![]() |
| https://www.ayosemarang.com/ |
Kota Bandung bukan hanya terkenal dengan gadisnya yang cantik-cantik. Ada sisi lain Kota Bandung yang belakangan ini membuat kita miris.
Dikabarkan oleh Komisi Penanggulangan AIDS (KPA) Kota Bandung, sekitar 414 mahasiswa Bandung positif HIV.
Sekitar 600 ibu rumah tangga juga dikabarkan terkena HIV. Sebagian kasus pada ibu rumah tangga berkaitan dengan penularan dari pasangan.
Jumlah tersebut hanyalah sebagian dari orang yang hidup dengan HIV di Bandung. Kasus HIV juga banyak ditemukan pada kelompok usia muda, termasuk usia 20–29 tahun.
Lalu, apa yang sebenarnya sedang terjadi?
HIV bukan sekadar persoalan obat
HIV adalah virus yang menyerang sistem kekebalan tubuh. Jika tidak ditangani, infeksi HIV dapat berkembang menjadi AIDS.
Saat ini memang belum tersedia obat yang dapat menghilangkan HIV dari tubuh sepenuhnya. Namun, terapi antiretroviral (ARV) dapat menekan jumlah virus dan membantu orang yang hidup dengan HIV tetap sehat.
Artinya, pengobatan tetap penting.
Tetapi kalau kita hanya berbicara tentang pengobatan setelah seseorang terinfeksi, kita belum menyentuh persoalan pencegahan.
Sebab pertanyaan yang lebih penting adalah: mengapa penularan terus terjadi?
Berani membicarakan fakta
Kita perlu berani membicarakan fakta berdasarkan data, sekalipun topiknya sensitif.
Kementerian Kesehatan RI pada 2024 melaporkan bahwa 35% infeksi HIV baru ditemukan pada kelompok lelaki yang berhubungan seks dengan lelaki (LSL). Angka ini menunjukkan bahwa hubungan seksual sesama lelaki merupakan salah satu bagian penting yang tidak bisa diabaikan dalam pembahasan epidemi HIV di Indonesia.
UNAIDS juga menyebut epidemi HIV di Indonesia masih banyak terkonsentrasi pada populasi kunci, termasuk LSL, pekerja seks, pengguna narkoba suntik, dan transgender.
Menyampaikan fakta tersebut bukan berarti membenarkan penghinaan atau diskriminasi terhadap orang yang hidup dengan HIV.
Justru karena persoalannya serius, kita harus berani melihat faktor risikonya secara jujur.
Kalau perilaku seksual tertentu memiliki risiko penularan yang tinggi, maka perilaku tersebut juga harus menjadi bagian dari pembahasan pencegahan.
Jangan sampai karena takut dianggap menyinggung kelompok tertentu, kita justru kehilangan keberanian untuk membicarakan akar persoalannya.
Seks bebas bukan solusi
Persoalan HIV tidak bisa dilepaskan dari persoalan perilaku seksual berisiko.
Ketika hubungan seksual dilakukan tanpa batas moral dan agama, sementara masyarakat semakin permisif terhadap pergaulan bebas, maka risiko berbagai persoalan kesehatan dan sosial juga semakin besar.
Karena itu, kampanye pencegahan HIV seharusnya tidak berhenti pada pesan bagaimana menghindari penularan setelah seseorang melakukan perilaku berisiko.
Kita juga perlu berani bertanya: bagaimana mencegah masyarakat, terutama generasi muda, masuk ke dalam perilaku tersebut sejak awal?
Di sinilah keluarga, pendidikan, lingkungan sosial, dan nilai agama mempunyai peran penting.
Baca Juga: Anak, Berkah Terindah Sebuah Keluarga
Lalu apa solusinya?
Solusi tentu bukan dengan membiarkan orang yang sudah terinfeksi.
Mereka tetap harus mendapatkan pemeriksaan, pengobatan, pendampingan, dan perlakuan manusiawi. Pemerintah juga perlu memastikan layanan kesehatan mudah diakses.
Namun, pengobatan bukan satu-satunya solusi.
Pencegahan harus berjalan dari hulu.
Anak-anak dan remaja perlu mendapatkan pendidikan yang membentuk pemahaman tentang kehormatan diri, tanggung jawab, dan batas-batas pergaulan.
Keluarga harus diperkuat.
Masyarakat perlu menciptakan lingkungan yang tidak mendorong pergaulan bebas.
Dan negara tidak cukup hanya sibuk menangani akibat ketika masalah sudah terjadi. Negara juga harus serius menciptakan kebijakan yang mencegah berkembangnya perilaku yang berisiko bagi masyarakat.
Baca Juga: Waspada Covid-19 Makin Gawat, Ini Info Pentingnya
Islam tidak hanya mengobati akibat
Dalam pandangan Islam, menjaga kehidupan bukan hanya berarti mengobati orang yang sudah sakit.
Islam juga mengajarkan tindakan preventif: menjaga kehormatan, menjaga keturunan, membangun keluarga, mengatur pergaulan, dan mencegah perbuatan yang dapat membawa kerusakan.
Karena itu, jika ingin benar-benar menekan persoalan HIV, kita tidak bisa hanya mengandalkan pendekatan medis.
Obat diperlukan bagi yang sakit. Pencegahan diperlukan agar orang tidak jatuh ke dalam penyakit. Dan pembinaan moral diperlukan agar masyarakat tidak terus-menerus menghasilkan perilaku yang berisiko.
Inilah yang sering hilang dalam pembahasan HIV.
Kita sibuk membicarakan bagaimana mengobati akibatnya, tetapi kurang berani membicarakan akar persoalannya.
Jika pergaulan bebas dibiarkan, perilaku seksual berisiko dinormalisasi, sementara agama semakin dijauhkan dari kehidupan, maka persoalan sosial dan kesehatan akan terus bermunculan.
Karena itu, solusi HIV tidak cukup dengan pengobatan.
Diperlukan perubahan dari hulu: keluarga yang kuat, pendidikan yang membentuk akhlak, lingkungan sosial yang sehat, serta sistem kehidupan yang menjadikan nilai agama sebagai bagian penting dalam menjaga masyarakat.
Islam menawarkan bukan hanya cara mengobati kerusakan, tetapi juga cara mencegah kerusakan itu sejak awal.

0 Comments
Post a Comment