![]() |
| https://www.wowkeren.com/ |
Banyak sisi yang bisa dikomentari dari pernikahan Atta Halilintar dan Aurel Hermansyah. Bukan berarti kita julid dengan kebahagiaan orang lain. Menikah adalah ibadah dan merupakan jalan yang sah bagi seorang laki-laki dan perempuan untuk membangun kehidupan bersama. Karena itu, ketika ada yang menikah, tentu kita turut mendoakan dan berbahagia.
Namun, bukan berarti karena sebuah pernikahan adalah sesuatu yang baik, seluruh hal yang menyertainya otomatis harus dianggap baik. Kebahagiaan seseorang tidak serta-merta membuat semua bentuk konten yang dibuat setelahnya menjadi sesuatu yang layak ditonton semua orang.
Ketika Pernikahan Menjadi Konten
Sudah banyak yang menyoroti pernikahan Atta-Aurel dari berbagai sisi. Ada yang mengkritisi perlakuan pemerintah terhadap acara tersebut dibandingkan dengan acara pernikahan lain yang melibatkan keluarga ulama.
Saya sendiri ingin melihat persoalan ini dari sisi pendidikan.
Ketua PW PERGUNU Papua, Fritz Haryadi, pernah menyampaikan kritik terhadap sejumlah konten YouTube Atta Halilintar. Salah satu yang menjadi sorotan adalah video pascapernikahan yang diberi judul “Malam Pertama Atta dan Aurel.”
Menurut Fritz, meskipun video tersebut tidak menampilkan pornografi secara terang-terangan, konten semacam itu tetap perlu dikritisi dari sisi pengaruhnya terhadap generasi muda.
Kekhawatiran tersebut patut menjadi bahan renungan. Sebab, figur publik dengan jumlah pengikut yang besar tentu memiliki pengaruh terhadap cara anak-anak dan remaja memandang kehidupan.
Baca Juga: Aksi Begal Marak di Medan, Kenapa Ya?
Ketika Hiburan Menjadi Panutan
Fritz juga menceritakan bagaimana istrinya yang merupakan guru SMP berusaha mengingatkan para siswanya agar tidak terlalu larut dalam konten hiburan yang mereka konsumsi.
Sebagian siswa diketahui menyukai konten tentang kehidupan selebritas, kemewahan, prank, dan berbagai hiburan lainnya.
Masalahnya bukan semata-mata siapa yang membuat konten tersebut. Masalah yang lebih besar adalah ketika anak-anak mulai menjadikan kehidupan yang mereka lihat di layar sebagai standar kehidupan yang harus mereka ikuti.
Waktu belajar dapat tersita. Perhatian mereka tersedot pada kehidupan orang lain. Bahkan, keinginan untuk mengikuti tren dapat muncul hanya agar mereka tidak merasa tertinggal dari teman-temannya.
Di sinilah pendidikan menjadi sangat penting.
Guru dan orang tua tidak cukup hanya melarang anak menonton sesuatu. Mereka perlu membantu anak memahami mana hiburan yang bermanfaat dan mana yang justru membuat waktu serta perhatian mereka terbuang.
Siapa yang Bertanggung Jawab?
Guru tentu memiliki tanggung jawab terhadap peserta didik. Orang tua juga memiliki tanggung jawab terhadap anak-anaknya.
Demikian pula para pembuat konten.
Atta-Aurel tentu memiliki hak untuk berkarya dan mendapatkan penghasilan dari profesinya. Namun, semakin besar jumlah penonton, semakin besar pula pengaruh yang mereka miliki.
Karena itu, menjadi figur publik bukan hanya soal mendapatkan keuntungan. Ada tanggung jawab sosial yang ikut melekat.
Baca Juga: Tren Pemuda Sekuler, Menyakiti Diri Sendiri
Begitu pula dengan pemerintah dan pihak yang memiliki kewenangan dalam mengatur ruang publik. Kebijakan terhadap media dan industri hiburan semestinya tidak hanya mempertimbangkan popularitas atau kepentingan ekonomi, tetapi juga dampaknya terhadap pendidikan generasi muda.
Ketika Standar Baik dan Buruk Menjadi Kabur
Salah satu persoalan yang saya lihat adalah semakin beragamnya standar masyarakat tentang baik dan buruk.
Apa yang dianggap biasa oleh sebagian orang bisa dianggap tidak pantas oleh orang lain. Terlebih ketika sesuatu ditampilkan kepada khalayak luas melalui media.
Dalam kondisi seperti ini, masyarakat membutuhkan standar yang lebih jelas.
Bukan berarti setiap orang harus kehilangan kebebasan. Namun kebebasan juga semestinya disertai tanggung jawab.
Konten yang ditonton jutaan orang, apalagi oleh anak-anak dan remaja, tentu berbeda dampaknya dengan sesuatu yang hanya dikonsumsi secara pribadi.
Ketika Kepedulian Kalah oleh Kepentingan
Bisa saja seorang pembuat konten menganggap tayangannya hanya hiburan. Penonton menyukainya, jumlah penonton meningkat, kemudian konten serupa terus dibuat.
Dari sisi bisnis, hal tersebut mungkin menguntungkan.
Tetapi pertanyaan yang lebih penting adalah: apa dampaknya terhadap penonton?
Apakah konten tersebut membuat anak-anak semakin rajin belajar, semakin dekat dengan keluarga, dan semakin memiliki cita-cita?
Ataukah justru membuat mereka sibuk mengejar tren, popularitas, dan gambaran kehidupan yang serba glamor?
Pertanyaan seperti inilah yang menurut saya perlu dibicarakan.
Islam Memberikan Standar Kehidupan
Beginilah ketika masyarakat tidak memiliki standar yang kuat dalam menentukan baik dan buruk. Sesuatu yang populer dapat dengan mudah dianggap benar hanya karena banyak orang menyukainya.
Saya meyakini bahwa Islam memiliki standar yang jelas. Baik dan buruk tidak semata-mata ditentukan oleh popularitas, keuntungan, atau selera manusia, tetapi dikembalikan kepada aturan Allah SWT yang bersumber dari Al-Qur'an dan As-Sunnah.
Baca Juga: Aksi Begal Marak Di Medan, Kenapa Ya?
Dalam pandangan Islam, media bukan sekadar sarana mencari keuntungan. Media juga memiliki tanggung jawab dalam menjaga masyarakat, terutama generasi muda, dari konten yang merusak nilai dan akhlak.
Kekayaan pun bukan sesuatu yang dilarang. Islam membolehkan manusia mencari harta dan menikmati kehidupan dunia selama tetap berada dalam koridor yang halal.
Begitu pula pendidikan. Pendidikan tidak semata-mata diarahkan agar seseorang mendapatkan pekerjaan, tetapi juga membentuk kepribadian yang baik, bertakwa, berilmu, serta memiliki kemampuan untuk memberikan manfaat.
Keluarga, sekolah, masyarakat, dan negara memiliki peran masing-masing dalam membentuk generasi.
Karena itu, saya mengapresiasi kepedulian Fritz Haryadi dan istrinya terhadap para siswa. Semoga para pembuat konten juga semakin menyadari besarnya pengaruh yang mereka miliki.
Mencari penghasilan tentu boleh. Menjadi kreator juga boleh. Tetapi alangkah baiknya jika karya yang dihasilkan bukan hanya menghasilkan uang, melainkan juga memberikan manfaat bagi masyarakat dan generasi muda.
Semoga kita semua mampu menggunakan media dengan lebih bijak dan menjadikan Islam sebagai panduan dalam kehidupan.
Aamiin.

0 Comments
Post a Comment