Banyak orang memiliki niat baik untuk bekerja demi orang-orang yang disayangi. Namun, niat baik seharusnya dilengkapi dengan cara yang benar.
Hari ini, pembicaraan tentang benar dan salah terkadang dianggap tidak nyaman. Ketika seseorang mengingatkan bahwa suatu perbuatan tidak sesuai dengan agama, ia bisa saja dianggap suka menghakimi atau merasa paling benar.
Padahal, bagi seorang Muslim, ukuran benar dan salah tidak semata-mata berasal dari penilaian pribadi.
Allah SWT menurunkan Al-Qur'an sebagai petunjuk dan pembeda antara yang benar dan yang salah. Dalam QS. Al-Baqarah ayat 53, Allah menyebut Al-Kitab sebagai furqan, yaitu pembeda.
Karena itu, belajar agama penting agar kita memiliki pedoman dalam menilai perbuatan. Dengan ilmu, kita dapat berusaha meninggalkan apa yang dilarang dan mengerjakan apa yang diperintahkan.
Dalam satu kajian yang kuikuti, disampaikan bahwa amal yang baik membutuhkan dua hal: niat yang ikhlas karena Allah dan cara yang benar sesuai tuntunan agama.
Kembali pada persoalan bekerja.
Banyak orang bekerja karena ingin membahagiakan keluarga. Niat seperti itu tentu baik. Tetapi dalam pandangan Islam, niat baik perlu disertai cara yang baik pula.
Jangan sampai karena ingin mendapatkan penghasilan, seseorang merasa boleh melakukan pekerjaan apa saja tanpa mempertimbangkan halal dan haramnya.
Ketika Pekerjaan Berhadapan dengan Prinsip Agama
Salah satu contoh yang membuatku berpikir adalah pekerjaan sebagai drag queen, yaitu pertunjukan ketika seorang laki-laki tampil dengan karakter atau penampilan feminin sebagai bagian dari hiburan.
Aku pernah melihat seorang drag queen bercerita dalam sebuah acara televisi. Ia menjelaskan bahwa pekerjaan tersebut dijalaninya sebagai bagian dari profesi di bidang hiburan, seperti menjadi MC, melakukan lip sync, atau melakukan promosi.
Ia mengaku memperoleh ide tersebut setelah ada yang mengatakan bahwa menjadi MC dengan penampilan feminin akan membuat pekerjaannya lebih menarik dan mudah mendapatkan tawaran.
Baginya, hal tersebut merupakan bagian dari seni dan pekerjaan.
Di sinilah muncul pertanyaan yang lebih mendasar:
Apakah setiap pekerjaan yang menghasilkan uang otomatis menjadi pekerjaan yang halal?
Menurut pandangan Islam, jawabannya tidak.
Seorang Muslim tidak hanya dituntut mendapatkan penghasilan, tetapi juga memastikan cara memperolehnya tidak bertentangan dengan syariat.
Allah SWT berfirman:
“Wahai manusia! Makanlah dari apa yang terdapat di bumi yang halal lagi baik...”(QS. Al-Baqarah: 168)
Karena itu, dalam pandangan Islam, pekerjaan tidak hanya dinilai dari apakah seseorang mendapatkan uang atau tidak. Jenis pekerjaan, cara melakukannya, dan aktivitas yang menyertainya juga perlu diperhatikan.
Jika sebuah pekerjaan mengandung sesuatu yang menurut syariat dilarang, maka seorang Muslim perlu mencari alternatif pekerjaan yang lebih sesuai dengan tuntunan agamanya.
Niat Baik Perlu Disertai Cara yang Benar
Terkadang seseorang merasa terpaksa mengambil pekerjaan tertentu karena sulit mendapatkan pekerjaan.
“Yang penting halal dapat uang.”
Persoalannya, jangan sampai kesulitan ekonomi membuat kita menganggap semua cara mencari nafkah menjadi boleh.
Justru di sinilah keimanan diuji.
