IBU OTOMATIS

Picture by me
Kupandangi balita itu yang hanya terdiam saat sang ibu menghela dengan kasar tangannya seraya bilang, “ntah apa aja la kerjaannya”. Gadis kecil itu baru saja dimarahi karena memegang sebuah benda di kedai saat ikut ibunya belanja. Benda itu dianggap nggak layak dipegang si anak, karena kotor dan baunya tak sedap. Ingin sekali aku bilang, “Anak itu bukan sedang berbuat nakal. Tapi dia ingin tahu benda yang ada disekitarnya”. Sebenarnya si ibu cukup menyebut nama benda itu, lalu dengan lembut melarang sang anak agar jangan memegangnya karena sebuah alasan tertentu. Dengan begitu, ada kebaikan yang bisa didapat. Anak dapat tambahan kosa kata. Yaitu nama si benda. Sekaligus informasi tentangnya, bahwa itu benda yang cukup dilihat saja, tidak perlu dipegang. Ekspresi si balita, menunjukkan kalau dia sering diperlakukan kasar oleh ibunya. Tanpa sadar, si ibu sedang membentuk anak pemalu, penakut dan minderan. Beginilah kalau jadi ibu otomatis.

Peraturan Sekuler Tentang Pas Foto

Picture by me
Kebijakan sekuler di sekolah, pas foto untuk ijazah bagi muslimah tidak boleh pakai kerudung. Kasus ini terjadi di salah satu sekolah swasta Islam terpadu di Medan. Alasan larangan tersebut, sekolah khawatir siswa ditolak melanjutkan studi ke sekolah negeri. Karena foto berkerudung nggak nampak telinga. Waduh, emang kalau telinga nggak nampak kenapa ya? Sekolah bilang memang sudah peraturan pemerintah seperti itu.
Waktu si murid yang sudah mengerti tentang menutup aurat itu ogah di foto tanpa kerudung, terpaksa dia dibiarkan foto pakai kerudung. Dengan pesan, bahwa sekolah nggak mau bertanggungjawab kalo nanti si murid nggak diterima di sekolah negeri. Lalu, si murid disuruh untuk berfoto paling akhir. Agar, teman-temannya nggak niru prilaku si murid. Guru yang seharusnya ngajarin siswanya nutup aurat, eh malah seperti itu. Menyedihkan.

Ajakan Bermaksiat



Ajakan bermaksiat kini semakin berani dilakukan. Seperti yang tertangkap kamera seseorang dan tersebar di media sosial. Sebuah baliho bertuliskan ajakan “Berbagi Kasih Di Bulan Valentine” terpampang di pinggir jalan. Hotel Batu Wonderland yang terletak di Jalan Imam Bonjol, Malang, menggelar Februari Promo (weekday promo). Tujuannya, untuk mengajak setiap kekasih menginap di hotel tersebut. Bagi mereka diberikan diskon hingga 50%. Sontak, warga setempat dan sejumlah Organisasi Masyarakat (Ormas) Islam marah atas iklan tersebut. Hampir saja mereka secara paksa menurunkan baliho tersebut. Untungnya polisi segera bertindak. Akhirnya karyawan hotel Batu Wonderland sendiri yang menurunkannya.

HIBURAN


Terkhusus Buat Pemuda
Hiburan gak ada salahnya. Hukum asalnya mubah. Hanya aja harus pandai memilih hiburan yang tepat. Yaitu hiburan yang tidak menjauhkan kita dari aktivitas belajar dan mencintai Islam. Di sini, kaidah "aktivitas yang menghantarkan keharaman itu haram" berlaku. Beberapa pilihan hiburan berikut ini bisa kamu cobain:

