Belajar Dari Kasus Bunuh Diri Sushant Singh Rajput

pikiran-rakyat.com

Di waktu senggang, kadang aku iseng lihat-lihat kabar terkini kehidupan warganet di kolom searching akun Instagram. Senin tanggal 14 Juni aku iseng kayak gitu. Satu wajah paling banyak berseliweran disitu. Seorang aktor india. Wajahnya gak asing. Pernah ku lihat di satu dua film. Tapi aku nggak tahu namanya.

Kala Bisnis Prostitusi Gay Terungkap

https://www.cnnindonesia.com/
Sumber foto: https://www.cnnindonesia.com/



Sebuah kasus asusila terjadi di kota Medan, Sumatera Utara baru-baru ini. Tepatnya di komplek Tasbih 2, Medan polisi menemukan bisnis amoral berbentuk jasa pijat plus jasa seks sejenis. 11 orang lelaki telah diamankan dari lokasi tersebut. Satu orang adalah pemilik bisnis. Sepuluh lainnya sebagai terapis. 

Melestarikan Tradisi Muhasabah Melalui Medsos


Muslim yang baik akan memahami posisinya di dunia, yaitu untuk mengabdi sepenuhnya pada Allah subhanahu wa ta'ala. Sebab untuk itulah ia diciptakan oleh Allah subhanahu wa ta'ala. Firman Allah subhanahu wa ta'ala dalam al Qur’an surat adz-Dzariyat ayat 56 yang artinya, “Tidaklah Kuciptakan jin dan manusia melainkan untuk beribadah kepadaKu’.

Maka dari itu wujud ibadah hakikatnya adalah ketaatan pada aturan Allah subhanahu wa ta'ala secara keseluruhan. Meski zaman senantiasa berubah, ketaatan tak boleh berubah. Era kini eranya digital. Internet merajai arus informasi di kalangan masyarakat. Di dalamnya tumbuh subur media sosial, yang menghubungkan antar manusia dari berbagai belahan dunia. Bagaimana seorang muslim menyikapinya?

Media sosial (Medsos) sejatinya tetap harus dibingkai dengan ketaatan pada Allah subhanahu wa ta'ala. Bagaimanapun medsos hanya alat komunikasi dan informasi. Dia sarana yang bebas nilai. Dia benda mati yang layak dipergunakan untuk kebaikan. Dalam standar Islam, kebaikan itu hanya terletak pada ajaran Islam itu sendiri.

Jika medsos merupakan salah satu media efektif menyampaikan pesan pada sesama, maka hal itu sejalan dengan ajaran dakwah dalam Islam. Dakwah merupakan aktivitas mengajak manusia ke jalan Allah subhanahu wa ta'ala. Dakwah dapat disampaikan dengan lisan maupun tulisan. Disinilah efektifitas medsos, ketika ia dapat menjadi sarana tersampaikannya Islam pada masyarakat pengguna medsos secara luas. Baik dengan tulisan maupun dengan lisan seperti dalam bentuk video. Inilah yang senantiasa harus diingat oleh muslim, bahwa medsos adalah sarana dakwah.


Dakwah Pada Penguasa Itu Kewajiban

Rasulullah saw bersabda: “Jihad yang paling utama ialah mengatakan kebenaran (berkata yang baik) di hadapan penguasa yang zalim.” (HR. Abu Daud)

Al-Mubarokfuri dalam Kitabnya Tuhfatul Ahwadzi ( 6 / 330 ) menjelaskan, bahwa maksud dari hadits di atas adalah; menegakkan amar makruf nahi munkar, memperjuangkan kebenaran dan melawan kebatilan yang dilakukan oleh penguasa zalim. Itulah bentuk Jihad yang paling mulia. Baik hal tersebut dilakukan secara langsung dengan lisan, ataupun dengan tulisan dan berbagai sarana lainnya.

