Tahunya Cuma Bahas Tentang Cantik

gengsi-dong.blogspot.com 


Saya paling suka kalau diajak suami ke Perpustakaan Daerah (PUSDA). Kali ini beliau minta ditemani mencari buku seputar manajemen bisnis dan marketing. Bisnis yang ingin dijajaki beliau membutuhkan banyak tambahan ilmu.

Mudah-mudahan saja bisnisnya lancar, amin. “Isi dulu buku tamunya kak,”satu dari tiga orang penjaga buku tamu menyapa saya. Beda dari biasa, kali ini meja registrasi dijaga oleh pelajar Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) yang sedang magang.

“Dari sekolah mana dek?” Saya iseng bertanya selepas menulis nama berikut tanda tangan saya.
Rupanya mereka berasal dari salah satu sekolah swasta yang cukup ternama di Medan. Sambil duduk menjaga, mereka bertiga membaca buku yang tersedia. Saya pun berlalu mengikuti jejak suami.

Tak mau ketinggalan saya mencari buku yang enak dibaca. Saya butuh buku-buku ringan dan bermutu yang bisa memancing ide menulis saya keluar. Pencarian kami pasti lumayan sulit. Sebab PUSDA sedang berbenah pasca renovasi. Buku-buku yang ada belum tersusun rapi semua.

Belajar Dari Kucing

http://mewarnai.us/309014-gambar-kucing-kucing-lucu-kucing-persia-kucing-anggoraanak-kucing
                Sebenarnya aku tak begitu suka dengan kucing. Tapi kucing yang ada di rumahku baik. Dia menjaga rumahku dari tikus-tikus nakal. Dia sangat gesit. Penciumannya tajam. Tikus yang coba iseng menginjakkan kaki di rumahku, tak berkutik disambar si kucing. Haap, secepat kilat kucing itu menangkap, lalu menikmati si tikus lezat tanpa sisa. 

                “Terima kasih ya kucing. Kau memang baik. Karenamu rumahku terjaga”. 

            Aku belum menamai kucing di rumahku. Ya karena itu, aku kurang suka padanya. Tapi, bukan pula aku membencinya. Hanya tak suka bermain dengannya. Ini masalah trauma masa lalu. Saat dulu aku pernah dicakar kucing yang sedang ku ajak bermain.

             Meski enggan menyentuh atau bermain-main dengannya, aku senang mengamati pola tingkah kucing itu. Dia kucing betina yang lucu. Bagi sesamanya dia pasti cantik. Buktinya ada dua kucing jantan yang sering mendekatinya. Yang satu kucing berbulu belang hitam putih bertubuh agak kurus. 

             Yang satunya lagi berwarna abu-abu bertubuh gemuk. Si jantan belang bertubuh kurus terlihat lebih sering bersama si kucing betina ketimbang yang satunya. Saat si jantan yang satunya melihat mereka berduaan, dia mengerang tanda marah. Sesaat kemudian kedua jantan itu  berkejar-kejaran. 

                 Lalu mereka saling serang, memperebutkan si betina. Di lain hari, si kucing betina terlihat berganti pasangan. Dia enjoy bersama si jantan bertubuh gemuk. Tak berapa lama kemudian datang si jantang belang. Kejadian yang pernah terjadi berulang. Mereka berkejar-kejaran, lalu saling serang memperebutkan si betina.

Jodohku


Aku melamar jadi guru di bimbingan belajar yang satu itu bukan untuk cari jodoh. Meskipun, sebelumnya beberapa proposal pernikahan udah dilayangkan kebeberapa mak comblang. Tapi Allah Maha Tahu, siapa jodoh yang tepat buatku dan kapan waktunya. So, aku santai saja melalui hari tanpa kejelasan tentang jodoh.
Hari pertama ngajar, agak bingung waktu di tanya sama pria yang jadi bos bimbel, “gimana caranya ajukan proposal?”
“Ha, maksudnya apa?”, ku jawab dengan menampakkan wajah kebingungan.
“Ya udahlah nanti aja”, beliau menutup pembicaraan.
Beberapa hari berikutnya, aku sedang duduk santai di ruang tunggu bimbel tempatku ngajar, mengotak atik isi laptopku, sambil nunggu waktu ngajar tiba. Agak kaget, waktu si bos tiba-tiba menghampiri dan duduk berjarak sekitar satu setengah meter dihadapanku. Kami dipisahkan dengan meja. Ku lirik murid-murid di samping kanan kiriku. Barangkali si bos ada keperluan dengan mereka. Ternyata tidak, beliau ada keperluan denganku. Lalu beliau bertanya, “gimana caranya kalau saya mau dengan orang Hizbut Tahrir?”

Teroris Botak


Ternyata teroris itu orang-orang botak, begitu penggalan kalimat di media sosial yang menggambarkan Biksu Ashin Wiirathu dan pengikutnya. Biksu yang memang botak plontos ini, digambarkan oleh Majalah Time sebagai wajah teror Budha dari Burma.
Biksu Budha ini dan para pengikutnya telah menunjukkan ajaran welas asih Budha di Burma (Myanmar). Dengan jubah agamanya, dia menyebarkan kebencian kepada Muslim Rohingya hingga menjadi pemicu pembantaian dan pengungsian ribuan manusia.
Dalam sebuah video yang menyebar di Youtube, si Biksu Budha ceramah di depan para pengikutnya. Dia menjelaskan kebenciannya kepada umat Muslim: karena punya solidaritas di antara sesama Muslim. Selain itu karena dia khawatiran Burma menjadi seperti Indonesia dengan populasi Muslim terbesar. (Saya tidak bisa bayangkan apa yang terjadi jika alasan yang sama digunakan di setiap negara dengan umat Budha minoritas).
Maka teror pun berlangsung secara "telanjang". Dia menjalankan ajaran kebaikan dengan melarang orang Budha belanja di toko Muslim, yang membuat Burma menjadi negara diskriminatif dan teror terbuka bagi Muslim. Untuk ini dia kemudian di penjara selama 25 tahun. Ketika rezim Burma berganti, kepemimpinan Presiden Thein Sein membebaskannya di tahun 2012 lalu--dari seharusnya 2028.

