Tren Poliandri Diungkap Pak Menteri

https://aceh.tribunnews.com/


Tren ASN melakukan poliandri yang diungkap Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi (Menteri PANRB), Tjahjo Kumolo cukup mengejutkanku. Tak berapa lama ingatanku kembali ke masa lalu. Beberapa tahun lalu temanku bercerita masalah keluarganya. Kakak iparnya yang seorang ASN diam diam menikah lagi dengan lelaki lain.

Abangnya sempat frustasi dan memutuskan bercerai. Harga diri pria itu tercabik-cabik. Kecewa bukan main. Padahal dia dan isterinya yang melakukan poliandri itu, sama-sama ASN. Hanya karena si istri mendapat kabar bakal dapat promosi jabatan, wibawa suaminya langsung turun di matanya. Berselingkuh hingga menikah siri pun dilakukannya.

Memaknai Nikmat Kemerdekaan


Kemerdekaan itu dari Allah SWT. Patut disyukuri. Dengan hati, ucapan dan laku diri.

Tapi ada yang ganjil di negeri ini. Merasa telah mengusir penjajah, tapi hukum pidananya masih dipakai.

Aku heran dengan negeri ini. Penjajah tak lagi menduduki negeri, tapi kekayaan alam kita masih bisa mereka kuasai.

Aku tak habis pikir dengan negeri ini. Katanya merdeka berarti lebih mudah hidup sejahtera. Tapi justru hidup makin sempit hari ini.

Aku geleng geleng kepala sama penduduk negeri ini. Katanya merdeka itu nikmat Allah SWT. Tapi ditawari syariah Islam kaffah malah ngeri.

Apakah cukup kemerdekaan ini hanya diisi dengan seremoni?

Apakah hiburan tak berarti seperti panjat pinang dan kawan kawannya tepat untuk memaknai kemerdekaan pemberian Ilahi?

Apakah kita mau terus menjadi bangsa yang mundur seperti ini?

Yang pejabatnya suka korupsi. Rakyatnya terus dibodohi.

Tidakkah kita ingin merdeka secara hakiki?

Merdeka dengan menghamba kepada Ilahi sepenuh hati.

Mensyukuri nikmat kemerdekaan dari Allah SWT dengan menerapkan hukum hukum Allah SWT secara total di negeri ini.

Tidakkah memaknai kemerdekaan yang seperti ini yang lebih berarti?

Kapitalisme Sumber Penyebab Kemiskinan

 

https://www.tobasatu.com/

Kemiskinan menjadi masalah klasik yang seolah ‘abadi’ di dunia termasuk di negeri kita. Tentu Kota Medan tak luput dari masalah tersebut. Catatan tahun 2019, pendudukan Kota Medan yang tergolong miskin sebesar 8,08% atau setara dengan 183,79 ribu jiwa. Jumlah tersebut dihitung berdasarkan standar garis kemiskinan yaitu Rp 532.000 per orang per bulan. (https://medanbisnisdaily.com)

Besar kemungkinan jumlah penduduk miskin Kota Medan tahun ini bertambah. Mengingat negeri kita sedang dilanda pandemi covid-19 yang memicu meningkatnya pengangguran.

Cara Ulama Mencintai, Tetap Rasional

 

https://www.hipwee.com/narasi/jatuh-cinta-dalam-diam/

Ulama juga manusia. Mereka sama dengan kita. Memiliki pikir dan rasa. Mereka bisa mencintai sama seperti kita. Hanya saja dengan kualitas ilmu yang mendalam serta ketaatan pada Allah swt, mereka bisa menempatkan rasa cinta sesuai tempatnya.

Salah satu kisah menarik datang dari seorang ulama. Petikan kisah hidupnya beberapa hari belakangan berseliweran di media sosial. Rupa-rupanya kisah singkatnya juga saya temukan di Buku Manajemen Waktu Para Ulama karya Syaikh Abdul Fattah. Dia adalah Syekh Abu Yusuf Al-Qadhi Al-Almu’i, murid dari Imam Abu Hanifah.

Syekh Abu Yusuf merupakan seorang yang cerdas dan mulia. Ia rajin duduk di majelis Imam Abu Hanifah. Secara rutin hal itu dilakukannya selama 17 tahun. Dalam catatan lain dikatakan ia melakukannya selama 29 tahun. Ia tak pernah salat zuhur kecuali bersama gurunya. Bahkan ia tak pernah luput membersamai gurunya untuk salat Idul Fitri dan Idul Adha, kecuali jika sakit.

Suatu saat putra Syekh Abu Yusuf meninggal dunia bersamaan dirinya sedang berada di majelis ilmu. Ayo tebak kira-kira apa yang dilakukannya?

Menjadi Keluarga Ibrahim Zaman Now

 

https://id.pinterest.com/pin/439452876110668903/


Sepanjang sejarah umat manusia, tercatat keluarga Nabi Ibrahim as menjadi salah satu yang terbaik. Suami, istri dan anak sama ketaatannya pada Allah swt. Setengah mati setan berusaha menggoda mereka agar berpaling dari ketaatan, namun mereka bergeming. Luar biasa.

Kisah ketaatan Ibrahim as, Siti Hajar dan Ismail as berupa peristiwa-peristiwa yang menjadi latar belakang Idul Adha diulang setiap tahunnya oleh umat Islam. Namun sepertinya umat ini belum benar-benar mengambil pelajaran dari kisah mereka. Kini sudah saatnya umat Islam memetik hikmah dari keluarga Ibrahim as. Saatnya menciptakan keluarga-keluarga masa kini yang berkarakter sebagaimana keluarga Ibrahim as. Setidaknya ada tiga karakter keluarga Ibrahim yang dapat diwujudkan oleh keluarga masa kini.