Kecamatan Sei Rampah, Kabupaten Serdang Bedagai, Sumatera Utara adalah daerah kelahiran suamiku. Mertuaku masih tinggal di sana. Sementara aku dan suamiku tinggal di daerah Tembung, Kabupaten Deli Serdang. Sekitar sebulan sekali kami pulang kampung ke rumah mertua.
Tentu saja, momen pulang kampung selalu memiliki kesan tersendiri di hati kami.
Namun kali ini bukan itu yang hendak kuceritakan. Ada sebuah kasus kejahatan yang pernah terjadi di Sei Rampah dan membuatku kembali berpikir tentang keamanan perempuan di lingkungan sekitar.
Diberitakan media pada 2021, seorang perempuan menjadi korban pelecehan seksual di wilayah tersebut. Kasus semacam ini kemudian dikenal dengan istilah “begal payudara”.
Membayangkan kejadian tersebut saja sudah membuatku prihatin. Korban telah melaporkan kejadian itu kepada polisi.
Satu lagi kasus yang menyadarkanku sebagai perempuan bahwa keamanan diri memang perlu menjadi perhatian.
Terutama ketika sedang sendirian atau berada di tempat yang sepi. Secara pribadi, rasanya ingin sekali memiliki ilmu bela diri agar bisa melakukan perlindungan diri ketika menghadapi situasi berbahaya.
Tetapi tentu saja, kemampuan melindungi diri bukan satu-satunya hal yang dibutuhkan.
Lebih dari itu, kita membutuhkan lingkungan yang dipenuhi orang-orang yang memiliki kesadaran untuk menghormati perempuan.
Kita membutuhkan laki-laki yang memahami bahwa perempuan bukan objek untuk diganggu atau diperlakukan semaunya. Perempuan adalah manusia yang memiliki kehormatan dan harus dihormati.
Sayangnya, dalam kehidupan nyata masih ada sebagian laki-laki yang melakukan tindakan tidak pantas terhadap perempuan. Karena itu, pendidikan tentang adab, batasan pergaulan, pengendalian diri, dan penghormatan terhadap sesama menjadi sangat penting.
Perempuan Membutuhkan Lingkungan yang Aman
Kalau melihat sejarah, persoalan perlakuan buruk terhadap perempuan bukanlah persoalan baru. Berbagai masyarakat dan peradaban memiliki catatan tentang bagaimana perempuan pernah ditempatkan dalam posisi yang tidak setara.
Islam datang membawa seperangkat aturan yang menempatkan perempuan sebagai manusia yang memiliki kehormatan, hak, dan kewajiban.
Sebagai seorang istri, misalnya, perempuan bukan sekadar pelengkap dalam keluarga. Ia memiliki kedudukan dan hak untuk menyampaikan pendapat.
Salah satu contoh yang sering kita kenal adalah peristiwa Hudaibiyah. Ketika Rasulullah ﷺ menghadapi situasi yang berat, beliau menerima masukan dari Ummu Salamah radhiyallahu 'anha dan mengambil langkah berdasarkan nasihat tersebut.
Hal ini menunjukkan bahwa perempuan memiliki ruang untuk memberikan pendapat dan berkontribusi dalam kehidupan keluarga.
Baca Juga: Melindungi Anak dari Kekerasan, Butuh Aksi Nyata
Islam Mengajarkan Menjaga Pandangan dan Pergaulan
Islam juga memberikan aturan untuk menjaga kehormatan laki-laki dan perempuan.
Allah berfirman dalam QS. An-Nur ayat 30-31 tentang perintah menjaga pandangan dan kehormatan, baik bagi laki-laki maupun perempuan.
Artinya, tanggung jawab menjaga kehormatan bukan hanya dibebankan kepada perempuan.
Laki-laki juga diperintahkan untuk menjaga pandangan dan perilakunya.
Islam juga melarang khalwat, yaitu berduaan antara laki-laki dan perempuan yang bukan mahram dalam kondisi yang dilarang syariat. Aturan ini merupakan salah satu bentuk pencegahan agar hubungan antara laki-laki dan perempuan tetap berada dalam batas yang benar.