Racun Pluralisme


Sebentar lagi Natal tiba. Rencananya pasangan kekasih ini mau ngerayain Natal bareng di gereja tempat biasa si cowok ibadah. Sampai disini apa kamu merasa ada yang aneh? Belum? Apa anehnya kalau umat Kristiani merayakan Natal. Begitu?Toh, menurut mereka itu ajaran agamanya.

Tapi gimana perasaan kamu, mendengar bahwa si cewek itu muslim.“Ah jangan ngarang kamu. Ntar orang muslim tersinggung loh”. Apa kalimat itu yang ada di kepala kamu? Kalau kamu berpikir begitu, haloooo saya juga muslim. Saya gak kalah sakit hati dengan kamu membaca sepenggal kisah di atas. Tapi itu nyata terjadi.

Seorang mahasiswi di kampus saya berpacaran dengan lelaki beragama Kristen. Saya kurang tahu apa latarbelakang dia mau berpacaran dengan non muslim. Tapi pada umumnya sih alasan cinta. Lagi-lagi kata cinta jadi kambing hitam ya. Cinta buta yang tak lagi mengenal benar salah. Pacarannya saja udah salah, ditambah berhubungan dengan non muslim dan pergi ke gereja. Akidah sudah terancam, mengerikan.

Waktu ditegur gadis itu hanya bilang, “Ah gak papa la itu. Kan cuma mau nonton dramanya aja. Bukan ikut ritual ibadahnya.”Aduh salah kaprah. Larangan dalam kasus itu bukan mengikuti ritual ibadah mereka. Tapi, ikut merayakan perayaan agama mereka. Disamping, utamanya dia sudah mengikat hubungan akrab dengan pria yang bukan mahramnya. Non muslim pula.

Bersegera Menjemput Hidayah

catatanhapingzhah.wordpress.com
Hidayah akan dipeluk oleh orang yang bersegera mengambil kebenaran setelah mendengarnya. Dek Novri adalah orang yang bersegera itu. Ia baru saja beberapa minggu meninggalkan pekerjaannya sebagai pegawai di perusahaan pembiayaan dana cepat. Tahu dong tu pembiayaan dana cepat. Siapa butuh dana cepat untuk membiayai suatu keperluan, si perusahaan akan meminjamkan sejumlah uang. Syaratnya cukup BPKP motor, uang segera cair. Selanjutnya, peminjam harus mencicil hutangnya dalam tempo yang telah disepakati bersama. Tentunya uang yang dikembalikan jumlahnya lebih besar dibanding uang yang dipinjam. Berbunga 4%.

Bagi umat Islam, keharaman riba (bunga) kan sudah qath’i (pasti) ya. Salah satu dalilnya Al Qur’an Surat Al Baqarah ayat : 275. Yang berkesan dari ayat itu, dikatakan bahwa “orang yang mengulang ulang riba, padahal sudah mengetahui keharamannya, maka akan masuk neraka dan kekal didalamnya”. A’udzubillah.

Gara - Gara Gaul Tanpa Batas



Tertawanya unik dan renyah. Senyumnya merekah dan sering menampakkan wajah ceria. Siapa tak senang dengan wajah yang ramah. Sejuk hati melihatnya. Demikian yang dirasakan gadis ini pada pembimbingnya. 

Si bapak pegawai kantor layaknya magnet yang menarik gadis itu untuk selalu ingin dekat dengannya. Kebetulan  si bapak memang bertugas mendampinginya di masa pelatihan kerja. Tiap hari begitu terus, ingin dekat dengan si bapak. Kalo si bapak hilang dari peredaran, si gadis serta merta merasa kehilangan. Ia langsung saja mengitari kantor hanya untuk tahu dimana keberadaan si bapak.

Perasaan apa yang merasukinya? Ah, tapi dia pun tak menyadari hal itu. Beberapa minggu berkenalan terdengar kabar, rupanya si bapak sudah menikah. Sudah tiga tahun usia pernikahannya. Si bapak dan istri  sedang merindukan tangis bayi di rumah mereka.

Apa yang terjadi pada si gadis? Gadis itu mendadak lemas. Seperti disambar petir di siang bolong, terkejut bukan kepalang. Lagi pula, siapa yang bilang si bapak lajang? Tidak ada yang mengatakan sebelumnya bahwa si bapak masih bujangan. Gadis ini saja yang luput dari berfikir demikian. Selama ini, dia hanya terlena dengan sosok menyenangkan si bapak.

Bila pembaca berfikir gadis itu akan berhenti dari angan-angan semunya, kalian salah. Dia tahu sudah terjebak dengan perasaannya. Tapi dia berpikir, “Tidak jadi masalah. Selama hati yang berkata, ikuti saja.” 

Jadi, dia ogah melepas yang telah singgah. Sakit hati hanya sebentar. Tak peduli status si bapak, dia tetap melakoni apa yang disebutnya sebagai kata hati. Ia larut, menikmati hari-harinya di kantor.