Catatan Film Jodha Akbar


Sekian lama mendengar adanya film India kontroversial berjudul Jodha Akbar, baru sekarang saya bisa nonton. Maklumlah, belum ada fasilitas TV di rumah. Drama bersambungnya yang kini masih ditayangkan di AN TV pun belum pernah saya tonton. Hanya sekilas melihat gambarnya saja dari internet. Setelah nonton filmnya, saya memiliki beberapa catatan. Secara umum saya dapat mengatakan bahwa salah satu versi kisah Dinasti Islam Mughal yang difilmkan itu tidak islami. Diceritakan bahwa Raja Jalaluddin Akbar dari  Dinasti Islam Mughal menikah dengan seorang putri bernama Jodha dari Kerajaan Rajput yang beragama Hindu. Awalnya pernikahan beda agama itu dilakukan Raja Jalal untuk kepentingan negara. Namun lama kelamaan kecantikan putri Jodha membuat Raja Jalal jatuh cinta.

Dua Jempol Untuk Menteri Perdagangan

Picture by http://3.bp.blogspot.com/
Dua jempol untuk Menteri Perdagangan Rachmat Gobel yang tidak takut jika cukai minuman keras (miras) sebesar Rp. 6 trilyun hilang akibat kebijakan pelarangan penjualan miras di Minimarket. Terbitnya Peraturan Menteri Perdagangan (Permendag) nomor 06/M-DAG/PE/1/2015 menandai pelarangan menjual miras di Minimarket yang mulai berlaku pada April 2015.
Tapi terpaksa saya katakan, dua jempol yang bukan tegak menghadap ke atas, melainkan dua jempol menghadap ke bawah buat pak Menteri. Artinya, kebijakan tersebut tidak layak mendapat apresiasi masyarakat. Mengapa? Karena kebijakan tersebut bukan menghilangkan sama sekali minuman keras dari peredaran. Melainkan hanya memindahkannya saja. Jika pada awalnya penjualan miras marak di banyak mini market, kini dilarang dan ditingkatkan penjualan miras di restoran dan hotel. Kehilangan cukai miras 6 trilyun karena kebijakan tersebut pun tak berarti apa-apa. Sebab sebenarnya keuntungan yang diperoleh jauh lebih besar dari jumlah tersebut. Pak Menteri meyakini negara akan mendapat tambahan pemasukan dari pajak pertambahan nilai (PPn 10%) dan biaya layanan (service charge 11%) bila miras dikonsumsi di hotel atau restoran.

Kerja Dakwah Mush’ab bin Umair

Picture by http://samzha.blogspot.com/

Adalah Mush’ab bin Umair, duta Muhammad Rasulullah yang diutus untuk menaklukkan Madinah. Beliau tidak menghabiskan hari-hari di Madinah, kecuali mengetuk setiap pintu rumah orang-orang di sana untuk mendakwahi mereka. Mush’ab bin Umair juga mendatangi mereka yang sedang bekerja mengolah lahan pertanian dan mendatangi para pemilik tanah untuk mengajak mereka kepada Islam. Beliau mengajarkan Al Qur’an kepada mereka, menanamkan keimanan, menanamkan jiwa rela berkorban untuk Islam, memahamkan bahwa Islam butuh kekuatan dalam bentuk negara dan memberi kabar gembira untuk kemuliaan mereka bila menjadi penolong agama Allah. Intinya, beliau benar-benar serius mempersiapkan Madinah sebagai titik sentral tegaknya Daulah Islamiyah. Target itu tercapai, Madinah berubah dari suasana kemusyrikan menjadi suasan Islam. Hanya dalam satu tahun, masyarakat Madinah berubah dari kebiasaan menyembah berhala menjadi hanya mentauhidkan Allah Swt.
Keberhasilan dakwah Mush’ab karena kerja dakwahnya begitu serius. Gerak dakwah senantiasa dilakukan. Beliau salah satu sahabat Rasul yang kisahnya mengagumkan. Memberi contoh kepada kita, bila terus-menerus bergerak di tengah-tengah masyarakat, menampilkan kebaikan Islam, menguasai lisan Al Qur’an, maka dakwah pasti ada hasilnya. Hasilnya, atas izin Allah, dengan gerak dakwah sebagaimana Mush’ab bin Umair, maka fajar kemenangan Islam akan segera datang.