"Fainna Ma'al 'Usri Yusraa"

hendarti.tumblr.com

Hidup selalu menghadirkan ujian. Dengannya Allah Swt menilai kualitas manusia. Pernah seorang wanita merasakan sakit selama bekerja menjadi pembantu rumah tangga. Kerja utamanya mencuci pakaian, selain menggosok dan membersihkan rumah. Setiap hari bersentuhan dengan sabun cuci dalam waktu lama. Maklum, waktu itu belum musim pakai mesin cuci.

Zat kimia pada sabun cuci yang biasa dipakai melukai kakinya. Ia terkena kutu air. Selain itu kakinya juga pecah-pecah. Sehari-harinya ia kerap menahan sakit setiap kali bersentuhan dengan sabun cuci. Sehabis bekerja diobati, namun besok kena sabun cuci lagi. Begitu seterusnya. 

Sesekali pernah sembuh. Belajar dari pengalaman, ia berusaha kreatif dalam menghadapi persoalan itu. Sewaktu nyuci, kadang kaki digantungkan di satu tempat hingga posisi kaki di atas air sabun. Tapi saat membilas bagaimana? Ya kena air juga, meski bukan air sabun. Kadangpun kakinya kena air sabun lagi. Dengan cara seperti itu lumayanlah, kondisi nggak semakin parah, tapi kutu air juga sulit sembuh total. Gatal, sakit, selalu ia rasakan setiap hari. 

Mengeluh. Ia sebatas mengeluh yang bisa dilakukan. Tak mungkin menghindari aktivitas mencuci setiap hari. Sebab disitulah ladang rizki baginya. Sementara kunci kesembuhan kakinya adalah berhenti sejenak dari kegiatan mencuci pakaian.

Memisahkan Ekonomi Islam dengan Ekonomi Kapitalis


Judul Buku        : Ekonomi Islam Madzhab HAMFARA Jilid I Falsafah Ekonomi Islam
Penerbit            : Irtikaz
Ketebalan          : 422 Halaman
Tahun terbit      : cetakan ketiga, 2014
ISBN                  : 978-979-97937-4-4


Ilmu yang paling bertanggungjawab terhadap nasib jutaan umat manusia adalah ilmu ekonomi. Apakah manusia disatu belahan dunia mendapat aliran makanan atau tidak, itu urusan ilmu ekonomi. Apakah jutaan buruh yang bekerja peras keringat banting tulang akan mendapat upah layak, itu urusan ilmu ekonomi. Itu makanya, penulis buku ini berani menyebut bahwa ilmu ekonomi punya peran penting dalam kehidupan yang harusnya dapat perhatian maksimal.

Ekonomi Islam madzhab Hamfara bukan satu aliran fiqih baru yang diperkenalkan oleh mujtahid era kini. Apalagi ntar Ustadz Dwi Condro yang disangka ngaku-ngaku sebagai mujtahid mutlak era kini. Hamfara singkatan dari Hadza min fadhli rabbi (Ini adalah karunia dari Tuhanku). Ustadz Dwi Condro sang pakar ekonomi dan pendakwah ini mau bilang, bahwa konsep ekonomi yang beliau sajikan dalam buku ini murni dari Islam, bukan Islamisasi.

Jangan Maksa Dong


“Saat ini, semboyan tambah anak tambah rezeki bukan zamannya lagi. Karena situasi ekonomi sudah berbeda” (http://harian.analisadaily.com/kota/news/ Jumat, 29 April 2016)

Aduh, gimana ya, saya kok nyesek membaca potongan kalimat itu. Kok masih ada yang berprasangka kayak gini dan menyebarluaskan prasangkanya pada orang lain.

Bahwa setiap manusia ada rizkinya masing-masing, itu Allah Swt yang menyampaikan.  “Dan tidak ada suatu binatang melata pun di bumi melainkan Allah-lah yang memberi rezekinya. Dan Dia meengetahui tempat penyimpanannya. Semuanya tertulis dalam Kitab yang nyata (Lauh Mahfuzh)” (QS. Hud: 6). Subhanallah, binatang melata saja dijamin rezekinya oleh Allah Swt, apalagi manusia yang diserahi akal oleh Allah untuk berfikir dan berusaha menjemput rezeki dari Allah Swt.

So, kalau tiap manusia sudah ditetapkan oleh Allah Swt rezekinya, otomatis nambah anak nambah rezeki dong. Artinya slogan itu nggak salah dan nggak akan pernah salah. Sebab hukum Allah Swt berlaku hingga kiamat.

Bagai kehilangan akal, para penyeru yang mengatakan bahwa “semboyan tambah anak tambah rezeki bukan zamannya lagi”, termasuk di dalamnya pihak pemerintah telah membahayakan akidah umat Islam. Nggak boleh kan ya mengingkari satupun ayat-ayat Allah Swt. Nah kalau kita disuruh membuang semboyan tersebut, apa namanya? Jadi sepakat ya wahai orang-orang beriman, jangan ingkari ayat Allah Swt termasuk soal rezeki.

