Warna Warni Dunia Ophi Ziadah

 Saya coba menebak, pemilik blog http://www.ophiziadah.com orangnya rame, ceria dan menyenangkan. Saya benar atau salah ya? Hehehe. Yang pasti, itulah kesan yang saya tangkap dari tampilan blog milik mak Ophi (karena saya baru gabung grup KEB di Fb dan beliau juga anggota, saya panggil mak Ophi ya..). Design blognya dibuat warna warni, persis seperti kalimat di Header “Warna Warni Dunianya Ibu Trio Krucils : Alinga, Zaha, & Paksi, dengan background telapak kaki kucing. Mungkin juga penyuka kucing ya mak Ophi, hehehe.. Selalu bahagia, itu juga yang tergambar dalam benak saya melihat tampilan blog mak Ophi. Bahagia dengan krucilsnya, seluruh keluarga dan rekan-rekannya.
Saya orang yang sedang berusaha keras untuk produktif menulis mak. Makanya, dari sekian banyak tulisan mak Ophi, saya tertarik membaca tentang dunia menulis. Saya ingin menyerap sebanyak-banyaknya ilmu dan pengalaman menulis para penulis aktif dan produktif kayak mak Ophi dan yang lainnya. Saya mengira label Dunia Menulis isinya berbagai tips dan teknik tentang menulis. Rupanya saya tak sepenuhnya benar ya mak. Tapi tetap banyak motivasi dan pengalaman yang bisa saya serap. Diantaranya bahwa dari menulis kita bisa mendulang rizki, mupeng melihat mak Ophi dapat laptop dari menulis hehhe.
Saya paling terkesan dengan tulisan tentang anak mak Ophi yang menulis buku, judulnya Bulan Puasa/Ramadhan [ Buku Pertama Karya Ka Alinga]. Wah hebat ya, mak Ophi berhasil menularkan semangat menulis kepada kak Alinga. Buah jatuh tak jauh dari pohonnya. Ibu yang cerdas menghasilkan anak yang cerdas pula. Dari tulisan kak Alinga, terasa bahwa kehidupan keluarga mak Ophi berjalan harmonis. Ayah dan ibu berkata lemah lembut kepada anak-anaknya. Sehingga kreatifitas anak berhasil tergali. Coba kalau ibu dan ayah suka berkata kasar, lalu segala pertanyaan anak dijawab dengan jawaban yang tidak memuaskan, kemungkinan besar kreatfitas anak akan bantut/ tidak berkembang. Selamat ya mak. Semoga kak Alinga dan adik-adiknya menjadi anak cerdas dan sholeha hingga dewasanya. Sehingga menjadi jalan ayah ibunya masuk syurga, amin.

cuplikan tulisan kak Alinga

        Secara keseluruhan blog mak Ophi bagus. Hanya, mungkin saya termasuk yang kurang suka dengan tampilan rame. Senangnya yang berwarna lembut dengan background polos saja. Sehingga, saya merasa agak terganggu dengan warna-warni tampilan blog mak Ophi. Saya cepat merasa pusing melihatnya mak. Mungkin kalau dikurangi sedikit, seperti background telapak kaki kucingnya dihilangkan, bisa lebih nyaman dilihat. Sukses selalu mak.

369 Kata
Tulisan ini diikutsertakan dalam Mom of Trio 1st Giveaway

Aceh, I’m Coming


Kenangan pada Februari 2015
Aceh memang tetanggaan dengan Medan, tapi saya tak pernah berkesempatan kesana. Punya sih teman yang tinggal di sana, tapi tetap belum berkesempatan ke tanah rencong itu. Pernah suatu kali diajak teman berlibur kekampungnya di Aceh. Ntah apa nama daerahnya, saya lupa. Tempat itu indah. Ada sebuah danau dikelilingi pepohonan hijau.Warna hijau pepohonan menghampiri air danau. Hingga hijau pula warna air danaunya. Lagi-lagi, saya tak berkesempatan kesana. Masalahnya, berat di ongkos hehe. Wah maklumlah, hari ini segalanya butuh uang. Kebutuhan makan hingga kesehatan, kalau mau high quality, harus merogoh kantong dalam-dalam. Kalau saya, kayaknya kantong udah hampir bolong, tapi yang high quality nggak dapat juga, hehe. Begitulah kenyataan hidup di zaman kapitalis, harus pandai mengatur prioritas pengeluaran, kalau nggak mau terlilit hutang.

Keanehan Isu ISIS


Picture by me
Kita ketahui bahwa ISIS adalah kelompok bersenjata dan tidak membawa pemikiran apapun. Kita pahami, kalaupun ada ide yang dianggap dibawa oleh ISIS, itu hanyalah sebatas slogan-slogan kosong tanpa konsep yang jelas. Sebagaimana pernah sebuah stasiun TV mewawancarai seseorang yang diklaim sebagai bagian penting dari ISIS, namun dia tidak mampu menjelaskan konsep Khilafah yang benar sesuai Islam.
Namun, anehnya akhir-akhir ini diberitakan bahwa kaum terpelajar seperti mahasiswa adalah orang-orang yang paling rentan mengikuti ajaran kelompok ISIS. Bagaimana mungkin, orang-orang terdidik yang biasanya besedia mengikuti sesuatu bila diberi penjelasan masuk akal, bisa terpengaruh ISIS? Intelektual mana yang pertama kali menyebar paham ISIS di kampus-kampus? Apakah pemberitaan tersebut ingin mengatakan bawa kaum terdidik adalah orang-orang yang lemah akal/ bodoh, sehingga mudah untuk mengikuti hal-hal yang tidak jelas? Sungguh tak sesuai logika. Lagipula media ramai-ramai memberitakan ISIS dengan segala kekejaman mereka. Apa mungkin, orang terdidik mau mengikuti mereka?

