarkan untuk tetap bersabar dan tidak menempuh cara yang bertentangan dengan keyakinannya.
Allah SWT berfirman:
“Wahai manusia! Makanlah dari makanan yang halal dan baik yang terdapat di bumi...”QS. Al-Baqarah: 168
Ayat tersebut mengingatkan kita bahwa kehidupan seorang muslim tidak hanya berbicara tentang bisa atau tidak bisa, tetapi juga tentang halal dan haram, baik dan buruk, serta benar dan salah.
Baca Juga: Mengatasi Problem Kesehatan Dengan Islam
Ilmu Pengetahuan Membutuhkan Arah
Film Gentleman pada akhirnya membuatku kembali pada satu kesimpulan.
Manusia memang diberi kecerdasan untuk mengembangkan ilmu pengetahuan dan teknologi. Tetapi kecerdasan saja tidak cukup.
Ilmu membutuhkan arah. Teknologi membutuhkan etika. Dan kebebasan membutuhkan tanggung jawab.
Ketika agama dijadikan pedoman, ilmu pengetahuan diharapkan menjadi sarana untuk memberikan kemaslahatan, bukan alat untuk mengeksploitasi kelemahan manusia.
Pasangan yang sedang berjuang mendapatkan keturunan pun membutuhkan dukungan, bukan eksploitasi.
Semoga setiap pasangan yang sedang menanti buah hati diberikan kesabaran, kesehatan dan jalan terbaik oleh Allah SWT.


0 Comments
Post a Comment