Kalau mau menjarangkan kelahiran anak atau terkena penyakit berbahaya semisal kanker yang mengharuskan untuk menghentikan potensi kehamilan pada diri kita ya boleh saja. Tapi kalau hendak membatasi kelahiran dengan keyakinan bahwa ayat Allah nggak cocok lagi untuk dijalankan zaman sekarang, waduh hati-hati deh sama akidahnya. Ya Allah jauhkanlah kami dari prasangka buruk terhadapMu. Engkaulah yang Maha Kuasa, Maha Tahu segalanya.

Damai Itu Indah


Kalau lagi berselelisih sama suamiku, diawal rasanya pengen terus memelihara rasa kesal. Kebayang bakal nggak cakepan satu dua atau tiga hari. Aku pengen diam, nggak komunikasi. Ku anggap ini sebagai pelampiasan kekesalan, sekaligus “hukuman”. Tapi apa yang terjadi? Belum sampai satu jam, hatiku sudah tak tahan. Bukan kepuasan yang ku rasakan, justru gelisah, nggak enak, nggak damai rasa hatiku. Meski begitu, gengsi juga kalau langsung ngajak baikan.

Jadi kalau marahan pagi, biasanya kugunakan moment makan siang buat baikan. Kalau kejadiannya siang, moment baikannya malam, pas ketemu di tempat tidur. Nah kalau marahan malam, trus suami udah keburu tidur, duh rasanya tuh ya, semalaman hati gelisah nggak bisa pejam mata, tidur nggak nyenyak. Saat hati merindu momen berdamai, siapa yang salah udah nggak penting lagi. Pengennya baikan. Memelihara rasa marah ternyata nggak enak ya, yang ada menyiksa hati. Pas udah berdamai, wah leganya minta ampun. Kepada siapapun kita merasa kesal, ku kira sama saja, kalau dipelihara terus justru merugikan hati sendiri. Mending berdamai, saling memaafkan.
***
Temanku yang satu ini punya peran penting dalam khasanah pertemanan yang pernah kugeluti dulu waktu SMA. Jabatannya sebagai penengah. Ia, sebagai juru damai gitu maksudnya. Jadi ceritanya pernah suatu masa aku menjalin keakraban dengan dua orang teman. Satunya si beliau ini, satunya lagi teman yang dari beberapa sisi punya kesamaan denganku. Karena kesamaan itu membuat kami kadang cekcok. Untung ada si juru damai. Meski “putus nyambung”, pertemanan kami bertiga awet sampai sekarang.

Temanku yang pandai memposisikan diri jadi juru damai, dulu dikenal sebagai sosok yang tenang, bijaksana, cukup dewasa, keibuan, pandai masak, pokoke muantab lah. Wajar kalau banyak yang ngefans sama si dia. Dari kalangan cewek hingga cowok menghormati dia, menghargai dia dan senang berteman dengannya. Selain punya pribadi bersahaja, dia juga pintar, prestasinya selalu teratas. Makin top kan tuh.

Telitilah Berbuat



Iseng nulis kejadian nggak penting tapi cukup buat kecewa diriku hari ini. Ulahku juga sih yang masih memelihara sifat kurang teliti, akhirnya rugi di hati hiks hiks.

Gini ceritanya, rabu, 20 april 2016 pukul 14.00 wib aku dapat tugas dari suami beli buku pegangan siswa-siswa bimbel kami yang lagi persiapan bakal ujian SBMPTN ke Toko Buku Gramedia Jalan Gajah Mada Medan. Aku sih senang dimintai tolong ke toko buku, bisa sambil cuci mata dan kalau beruntung bisa dapat buku bagus plus murah. Gramedia memang buka stand khusus setiap harinya, menjual buku-buku cetakan lama dengan harga diskon. Tentang cuci mata, hemm bagiku cuci mata itu terpenuhi kalau jalan-jalan lihat buku dan makanan hahaha. Berarti doyan baca n makan dung. Ia betul.

Aku pergi naik motor. Tiba di Gramedia, parkiran motor yang kebetulan berada dekat stand buku diskonan, membuatku menghampiri stand itu pertama-tama. Lirik sana lirik sini, mataku menangkap tulisan yang cukup besar di atap rak buku tepat di depanku, “10.000”. Wah, buku serba sepuluh ribu pikirku. Nggak pikir panjang lagi berselancarlah mataku menatap satu persatu buku itu. Ada buku yang menarik berjudul “Buku Pintar Nusantara”. Isinya seputar potensi Indonesia. 

