Guru adalah salah satu orang yang memiliki
peran besar dalam mencerdaskan generasi. Namun, bagaimana jika guru yang setiap
hari mendidik anak-anak justru belum mendapatkan kesejahteraan yang layak?
Persoalan guru honorer menunjukkan bahwa penghargaan terhadap jasa pendidik
masih menjadi pekerjaan besar bagi negara.
Guru Adalah Pahlawan Pendidikan
#MyTeacherMyHero, inilah hashtag di Twitter yang beberapa waktu
lalu berada pada urutan teratas. Artinya, pada saat itu sedang ramai
dibicarakan peran guru sebagai pahlawan pendidikan.
Apa jadinya sebuah negeri tanpa guru?
Bisa-bisa negeri tersebut akan kesulitan
melahirkan generasi berpendidikan yang kelak siap mengurus dan membangun
negaranya. Guru bukan hanya bertugas menyampaikan pelajaran di ruang kelas.
Mereka ikut membentuk pengetahuan, karakter, dan masa depan anak-anak.
Karena itu, kesejahteraan guru seharusnya
menjadi salah satu perhatian penting pemerintah.
Tulisan ini merupakan catatan saya mengenai
persoalan guru honorer di Kabupaten Simalungun, Sumatera Utara, pada 2016.
Persoalan yang terjadi saat itu membuat saya kembali bertanya: sudahkah jasa
dan pengabdian guru benar-benar dihargai?
730 Guru Honorer Tidak Menerima Gaji
Pada 2016, diberitakan sebanyak 730 guru
honorer yang terdiri dari guru SD, SMP, dan SMA di Kabupaten Simalungun,
Sumatera Utara, tidak menerima gaji selama berbulan-bulan.
Saat itu, para guru tersebut melalui Forum Guru
Honorer mengadukan persoalan yang mereka alami kepada DPRD, Dinas Pendidikan,
bahkan sampai kepada DPR RI.
Namun, persoalan tersebut belum juga
mendapatkan penyelesaian yang mereka harapkan.
Kalaupun ada sebagian guru yang menerima honor,
nominalnya sangat kecil. Sebagian guru SD dan SMP saat itu menerima sekitar Rp200
ribu hingga Rp300 ribu per bulan, yang bersumber dari dana sekolah.
Persoalannya, tugas mereka bukan hanya
mengajar.
Sebagian guru juga menjalankan tugas sebagai
operator sekolah. Mereka harus mengurusi berbagai administrasi pendidikan,
termasuk Data Pokok Pendidikan (Dapodik).
Pekerjaan administrasi tersebut bahkan membuat
sebagian guru harus bekerja hingga sore hari.
Jadi, ketika kita berbicara tentang
kesejahteraan guru, yang perlu dilihat bukan hanya berapa jam mereka berdiri di
depan kelas. Ada banyak pekerjaan lain yang dilakukan guru di balik proses
pendidikan.
Tetap Mengajar Meski Belum Menerima Honor
Hal yang membuat saya prihatin adalah para guru
tersebut tetap berusaha menjalankan tugasnya meskipun menghadapi persoalan
kesejahteraan.
Mereka masih mengandalkan hati.
Mereka tidak tega melihat murid-murid
kehilangan kesempatan untuk mendapatkan pendidikan. Karena itu, mereka tetap
mengabdikan diri dan mengajar dalam keadaan serba kekurangan.
Di sinilah kita bisa melihat bahwa menjadi guru
bukan sekadar pekerjaan.
Ada pengabdian yang membuat seseorang tetap
bertahan meskipun kondisi yang dihadapinya tidak mudah.
Namun, tentu saja pengabdian tidak seharusnya
dijadikan alasan untuk membiarkan guru hidup tanpa kesejahteraan yang layak.
Guru juga memiliki kebutuhan hidup. Mereka
memiliki keluarga yang harus dinafkahi dan kebutuhan sehari-hari yang harus
dipenuhi.
Ketika Masalah Guru Dianggap Sekadar Persoalan
Teknis
Persoalan guru honorer di Simalungun saat itu
juga memperlihatkan adanya persoalan koordinasi dan tanggung jawab pemerintah.