Ibu Ajarkan Anak Merokok


picture by me
Pantaskah seorang ibu mengajarkan anaknya merokok? Sebuah akun Facebook (FB) bernama Ve Royy Alvero beberapa waktu lalu memposting empat buah gambar seorang bayi berusia sekitar satu tahun. Terlihat ada sebuah tangan merapatkan sebatang rokok ke mulut si bayi. Salah satu gambar cukup jelas memperlihatkan rokoknya dihisap. Sebab asapnya ngebul dan cahaya bara apinya terang.  
Pemilik akun yang tak lain adalah ibu si bayi pantas dihujani komentar pedas dari puluhan orang. Sebab prilakunya buruk. Sudah umum diketahui rokok berbahaya bagi kesehatan orang dewasa apalagi anak-anak. Rokok dapat merusak jantung, paru-paru, pernafasan dan lain sebagainya. Namun ibu muda itu tega dengan sengaja merusak kesehatan anaknya.

12 Lokasi Rawan Begal di Medan

By : Koran Waspada
1.    Jl. Prof. H.M. Yamin dan sekitarnya
2.    Jl. Krakatau/ Jl. Cemara
3.    Jl. Gatot Subroto
4.    Jl. Willem Iskandar, Kawasan Kampus Unimed,Rumah Sakit Haji, 
       Desa Medan Estate
5.    Jl. Menteng VII
6.    Jl. H.M. Jhoni
7.    Jl. Sisingamangaraja
8.    Jl. Brigjend Katamso
9.    Jl. Ahmad Yani dan sekitarnya
10.Ringroad
11.Kawasan Kanal Titi Kuning
12.Jl. Setia Budi
Aksi brutal begal di Medan cukup meresahkan. Sampai menewaskan korbannya, seperti yang terjadi di wilayah Hukum Polsek Medan Barat dan Polsek Medan Area. 49 orang anggota tim Polresta yang selama ini bertugas tak mampu menangani kejahatan ini. Hingga diturunkan bala bantuan dari personel Poldasu.
Ya iyalah, 49 orang petugas keamanan tak sanggup mengatasi kejahatan ini. Sementara kejahatan yang dilaporkan sebulan 300 sampai 400 kasus.
Sudah sebegini berbahaya kejahatan begal, tapi sepertinya penanganannya lamban. Aksi kriminal begal secara real meneror masyarakat. Kenapa tidak turunkan saja tim keamanan seganas Densus 88. Densus 88 begitu cepat menangkap bahkan orang yang baru diduga teroris. Tapi ini, kenapa oh kenapa???? Waspadalah waspadalah… 


IBU OTOMATIS

Picture by me
Kupandangi balita itu yang hanya terdiam saat sang ibu menghela dengan kasar tangannya seraya bilang, “ntah apa aja la kerjaannya”. Gadis kecil itu baru saja dimarahi karena memegang sebuah benda di kedai saat ikut ibunya belanja. Benda itu dianggap nggak layak dipegang si anak, karena kotor dan baunya tak sedap. Ingin sekali aku bilang, “Anak itu bukan sedang berbuat nakal. Tapi dia ingin tahu benda yang ada disekitarnya”. Sebenarnya si ibu cukup menyebut nama benda itu, lalu dengan lembut melarang sang anak agar jangan memegangnya karena sebuah alasan tertentu. Dengan begitu, ada kebaikan yang bisa didapat. Anak dapat tambahan kosa kata. Yaitu nama si benda. Sekaligus informasi tentangnya, bahwa itu benda yang cukup dilihat saja, tidak perlu dipegang. Ekspresi si balita, menunjukkan kalau dia sering diperlakukan kasar oleh ibunya. Tanpa sadar, si ibu sedang membentuk anak pemalu, penakut dan minderan. Beginilah kalau jadi ibu otomatis.

Peraturan Sekuler Tentang Pas Foto

Picture by me
Kebijakan sekuler di sekolah, pas foto untuk ijazah bagi muslimah tidak boleh pakai kerudung. Kasus ini terjadi di salah satu sekolah swasta Islam terpadu di Medan. Alasan larangan tersebut, sekolah khawatir siswa ditolak melanjutkan studi ke sekolah negeri. Karena foto berkerudung nggak nampak telinga. Waduh, emang kalau telinga nggak nampak kenapa ya? Sekolah bilang memang sudah peraturan pemerintah seperti itu.
Waktu si murid yang sudah mengerti tentang menutup aurat itu ogah di foto tanpa kerudung, terpaksa dia dibiarkan foto pakai kerudung. Dengan pesan, bahwa sekolah nggak mau bertanggungjawab kalo nanti si murid nggak diterima di sekolah negeri. Lalu, si murid disuruh untuk berfoto paling akhir. Agar, teman-temannya nggak niru prilaku si murid. Guru yang seharusnya ngajarin siswanya nutup aurat, eh malah seperti itu. Menyedihkan.