Wajah Asli Sang Penjajah


Judul buku: Invasi Politik dan Budaya 
ISBN: 979 9478 29 4 
penulis: Salim Fredericks 
Penerbit: Pustaka Thariqul Izzah (edisi terjemahan) 
tahun terbit: 2004

Salim Federick adalah satu diantara kaum pemikir yang peduli terhadap nasib umat Islam. Beliau warga Inggris yang juga aktivis dakwah Islam. Karya beliau ini mengungkap wajah asli penjajah barat.    
     
Sejak khilafah Islam runtuh di Turki pada tahun 1924, praktis negeri-negeri Islam berada di bawah pengaruh barat terutama Amerika sebagai kampiun ideologi Kapitalis. Kaum muslim terjajah oleh barat baik secara fisik maupun pemikiran. Salim menjelaskan secara gamblang, mulai dari asalan mendasar bangsa barat menjajah negeri-negeri muslim, hingga seluk beluk aspek penjajahan mereka. 

Amerika telah lahir sebagai negara ideologis yang menjadikan kebebasan sebagai asas meraih kebahagiaan. Demi mengejar apa yang mereka anggap sebagai kebahagiaan, Amerika merasa bebas merusak hidup bangsa lain. 

Dengan segala potensinya, negeri-negeri muslim menjadi sasaran empuk Amerika dkk. Hartanya dijarah, masyarakatnya disasar sebagai konsumen produk-produk mereka. Kaum muslimpun dicekoki paham kebebasan demi melanggengkan penjajahan tersebut. Kebebasan membuat perundang- undangan, kebebasan dalam berbudaya, kebebasan berekonomi, kebebasan dalam hal pendidikan hingga kebebasan dalam kehidupan keluarga. 

Seluruh nilai-nilai Islam dirusak oleh barat. Ini bisa dipahami dengan mudah di buku ini. Karena setiap tema yang dibahas, selalu ada perbandingan antara nilai-nilai barat dengan nilai-nilai Islam.  

Saya belum mampu menilai kekurangan dari buku yang saya baca. Perasaan yang terasa di buku ini manfaatnya saja. Saya yakin, jika membaca bukunya dengan fokus dan rasa penasaran yang tinggi maka kita akan semakin terdorong untuk turut andil berjuang melepaskan diri dari penjajahan barat. Buku ini cetakan pertama. Cetakan terbaru sudah ada, kalau ukhti sekalian pengen menikmati buku ini.. Hamasah 😁

Negara Yang Dirahmati Allah Swt


alf-img.com 
Di sore yang teduh, terlihat keakraban Sholeha dan ibunya. Siswi SMP kelas 3 ini, dan ibu tersayangnya duduk di teras, minum teh dan pisang goreng sambil ngobrol.

“Ummi..bener nggak sih negara kita ini negara thaghut?”
“Sholeha ngerti apa itu negara thaghut?”
“Negara setan-setan gitu mi.”
Ummi tersenyum menatap Sholeha.
“Film horor dong negara kita ini..hehehe”
Sholeha ikut tertawa

“Memang Sholeha dengar yang kayak gitu darimana?”
“Di sekolah kadang ada pembicaraan kayak gitu, Sholeha diskusi sama kawan-kawan”

“Guru Sholeha juga ada bilang, jangan dekat-dekat sama orang yang bilang negara kita berhukum pada thaghut. Masak negara kita dibilang setan”

“Hemmm, biar ummi jelasin ya nak. Pertama, kata thaghut itu ada loh dalam al Qur’an. Dalam Al Qur’an surat an-Nisa ayat 60 disebutkan, “Apakah kamu tidak memperhatikan orang-orang yang mengaku dirinya telah beriman kepada apa yang diturunkan kepadamu dan kepada apa yang diturunkan sebelum kamu? Mereka hendak berhakim kepada thaghut, padahal mereka telah diperintah mengingkari thaghut itu. Dan syaitan bermaksud menyesatkan mereka (dengan) penyesatan yang sejauh-jauhnya. “

Nah, selanjutnya kita mesti lihat tafsir ayat itu, supaya kita mengerti maksud yang terkandung di dalamnya. Apa sih yang dimaksud dengan thaghut?

Menurut ulama al-Ashfahani, thaghut artinya tindakan melampaui batas dalam kedurhakaan. Menurut ulama al-Sa’di, thaghut artinya setiap orang yang berhukum dengan selain syariah Allah.

Jadi, kalau sebuah negara nggak berhukum sepenuhnya pada hukum Allah, berarti orang-orang dalam negara itu telah melakukan perbuatan yang melampaui batas.

Sebutan negara thaghut negara setan itu kok serem banget, seolah kata thaghut yang ada dalam al Qur’an itu kasar dan salah. Padahal melalui ayat itu Allah mengingatkan orang beriman, sudah seharusnya beriman diikuti ketaatan pada Allah sepenuhnya. Jangan cuma iman di hati dan di mulut saja, tapi juga harus diwujudkan dalam perbuatan.

Menurut Shaleha sendiri gimana? Setuju dengan yang ummi jelaskan tadi?”