Belakangan ini istilah open marriage atau pernikahan terbuka kembali menjadi perbincangan. Istilah tersebut merujuk pada hubungan suami istri yang sepakat memberikan kebebasan kepada masing-masing untuk menjalin hubungan dengan orang lain.
Mendengar konsep seperti ini tentu membuat kita bertanya: apa sebenarnya makna pernikahan jika pasangan tidak lagi memiliki komitmen untuk saling menjaga?
Pernikahan bukan sekadar status di hadapan masyarakat. Di dalamnya ada tanggung jawab, kesetiaan, kasih sayang, dan komitmen untuk membangun keluarga bersama.
Persoalan keluarga juga berkaitan erat dengan bagaimana orangtua menjalankan perannya dalam mendidik anak.
Dalam pandangan Islam, pernikahan juga merupakan ikatan yang mulia. Suami dan istri bukan hanya hidup bersama, tetapi saling menjaga kehormatan, memberikan kasih sayang, dan menjalankan tanggung jawab sesuai ketentuan Allah Swt.
Karena itu, konsep hubungan terbuka jelas bertentangan dengan nilai kesetiaan yang menjadi bagian penting dalam kehidupan rumah tangga.
Ketika Kebebasan Menjadi Ukuran
Fenomena hubungan terbuka menunjukkan bagaimana perubahan nilai dalam masyarakat dapat memengaruhi cara manusia memandang keluarga dan pernikahan.
Ketika kebebasan individu ditempatkan sebagai ukuran utama, berbagai bentuk hubungan dapat dianggap sebagai pilihan pribadi selama dilakukan atas dasar kesepakatan.
Namun, apakah sesuatu otomatis menjadi benar hanya karena disepakati oleh dua orang?
Bagi seorang muslim, ukuran benar dan salah bukan semata-mata kesepakatan manusia. Ada aturan Allah Swt yang menjadi pedoman kehidupan.
Islam mengajarkan agar hubungan antara laki-laki dan perempuan dijaga dalam batas yang telah ditetapkan. Pernikahan justru hadir untuk memberikan ketenangan, tanggung jawab, dan perlindungan bagi kedua belah pihak.
Menjaga Rumah Tangga
Rumah tangga tentu tidak selalu berjalan sempurna. Ada kekurangan pada suami, ada kekurangan pada istri. Ada persoalan ekonomi, komunikasi, perbedaan karakter, dan berbagai ujian lainnya.
Namun persoalan tersebut bukan alasan untuk mencari hubungan lain.
Pasangan suami istri perlu belajar berkomunikasi, saling memahami, memperbaiki kekurangan, dan menguatkan kembali komitmen pernikahan.
Keimanan juga menjadi bekal penting. Ketika suami dan istri sama-sama menyadari bahwa pernikahan merupakan amanah dari Allah, mereka akan lebih berhati-hati dalam menjaga hubungan.
Baca Juga: Anak, Berkah Terindah Sebuah Keluarga
Pernikahan dalam Pandangan Islam
Islam memandang pernikahan sebagai bagian penting dalam kehidupan manusia. Tujuannya bukan sekadar memenuhi kebutuhan pribadi, tetapi membangun keluarga yang dipenuhi ketenteraman, kasih sayang, dan tanggung jawab.
Allah Swt berfirman:
“Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah Dia menciptakan untukmu pasangan-pasangan dari jenismu sendiri agar kamu merasa tenteram kepadanya, dan Dia menjadikan di antaramu rasa kasih dan sayang.”(QS. Ar-Rum: 21)
Betapa indahnya ketika rumah tangga dibangun dengan keimanan. Kekurangan pasangan tidak menjadi alasan untuk meninggalkannya, tetapi menjadi kesempatan untuk saling membantu menjadi lebih baik.
Menurut saya, persoalan seperti open marriage seharusnya menjadi pengingat bahwa masyarakat membutuhkan pemahaman yang benar tentang makna keluarga dan pernikahan.
Pernikahan bukan sekadar status. Ia adalah amanah, komitmen, dan bagian dari ibadah kepada Allah Swt.
Semoga keluarga-keluarga muslim senantiasa diberikan sakinah, mawaddah, dan rahmah serta dijauhkan dari berbagai bentuk hubungan yang merusak kehormatan keluarga. Wallahu a'lam bishawab.

0 Comments
Post a Comment