(Resensi Buku) Inspirasi Memperbaiki Cara Menggunakan Waktu

 

dok. pribadi


Judul buku               : Qimatuz Zaman ‘Indal ‘Ulama’

Judul Terjemahan     : Manajemen Waktu Para Ulama

Penulis                     : Syaikh Abdul Fatah

Penerbit                    : Maktab Al-Mathbu’at Al-Islamiyah

Penerjemah               : Abu Umar Basyir dkk.

Tahun terbit              : 2020

Cetakan                    : VI

Ketebalan                  : 212 hal

ISBN                         : 978-602-8975-33-9

Semboyan ‘hidup bagai air yang mengalir’, ‘menjalani hidup apa adanya’, menjadi umum dikenal dan dipraktekkan banyak orang zaman ini. Ini adalah zaman dimana banyak orang menjadi panjang angan-angan. Merasa masa muda berarti hidup masih panjang. Hidup harusnya dijalani dengan melakukan hal – hal menyenangkan. Sehingga hasilnya banyak orang menghambur – hamburkan harta paling berharga miliknya tanpa rasa sayang, hanya untuk santai. Harta itu bernama waktu.

Ngomongin Bisnis Ilegal Penjualan Sel Telur

 

https://m.merdeka.com/


Film India berjudul Gentleman (2020) mengingatkan saya kalau manusia adalah makhluk cerdas di antara makhluk Allah lainnya. Dengan akalnya manusia mampu mengembangkan sarana dan prasarana kehidupannya. Guna mempermudah ataupun mengatasi permasalahan kehidupan. Tapi satu pesan pentingnya, tanpa tuntunan agama, perkembangan ilmu dan teknologi bukan apa-apa. Tanpa pondasi agama, manusia hanya menjadikan kecanggihan sarana dan prasana kehidupan sekedar menikmati hidup di dunia. Tanpa didasari agama, kecerdasan manusia justru merusak sesama.

Antara Kecerdasan Dan Pilkada

 

sumber foto: wowbabel.com

Pilkada di tengah pandemi covid-19, masyarakat harus cerdas. Harus bisa memahami teknis pemilihan, independen dalam memilih dan partisipatif mengawasi proses pilkada. Demikian inti dari sosialisasi pengawasan oleh Ketua Pengawasan Kecamatan (Panwascam) Medan Kota, Adi Syahputra Purba, kepada masyarakat pertengahan september lalu.

Seruan kepada masyarakat untuk bersikap cerdas dalam menghadapi pilkada cukup menggelitik. Pasalnya pilihan pemerintah untuk tetap menyelenggarakan pilkada di tengah pandemi covid-19 justru dinilai banyak kalangan menjadi pilihan yang sangat tidak cerdas. Contohnya saja di wilayah tempat tinggal penulis, Kota Medan. Gerakan Nasional Pembela Fatwa Ulama (GNPF-Ulama) Sumatera Utara salah satu pihak yang mendesak penundaan Pilkada Kota Medan. (https://waspada.co.id/2020/09)

Cara Keluarga Ini Menghadapi Badai Keuangan

 

Ilustrasi: https://www.youtube.com/watch?v=FaD3QsnIjWo

Saya dapat cerita dari kajian Islam di Youtube, tentang seseorang yang dipanggil dengan Kang Sarif. Awalnya hidup Kang Sarif dan keluarga berjalan normal. Ia bekerja sebagai karyawan swasta sekaligus pengusaha. Isterinya pun ikut bekerja. Ekonomi keluarga terbilang stabil. Hingga suatu hari ada nasihat yang sampai kepada Kang Sarif. Haram terlibat riba. Timbul rasa takut dalam diri Kang Sarif kepada Allah swt. Lalu diputuskannya resign kerja. Berhenti pula melakoni bisnisnya.

Keputusan berani itu membuat keuangan keluarganya terguncang. Sebab ditambah lagi, bersamaan dengan itu sang isteri mengalami sakit sehingga harus resign pula dari pekerjaan. Keluarga Kang Sarif memulai kehidupan baru dengan keuangan minus, alias memiliki utang 3 milyar. Utang itu berkenaan dengan bisnisnya yang lalu. Sejumlah langkah praktis ia lakukan untuk bangkit. Mulai langkah filosofis hingga teknis. Secara filosofi beberapa hal ia lakukan.