Jangan Lupa Menghargai Pasanganmu


Pictured by https://www.youtube.com/watch?v=jBw_Eta0HDM


Dihargai dan bahagia Jadi Poin 

Dihargai dan bahagia, dua hal yang menjadi poin penting film india berjudul “Thappad”. Kisahnya sederhana, namun mengena. Amritha adalah seorang perempuan india yang memutuskan menjadi full housewife. Dengan alasan cinta, dia mengabdikan diri mengurus rumah tangga. Senang hati dia melakukannya. Tak ada beban sama sekali. Sebab cinta mampu menjadi mantra dahsyat penghilang segala penat mengurus suami dan rumah.

Sehari-hari Amu, panggilan Amritha oleh orang-orang terdekatnya, bangun paling awal. Ia langsung membuka jendela kamar. Lalu menuju dapur untuk membuat teh. Selesai membuat teh, ia pergi ke balkon menikmati pagi sambil menyeruput teh. Setelah itu ia membawa teh ke kamar dan membangunkan suaminya, Vikram.

Kembali lagi ke dapur untuk membuat sarapan bersama Asisten Rumah Tangganya. Setelah itu ia ke kamar ibu mertuanya untuk memeriksa gula darah sang mertua. Ia turut bertanggung jawab mengawasi kesehatan mertua.

Terakhir ia mengiringi Vikram yang menuju ke luar hendak berangkat kerja, sambil membawakan barang-barang milik Vikram seperti dompet, botol minuman dan file. Usai suaminya berangkat kerja, Amu melatih anak tetangganya menari. Kadang menonton TV. Kadang juga berkunjung ke rumah orangtuanya. Di akhir pekan Amu dan suaminya jalan-jalan.

Kehidupan Amu bisa dikatakan sempurna, dengan suami tampan dan mapan, serta mertua yang baik. Bisa bikin iri para perempuan lain tentunya.

Sampai tragedi itu datang. Suatu malam Amu dan Vikram mengadakan pesta sukuran atas suksesnya karir Vikram. Sedang asik-asiknya berpesta, Vikram mendapatkan kabar buruk tentang pekerjaannya.

Dia Menghargaiku Bukan Dengan Pesta


“Mamak percaya Erwin itu anak baik. Tapi janganlah sampai nggak pesta. Orang aja semua pesta.”

“Asal dia bisa ngasih 15 juta aja, tulang yang nambahin.”

***

Pesta pernikahan menjadi semacam hal wajib di daerahku. Masyarakat sekitar bilang kalau pesta pernikahan jadi bentuk penghargaan lelaki pada calon istrinya. Semakin mewah pestanya, maka pria itu dianggap semakin menghargai calon istrinya. Apalagi bila gadisnya cantik, sarjana dan bersuku batak kayak diriku (itu penilaian keluargaku loh ya). Menurut orang sekitar pestanya harus lebih meriah.

Jadi mahar buat meminang gadis sih biasa saja. Tapi uang hangusnya atau biaya pestanya mahal. Setidaknya, minimal tiga puluh juta untuk biaya pesta harus disiapkan mempelai pria. Kalau memang uangnya ada ya nggak masalah. Kenyataannya, menyiapkan uang puluhan juta untuk menikah bagi rata – rata pria lajang itu berat. 

Sebab gaji mereka bekerja pas – pasan buat menjalani hidup. Kalaupun ada tabungan ya sedikit. Nggak sampai puluhan juta. Mengatasi persoalan tersebut, biasanya para pria akan minta ke orangtua atau orangtua sendiri yang merasa bertanggungjawab membiayai pesta pernikahan anak lelakinya.    

Siswa Coret-Coret Seragam, Cermin Buruknya Pendidikan



Sejumlah siswa SMA di Riau viral. Mereka melakukan aksi coret-coret seragam dengan gambar vulgar untuk merayakan kelulusan. (https://news.detik.com/, 04/05/2020)

Aksi buruk mereka disayangkan banyak pihak. Kecaman publik pun datang bertubi-tubi. Hingga beberapa waktu kemudian mereka melakukan klarifikasi di media sosial.