Dalam urusan yang memang diperlukan, seperti pendidikan, pekerjaan, kesehatan, dan muamalah lainnya, Islam tetap memberikan ruang interaksi dengan memperhatikan ketentuan syariat.
Jadi, Islam bukan mengajarkan laki-laki dan perempuan untuk tidak berinteraksi sama sekali. Islam mengajarkan bagaimana interaksi itu dilakukan dengan adab dan batasan.
Membangun Lingkungan yang Menghormati Perempuan
Kehidupan kaum Muslimin idealnya tidak hanya dibangun dengan kesalehan individu, tetapi juga dengan lingkungan yang mendukung ketaatan.
Seorang muslim dididik untuk memahami bahwa setiap perbuatannya akan dipertanggungjawabkan di hadapan Allah.
Karena itu, tangan, mata, lisan, dan seluruh anggota tubuh seharusnya digunakan untuk sesuatu yang diridai Allah, bukan untuk mengganggu atau merendahkan orang lain.
Termasuk dalam persoalan konten digital.
Konten yang mengeksploitasi tubuh dan seksualisasi manusia perlu diwaspadai karena dapat membentuk cara pandang yang keliru terhadap hubungan laki-laki dan perempuan, terutama ketika dikonsumsi terus-menerus tanpa pendidikan dan pendampingan.
Baca Juga: Ketika Anak Terlibat Perilaku Seksual Tidak Pantas, Apa yang Harus Dilakukan Orangtua?
Perempuan Juga Perlu Belajar Melindungi Diri
Kembali ke masa kini.
Kasus pelecehan seksual mengingatkan kita bahwa perempuan perlu memiliki kewaspadaan. Belajar bela diri, mengetahui lingkungan sekitar, menghindari tempat yang terlalu sepi ketika sendirian, serta berani meminta pertolongan ketika berada dalam bahaya adalah bentuk ikhtiar.
Namun ada hal yang tidak boleh dilupakan:
Kewaspadaan perempuan bukan berarti perempuan yang bertanggung jawab atas kejahatan yang dilakukan pelaku.
Ketika terjadi pelecehan, pihak yang bersalah adalah orang yang melakukan pelecehan tersebut.
Karena itu, selain mengajarkan perempuan untuk menjaga diri, masyarakat juga harus mendidik laki-laki agar mampu mengendalikan diri dan menghormati perempuan.
Keluarga memiliki peran besar dalam pendidikan ini. Begitu juga sekolah, lingkungan masyarakat, media, dan negara.
Apa yang Kita Butuhkan?
Menurutku, kita membutuhkan perubahan yang lebih mendasar.
Bukan hanya meminta perempuan agar semakin kuat menjaga dirinya, tetapi juga membentuk laki-laki yang takut kepada Allah dan menghormati kehormatan manusia.
Kita membutuhkan pendidikan yang tidak hanya mengejar kemampuan akademik dan pekerjaan, tetapi juga membentuk akhlak.
Kita membutuhkan lingkungan yang tidak menormalisasi pornografi, pelecehan, dan perilaku yang merendahkan manusia.
Dan sebagai seorang Muslim, tentu kita meyakini bahwa Islam memiliki aturan yang mengatur kehidupan manusia, mulai dari akidah, ibadah, keluarga, pergaulan, ekonomi hingga kehidupan bermasyarakat.
Karena itu, menurutku, mempelajari Islam secara menyeluruh bukan sekadar belajar teori agama. Ia juga merupakan upaya memahami bagaimana manusia seharusnya menjalani kehidupan dengan menjaga kehormatan dirinya dan orang lain.
Semoga para perempuan senantiasa dilindungi Allah SWT. Dan semoga kita juga menjadi bagian dari masyarakat yang mampu menciptakan lingkungan yang aman, bermartabat, dan menghormati perempuan.
Aamiin.

0 Comments
Post a Comment