Baca Juga: Cara Keluarga Ini Menghadapi Badai Keuangan
Seorang Muslim perlu berusaha mencari pekerjaan yang halal meskipun mungkin hasilnya belum sebesar pekerjaan lain.
Rezeki memang harus diusahakan. Tetapi rezeki juga merupakan bagian dari ketetapan Allah SWT.
Allah berfirman:
“Barang siapa bertakwa kepada Allah niscaya Dia akan membukakan jalan keluar baginya, dan Dia memberinya rezeki dari arah yang tidak disangka-sangkanya.”(QS. At-Talaq: 2-3)
Ayat ini mengajarkan optimisme kepada orang yang bertakwa.
Bukan berarti kita boleh hanya menunggu rezeki tanpa usaha. Justru kita diperintahkan untuk berusaha, sambil tetap menjaga agar usaha tersebut berada dalam koridor yang diridai Allah.
Islam Mengajarkan Mencari Rezeki yang Baik
Pekerjaan halal bukan sekadar pekerjaan yang menghasilkan uang tanpa mencuri atau merampok.
Bagi seorang Muslim, halal dan haram juga berkaitan dengan aktivitas yang dilakukan ketika bekerja.
Karena itu, jika seseorang mengetahui bahwa suatu bentuk pekerjaan bertentangan dengan keyakinan dan aturan agamanya, semestinya ia berusaha mencari pilihan lain.
Mungkin pada awalnya tidak mudah.
Mungkin penghasilannya lebih kecil.
Mungkin orang lain menganggap pilihan tersebut tidak menguntungkan.
Tetapi seorang Muslim meyakini bahwa kehilangan sebagian keuntungan dunia tidak sebanding dengan kehilangan keridaan Allah.
Baca Juga: Bagi Saya, Buku Diet Islami Ini Bermanfaat
Seni Juga Perlu Memiliki Batas
Aku memahami bahwa dunia seni memiliki ruang kreativitas yang luas.
Namun dari perspektif Islam, kreativitas tidak berarti bebas tanpa batas.
Ada hal-hal yang boleh dikembangkan, ada pula yang perlu dihindari.
Begitu juga dalam dunia hiburan. Tidak semua sesuatu yang menarik perhatian penonton otomatis baik untuk dilakukan.
Seorang Muslim tetap memiliki batas berupa aturan agama.
Menurutku, prinsip ini penting bukan hanya bagi pekerja seni, tetapi bagi siapa saja.
Pedagang, pegawai, pengusaha, guru, konten kreator, maupun pekerja di bidang lainnya sama-sama perlu memikirkan bukan hanya berapa besar penghasilan yang diperoleh, tetapi dari mana dan dengan cara bagaimana penghasilan tersebut diperoleh.
Jangan Takut Mencari Rezeki yang Halal
Kehidupan sekuler yang menempatkan keberhasilan materi sebagai ukuran utama dapat membuat seseorang lebih takut kehilangan pekerjaan daripada mempertimbangkan apakah pekerjaannya sesuai dengan keyakinannya.
Padahal bagi seorang Muslim, keberhasilan bukan hanya tentang banyaknya uang.
Ada keberkahan yang juga harus dicari.
Maka, keyakinan terhadap rezeki dan tawakal menjadi penting. Kita tetap bekerja keras, tetapi tidak menghalalkan segala cara.
Masya Allah, alangkah baiknya jika prinsip ini benar-benar tertanam dalam diri setiap Muslim.
Kita akan berusaha mencari pekerjaan yang halal, meninggalkan pekerjaan yang diyakini bertentangan dengan syariat, dan tidak mudah putus asa ketika jalan yang halal terasa lebih sulit.
Semoga Allah memberikan kita rezeki yang halal, baik, dan penuh keberkahan.
Semoga semakin banyak kaum Muslimin yang memahami bahwa niat baik saja belum cukup. Cara mendapatkan rezeki juga harus benar.
Aamiin.

0 Comments
Post a Comment