Melanggar Aturan Siapa?

Dalam video klarifikasinya, salah seorang dari siswa SMA itu mengakui kesalahan mereka. Secara sadar mereka mengaku telah melakukan perbuatan yang melanggar peraturan sekolah. Mengakui kesalahan adalah perbuatan yang patut diacungi jempol. Tapi kepada siapa kesalahan itu diakui? Atas dasar apa pengakuan itu diperbuat? Hal itu telah menunjukkan mindset mereka.

Para remaja itu adalah muslim. Artinya mereka adalah hamba Allah swt yang terikat dengan syariah Islam. Kesalahan mereka itu sesungguhnya melanggar aturan Allah swt. Mereka bukan sekedar melakukan perbuatan sia-sia dengan mencoret-coret pakaian. Tetapi mereka juga membuka aurat mereka. 

Tak hanya itu, berkumpulnya remaja putra dan putri disitu berarti adalah prilaku ikhtilat atau campur baur yang diharamkan Allah swt. Lantas mereka hanya merasa bersalah kepada pihak sekolah dan masyarakat? Itupun karena aksi mereka diprotes oleh publik.

Penyesalan paling utama seharusnya mereka tujukan pada Allah swt yang menciptakan mereka. Allah swt yang telah memberi nikmat hidup para mereka. Allah swt pula yang memberi nikmat bangku sekolah pada mereka, disaat hari ini pendidikan telah diprivatisasi hingga mahal dan tak terjangkau semua orang. Tapi meski klarifikasi mereka dilakukan dengan memakai pakaian tertutup, hal itu kontras dengan ucapan mereka. Tidak ada ucapan menyesal telah melanggar aturan Allah swt.

Sesungguhnya mereka bukan sekedar merugikan netizen, sekolah dan dinas pendidikan saja. Lebih dari itu, mereka telah merugikan diri mereka sendiri. Perbuatan mereka yang dilakukan di tengah wabah corona beresiko terjangkiti virus tersebut. Namun yang paling penting, pelanggaran yang mereka lakukan bermuatan maksiat, yang bernilai dosa dihadapan Allah swt. Kelak perbuatan mereka akan dihisab oleh Allah swt.

Cacat Pendidikan Sekuler

Lagi-lagi sistem pendidikan sekuler negeri ini menunjukkan kegagalannya. Darinya telah lahir lulusan-lulusan berprilaku buruk. Selama ini sejumlah cacatan prilaku buruk pun pernah dilakukan oleh pelajar. Melakukan tindak kekerasan baik pada teman ataupun guru, melakukan seks bebas dan terlibat narkoba terjadi pada pelajar.

Beraktivitas di Tengah Wabah Corona

https://www.vivanews.com/


Masih dalam masa karantina, demi membantu memutus rantai penyebaran virus Covid 19. #DiRumahSaja. Menonton film Contagion (2011) menjadi salah satu menu aktivitas aku dan suami di hari Senin, 23 maret 2020. Ceritanya mirip sekali dengan kondisi kita hari ini.

Muncul satu jenis virus baru, yang berakibat menimbulkan gejala batuk, sakit kepala, demam hingga sesak nafas. Tak menunggu lama, hari ketiga terjangkiti virus tersebut, korban pertama yang dimunculkan dalam film itu pun tewas mengenaskan. Tubuhnya kejang – kejang, mulut mengeluarkan busa dan seketika kehilangan nyawa.

Kejadian yang sama secara cepat ditemukan pula pada anak korban, serta orang – orang yang pernah kontak dengannya. Setiap harinya jumlah orang yang terpapar virus tersebut terus bertambah. Penularan yang cepat terjadi melalui kontak fisik, percikan batuk penderita dan bersentuhan dengan benda – benda yang terkontaminasi virus.