Ketika pemerintah daerah beralasan bahwa
persoalan tersebut merupakan perkara yang ditinggalkan pejabat sebelumnya dan
berkaitan dengan proses penyusunan APBD, saya justru melihat ada persoalan yang
jauh lebih besar.
Bagaimana dengan kelanjutan pendidikan
anak-anak?
Kalau guru tidak mendapatkan honor, bagaimana
mereka dapat terus menjalankan tugas dengan tenang?
Dan jika persoalan tersebut berlarut-larut,
bagaimana nasib pendidikan anak-anak yang membutuhkan guru?
Menurut saya, persoalan pendidikan tidak boleh
berhenti pada persoalan teknis administrasi pemerintahan.
Di balik setiap angka dalam APBD, ada manusia
yang kehidupannya terdampak.
Di balik persoalan gaji guru, ada anak-anak
yang membutuhkan pendidikan.
Sekolah Masih Membutuhkan Tenaga Guru
Ironisnya, pada saat persoalan honor belum
terselesaikan, kebutuhan terhadap tenaga guru justru masih ada.
Guru yang mengajar di SDN 096777 Sigodang,
Kabupaten Simalungun, saat itu menuturkan bahwa sekolah mereka masih
membutuhkan tenaga guru.
Artinya, persoalannya bukan semata-mata jumlah
guru yang terlalu banyak.
Di sejumlah daerah, justru masih terdapat
sekolah yang kekurangan tenaga pendidik.
Kondisi seperti ini seharusnya menjadi
perhatian serius pemerintah. Pendidikan tidak mungkin berjalan optimal jika
sekolah kekurangan guru, sementara guru yang sudah mengabdi justru menghadapi
persoalan kesejahteraan.
Persoalan pendidikan memang tidak hanya berkaitan dengan guru, tetapi juga bagaimana anak-anak dipersiapkan menghadapi zamannya. Saya pernah menuliskan hal ini dalam artikel "Pendidikan Untuk Anak Zaman Now"
Persoalan Pendidikan Tidak Hanya Terjadi di
Simalungun
Persoalan guru dan fasilitas pendidikan juga
bukan hanya cerita dari satu daerah.
Pada masa itu, saya teringat pada seorang guru
teladan dari Nusa Tenggara Timur yang pernah menyampaikan kepada Presiden Joko
Widodo mengenai minimnya fasilitas pendidikan di daerah mereka.
Harapan para guru di daerah tentu sederhana:
mereka ingin anak-anak mendapatkan pendidikan yang layak.
Ketika fasilitas terbatas dan guru harus
menghadapi berbagai kesulitan, tentu dibutuhkan kebijakan nyata untuk
menyelesaikan persoalan tersebut.
Guru tidak cukup hanya diminta bekerja keras.
Mereka memang harus bekerja keras. Namun negara
juga memiliki tanggung jawab untuk memastikan mereka mendapatkan dukungan yang
layak agar dapat menjalankan tugasnya.
Menghargai Guru Berarti Menghargai Masa Depan
Jasa guru sebenarnya tidak bisa dihitung hanya
dengan nominal gaji.
Banyak orang yang hari ini menjadi pejabat,
pengusaha, profesional, akademisi, maupun pemimpin, pernah duduk di bangku
sekolah dan mendapatkan pendidikan dari seorang guru.
Dengan kata lain, orang-orang yang hari ini
berada di berbagai posisi kehidupan pernah mendapatkan kontribusi dari para
pendidik.
Karena itu, menurut saya, kesejahteraan guru
seharusnya tidak ditempatkan sebagai persoalan sampingan.
Menghargai guru berarti menghargai pendidikan.
Menghargai pendidikan berarti menghargai masa depan generasi.
Ketika guru tidak mendapatkan kesejahteraan
yang layak, dampaknya bukan hanya dirasakan oleh guru. Dalam jangka panjang,
persoalan tersebut dapat berpengaruh terhadap kualitas pendidikan.
Negara Harus Bertanggung Jawab terhadap
Pendidikan
Dalam pandangan yang saya yakini, persoalan
tersebut tidak bisa dilepaskan dari bagaimana sebuah negara memandang tanggung
jawabnya terhadap rakyat.
Jika negara hanya melihat pendidikan dari sisi
anggaran, administrasi, dan target pembangunan, manusia yang menjalankan
pendidikan bisa saja kehilangan perhatian.
Padahal pendidikan menyangkut manusia.
Islam memiliki pandangan yang sangat jelas
mengenai tanggung jawab pemimpin terhadap rakyat. Rasulullah saw. bersabda:
“Imam atau penguasa adalah pengatur/pengurus
umat, dan dia akan bertanggung jawab akan apa yang diurusnya.”
(HR. Muslim)
Hadis tersebut mengingatkan bahwa kepemimpinan
bukan sekadar kedudukan. Ada amanah yang harus dipertanggungjawabkan.
Dalam persoalan pendidikan, negara memiliki
tanggung jawab untuk menyediakan pendidikan yang baik, fasilitas yang memadai,
kurikulum yang sesuai, serta memberikan penghargaan dan kesejahteraan yang
layak kepada para pendidik.
Dengan demikian, guru tidak dibiarkan berjuang
sendirian menghadapi berbagai persoalan pendidikan.
Baca Juga: Siswa Coret-Coret Seragam, Cermin Buruknya Pendidikan
Guru Membutuhkan Penghargaan, Bukan Sekadar
Pujian
Kita sering mengatakan bahwa guru adalah
pahlawan tanpa tanda jasa.
Kita membuat ucapan indah pada Hari Guru.
Kita memasang hashtag #MyTeacherMyHero.
Kita mengingat guru yang pernah mengajari kita
membaca, berhitung, menulis, dan memahami berbagai ilmu.
Semua itu tentu baik.
Tetapi penghargaan terhadap guru tidak cukup
berhenti pada kata-kata.
Guru juga membutuhkan kebijakan yang membuat
kehidupan mereka lebih baik.
Mereka membutuhkan kepastian, kesejahteraan,
fasilitas, dan dukungan agar dapat menjalankan tugas dengan maksimal.
Sebab seorang guru juga manusia.
Ia bisa mengabdi dengan tulus, tetapi kebutuhan
hidup tetap harus dipenuhi.
Penutup: Nasib Guru Tidak Boleh Diabaikan
Catatan mengenai guru honorer di Simalungun
pada 2016 ini mungkin merupakan peristiwa yang sudah berlalu. Namun,
persoalan tentang bagaimana negara memperlakukan guru tetap menjadi pembahasan
penting.
Para guru honorer yang saat itu memperjuangkan
haknya tentu berharap persoalan mereka segera menemukan titik terang.
Kita pun berharap tidak ada lagi guru yang
harus memilih antara tetap mengajar dengan penuh pengabdian atau memikirkan
bagaimana memenuhi kebutuhan hidup keluarganya.
Pendidikan adalah investasi masa depan.
Dan guru adalah salah satu orang yang berdiri
paling depan dalam investasi tersebut.
Karena itu, nasib guru tidak boleh dianggap
sepele.
Guru bukan hanya tenaga kerja yang datang ke
sekolah, mengajar, lalu pulang. Mereka ikut menentukan seperti apa generasi
yang akan mengisi masa depan negeri ini.
Menurut pandangan Islam yang saya yakini,
penyelesaian persoalan pendidikan secara menyeluruh membutuhkan sistem yang
menjadikan pemenuhan kebutuhan rakyat sebagai tanggung jawab negara. Syariah
Islam dalam naungan Khilafah saya pandang sebagai solusi yang mampu
menempatkan pendidikan sebagai tanggung jawab negara dan menjamin kebutuhan
pendidik secara layak.
Semoga para guru yang terus mengabdi diberikan
kekuatan dan kemudahan.
Selamat berjuang, para guru. Jasa kalian terlalu besar untuk sekadar dibalas dengan ucapan.

0 Comments
Post a Comment